Ajakan Shalat Danish

1797 Kata
Sudah seperti layangan tanpa tali. Terbang kemana saja tanpa arah terbawa hembusan angin. Tak tau kemana jalan pulang dan kemana harus pulang. Tak punya rumah sendiri, atau pun rumah orang tua. Tak ada tujuan, itulah kehidupanku dulu. Maka dari itu, sekarang aku banting tulang agar bisa membangun istana sendiri. Khayalan yang cukup tinggi. Tapi itu kulakukan agar Athaya bisa menemukan tempat untuk pulang. Tak ingin Athaya merasakan apa yang pernah kualami sejak kecil. Sebagian gaji bulanan kusisihkan demi mencicil matrial, aku bertekad. Rumah impian itu bisa membuat Athaya nyaman untuk tinggal kelak. "Aku harus kuat, demi Thaya." Aku menyemangati diri sendiri. *** Satu minggu full shift malam. Setiap hari rasa kantuk mendera, tubuh terasa kaku dan tak enak. Begitulah resiko yang didapat jika sudah masuk shift malam. Selepas mandi, langsung menubruk bantal dan selimut yang sudah melambai, tak butuh menit untukku tidur lelap. Benar-benar melelahkan, hari ini, aku pasti bangun selepas dzuhur. "Bu, Ibu bangun!" Terdengar samar suara Athaya merengek. Pegangan kecil tangannya menggerakkan lenganku. "Engh? Kenapa, Nak?" tanyaku dengan suara agak serak. Aku membuka mata, meskipun dipaksakan. Athaya sedikit menangis. "Bu, ayo temenin Thaya beli mainan, di sana ada mobil-mobilan bagus, Bu. Thaya mau itu!" Athaya terus menggerakan tubuhku. "Thaya sama Nenek dulu, ya. Ibu masih ngantuk, Nak." "Tidak mau! Maunya sama Ibu, Thaya tidak mau sama Nenek!" Karena terus mendengar Athaya merengek, dengan kelopak mata masih sulit terbuka, aku pun terbangun. Melihat jam di dinding. Masih pukul 9:30 pagi. Baru satu setengah jam aku tidur. Hanya dengan cuci muka dan ikatan rambut asal, aku keluar kamar, Athaya juga terus merengek dan menarik tanganku. Terlihat Bu Dewi sedang menutup warung di depan rumah. Pakaiannya sudah rapih seperti hendak pergi ke suatu tempat. "Ibu mau ke mana?" tanyaku. "Ibu mau pergi kondangan dulu ke Bu Asri di kampung sebelah. O, ya. Kamu sudah bangun? Pasti Thaya mengganggu tidur kamu," ucap Bu Dewi menjelaskan sekaligus bertanya. "Iya, Bu. Thaya memang sedikit manja kalau aku ada di rumah." Bu Dewi hanya tersenyum. "Terus, Ibu berangkat sama siapa?" "Ibu akan naik ojek di perempatan, kalau kamu masih ngantuk, kamu istirahat saja, biar Thaya Ibu bawa." Aku terdiam sejenak. "Eu ... Bu. Biar aku antar saja, ya. Tunggu sebentar, aku mau ganti baju dulu." "Loh, kamu kan butuh istirahat, Nak?" "Tidak, nanti aku istirahat kalau udah selesai nganterin Ibu." Aku tersenyum. Melesat kedalam kamar dan berganti pakaian. Memang masih terasa kantuk yang teramat, tapi lebih terasa khawatir jika Ibu pergi sendirian. *** Setibanya di tempat tujuan. Kami turun dari motor, Ibu langsung masuk kedalam untuk menemui pemangku hajat. Sedangkan aku sendiri berada di luar sebab Athaya masih merengek. Terpaksa mengikuti kemauannya pergi ke pedagang mainan sebelum menyusul Ibu. "Kamu mau apa, Nak?" tanyaku. "Yang itu." Athaya menunjuk ke sebuah mobil remot mainan. "Tapi mobil itu kan kamu sudah punya, yang lain saja, Ibu beli kalai kamu mau yang lain." "Tidak mau! Maunya itu! Maunya itu!" Athaya semakin kencang menangis. Karena menjadi pusat perhatian, aku pun terpaksa mengiyakan. Dengan harga yang cukup mahal untuk mobil mainan mini. Di tempat seperti ini, apalagi saat anak menangis. Pedagang pasti enggan menurunkan harga. Sebab mereka tau. Kita para orang tua pasti akan menuruti keinginan anaknya. Menggendong Athaya masuk kedalam, tiba-tiba terhenyak saat melihat seseorang yang tak asing tersenyum manis. "Assalamu'alaikum." "Kodok!" Spontan terucap kata itu karena saking kagetnya dia tiba-tiba berdiri di hadapanku. "Kodok? Astagfirullahal'adzim ... itu baru benar." Dia tersenyum. Aku berdecak malas, sampai sekali lagi dia mengucap salam. "Wa'alaikum salam." Aku melengos pergi ke barisan kursi. Ibu terlihat masih asyik mengobrol dengan temannya. "Apa ini anakmu?" tanyanya. "Emh ...." Aku malas menjawab. Memangku Athaya yang tengah memeluk mainan barunya. Padahal sudah tenang rasanya tak bertemu selama satu minggu ini. Tapi hari ini, dia terlihat lagi dan pastinya berceloteh tentang Agama yang sama sekali tak membuatku tertarik. "Mainannya bagus, apa kamu selalu membelikannya?" tanya Danish. Dia duduk di sebelah. Entah sedang apa di sini. Aku tak peduli. "Iyalah, aku punya uang. Aku bisa beli apa pun yang aku mau, termasuk apa yang anakku mau." Aku masih bersikap ketus dan tak memandangnya sedikit pun. "Apa dengan begitu, anakmu bahagia?" "Lihat saja sendiri." "Apa kamu bahagia punya segalanya?" "Jelas." Danish terdiam. Namun sesaat kemudian terdengar lagi perkataannya yang membuatku sedikit tersentuh. "Kau tau? Itu semua hanyalah kesenangan di dunia. Lalu apa arti sebenarnya dunia bagimu? Sedangkan, kita hidup di dunia hanyalah seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon dari terik matahari. Kemudian pergi meninggalkannya setelah itu." Sekarang, aku yang malah patah kata. Aku diam. "Danish, ayo pulang, Umi sudah selesai." Seseorang memanggil. Kami berdua menoleh, terlihat seorang Ibu-Ibu dengan pakaian syar'i menutupi seluruh tubuhnya. Hanya wajah dan telapak tangan yang terlihat. Membawa tas kecil ditangannya. Dia menghampiri kami. Danish menjawab, "Iya, Umi." Wanita yang dipanggil Umi itu menatapku, matanya menyipit di balik kaca mata yang dia pakai. Mungkin karena pakaian yang kukenakan agak terbuka dan tak memakai hijab, rasanya tatapan itu mengisyaratkan ketidaksukaan ... entahlah. "Siapa dia?" tanya Umi. "Temanku, Umi. Kita satu pabrik." Danish beranjak dari duduknya. "Oh ... ayo pulang." Tanpa terucap lagi sepatah kata pun. Wanita itu lantas menarik tangan Danish. Danish mengucap salam. Dan mereka pergi begitu saja. Baiklah ... sekarang aku kesal. Menatapi kepergian mereka dengan mobil pribadi. Semakin bertumpuk pertanyaan di benak, kenapa pemuda itu terus saja mengganggu setiap hari. Mengingatkan ini dan itu, menasihati, bahkan menegur, apa tujuannya? Jika dia memang tertarik padaku, kenapa dia tak mengatakan perasaannya? Dari banyak laki-laki yang sering kutemui. Hanya dia yang gigih menunjukan sikap pedulinya. Apa aku terlalu terlalu percaya diri? Ah, sikapnya sangat membingungkan. *** Karena Athaya terkena demam, dia terus menangis dan rewel semalaman. Meski esok hari harus bekerja, namun tak tega juga kalau harus melibatkan Ibu dalam keadaan seperti ini. Hingga pada akhirnya, aku tak bisa tidur semalaman suntuk karena menjaganya. Pagi harinya berangkat kerja dalam keadaan terpaksa, bagaimana tidak, aku tahu Athaya agak sulit minum obat. Tapi juga tak bisa mengabaikan pekerjaan yang ada. Hanya bisa berharap, Ibu bisa merawatnya dengan baik. Tidak ... aku percaya pada Ibu. Beliau pasti akan menjaga Athaya sebaik mungkin. Sesampainya di tempat kerja, bel masuk berdering tepat pukul 07:15 pagi. Semua berjalan lancar-lancar saja. Tak ada lagi yang kuteriaki, sebab satu minggu kemarin Line kami sudah mencapai target dan bisa membayar hutang. Atas kegigihan mereka yang sudah bekerja keras, bahkan lembur terus-menerus. Sesekali aku memberikan mereka sedikit penyemangat, seperti membelikan minuman/makanan ringan yang kubagikan pada mereka. Agak boros memang, tapi jika bukan karena kerja keras mereka, pasti pagi ini sudah kena semprot Manager Produksi. "Assalamu'alaikum, Bu." "Waalaikum salam, eh, Bu Mila, bikin kaget." Aku mengelus d**a karena kaget melihat kedatangannya. "Astagfirullah, Bu Anika sakit?" tanyanya. "Hah? Tidak, memang kenapa?" "Itu ... mukanya pucat, loh," katanya lagi. Aku tak menjawab, memang agak kurang enak badan, pasti karena tak tidur semalaman. "Alhamdulillah, akhirnya Bu Anika bisa bernapas lega juga ya, pasti lagi seneng," ucap Mila. Dia berkata seraya menulis target minggu kemarin yang ada di catatanku. Seseorang berpipi chubby dan berkulit putih bersih itu adalah Mila, teman SMA dulu. Dia bekerja di bagian GA, di office lebih tepatnya. Entah kenapa, nasib kami sedikit berbeda, meskipun kami berdua masuk bersamaan, Mila lebih beruntung mendapatkan bagian di office tempat yang ber-AC dan pastinya takkan mengeluarkan keringat setetes pun. Sedangkan aku? Jangan tanya. "Seneng kenapa? Tidak ... biasa saja." Aku tersenyum simpul. "Masa? Bukannya kalau sampai target, itu berarti ada kemungkinan hari ini tidak lembur, siapa sih yang tidak senang pulang sore," ucapnya sedikit tersenyum. Aku terkekeh kecil. "Bisa aja, O, ya. Tumben Bu Mila yang ke sini? Biasanya Bu Tari." "Iya, pagi ini Bu Tari udah sibuk, soalnya ada yang mau dia urus katanya." Mila menutup buku. Pekerjaannya pun selesai. Aku hanya mengangguk, tak sengaja pandangan menjurus pada seseorang yang tengah berjalan menghampiri kami. "Bu, maaf, ada barang yang habis. Apa Ibu bisa ambilkan di Warehouse?" tanya salah satu bawahanku. "Oh, iya, sekarang kamu terusin dengan barang yang ada dulu, nanti saya cek apa aja yang mau abis. Biar sekalian." Setelah berpisah dengan Mila dan mengecek beberapa barang di Line, aku berjalan menuju Warehouse. Melihat deretan box yang berada di rak-rak tinggi. Ada banyak barang yang kupesan. Tinggal menunggu orang Warehouse yang mengantarkannya ke Line ku. Namun, saat hendak kembali langkahku tiba-tiba terhenti saat melihat seseorang yang juga berada di tempat yang sama. "Ya ampun kamu lagi!" Aku mendengkus kesal, benar-benar malas bertemu dengannya sepagi ini. "Sudah sering kukatakan, aku akan terus mengganggumu setiap saat." Danish tersenyum. Dia mengikuti langkahku meninggalkan jalanan kecil yang dihimpit dua rak besar. Tempat ini sepi, memang hanya ada sedikit karyawan. Dan yang boleh masuk pun hanya karyawan tertentu yang memiliki izin. "Bosen! Lagian ... ngapain sih anak Enginering ada di sini? Ini tuh bukan tempat kamu," ucapku tanpa basa-basi dan mengenyahkan jabatannya yang diatasku. "Aku sedang ada perlu dengan Staf Warehouse, dan tak sengaja melihatmu di sini. Jadi, kuputuskan menghampirimu kesini." "Tidak penting." "Hanya sebentar saja, aku ingin bicara." Aku menatapnya tajam. Mencari tahu apa yang ingin dia bicarakan. Ah, paling tentang agama lagi. Pikirku. "Siang nanti, apa kau mau salat berjama'ah dengan yang lain?" Sudah kuduga. "Tidak mau. Minggir ... aku mau lewat." "Sekali saja, aku yakin kamu bisa merasakan perbedaan dalam diri kamu." Danish menghentikan langkahku. Sekali lagi menatapnya tanpa celah, aku menunjukan bahwa tak menyukai sikapnya. Tapi dia juga terlihat tak akan mundur. "Merasakan apa? Apa bedanya kalau aku salat atau tidak? Tidak ada juga kan?" "Kamu akan merasakan Allah SWT itu dekat dengan orang-orang yang beriman, dengan kamu salat dan berdoa, insya Allah, Allah akan menunjukan jalan yang terbaik buat kamu." "O, ya? Tapi menurut aku tidak." "Kenapa?" "Kamu pikir aku tidak pernah salat?" "Nika, bukan itu maksud aku ...." "Aku bekum selesai!" Aku menyela perkataannya. "Dulu, aku pernah salat lima waktu, meskipun tidak ada satu pun orang yang ngajarin aku bacaan salat. Meski aku tidak pernah mengerti apa arti dari bacaan yang selalu aku baca." Danish mulai diam saat aku berkata. Tak peduli dia akan jijik padaku atau tidak. "Tapi apa? Allah ngambil segalanya dari aku! Ibuku pergi jauh! Adikku meninggal! Ayahku hampir gila karena itu! Kedua orang tuaku cerai tiga taun lalu! Dan parahnya, Allah ngambil seseorang yang aku cintai! Allah ngambil Wingky dari aku! Terus alasan apalagi supaya aku beriman pada-Nya?! Apa?! Allah itu tidak adil sama aku, Danish!" Aku mulai tak bisa mengatur napas, sesak mendera, mata mulai berkaca-kaca. Emosi terlampiaskan pada Danish yang masih diam dihadapanku. "Dan sekarang ... aku lupa bacaan itu. Apa kau puas?" Danish masih terdiam ditempatnya, meski raut wajahnya terlihat kaget. Tapi dia benar-benar tak berkata. Aku pun berbalik arah membelakanginya dengan air mata yang sudah mengalir, tak bisa kupungkiri betapa sakitnya hati berkata demikian. Tapi kenyataannya membuat segala pemikiranku berubah. "Kalau kamu memang tau segalanya, beri aku satu alasan supaya aku bisa meyakini-Nya lagi," ucapku kemudian berjalan meninggalkannya, kini aku pergi dengan berbagai perasaan yang mengganjal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN