Pernikahanku Dengan Danish

2444 Kata
"Ya Allah, kamu tahan sebentar, Nika." Dia mengeratkan lingkaran tangannya di tubuhku. "Pak, tolong, sebelum kita membawanya ke rumah sakit." Aku menyembunyikan wajah di jaketnya, wewangian maskulin yang dia pakai terhirup. Sekali lagi, isakan tangis semakin menjadi saat merasakan tanganku di urut oleh seseorang. Aku menjerit seraya menggigit jaket laki-laki yang tak ku kenal ini. Semakin menangis dan mengeluarkan seluruh rasa sakit. Ini sakit. Sangat sakit. Tapi ini jauh jika dibandingkan perih yang kurasakan di hati. Ibu ... apakah berdosa jika aku membencinya? Kata itu terngiang di telinga. Tak bisa lagi membedakan kasih sayang seorang Ibu, sekarang yang kurasakan adalah kebencian. Benci, kenapa semua ini harus terjadi padaku. Membencinya, karena dia terus saja mengejar dunia di luar sana. Ibu mengabaikan dan menggantikan posisiku dengan dunianya. Melupakan kewajiban dan menganggap kebahagiaanku cukup dengan uang. Sedangkan yang kuharapkan adalah kasih sayangnya, senyumnya setiap hari serta pelukan hangatnya. Hanya itu, tak lebih dari itu. "Jahat ...." Aku meremas jaket laki-laki itu dan terus menangis, sekarang tangisanku bukan lagi berasal dari fisik, melainkan batin yang terasa tertusuk seribu pisau bila diibaratkan. "Nika, apa kamu bisa berjalan? Ayo kuantar kamu ke rumah sakit." Laki-laki itu bicara setelah ia melilitkan sapu tangan berlapis di pergelangan tanganku. Kulepaskan pegangan pada jaketnya dengan masih terisak. Tulang pergelangan tanganku yang bergeser tadi sudah lembali normal setelah diurut. Dan laki-laki itulah yang melilitkan sapu tangannya. Ini masih terasa sakit, bahkan setelah melihat, ternyata banyak luka di sekujur tubuh. Jeans dan baju lengan panjang yang kupakai pun robek hingga menimbulkan luka di kulit. Orang-orang juga sudah membubarkan diri, karena laki-laki itu berkata akan bertanggung jawab terhadapku. Yang ingin kutabrak tadi juga sudah kabur entah kemana, kecelakaan tunggal yang kualami ini. Benar-benar menyempurnakan kesedihan yang kurasa. "Nika?" Aku menoleh lagi ke arahnya, mengusap jejak air mata di pipi untuk lebih jelas melihat siapa yang sejak tadi menolongku. "K-kamu?" tanyaku heran. Kulihat sosok laki-laki berjaket yang tadi memeluk erat tubuhku. Seseorang yang tadi berteriak meminta bantuan. Dan seseorang yang juga tak kusadari telah memeluknya. Dia adalah Danish. "Pak, apa bisa saya meminta bantuan Bapak sekali lagi?" tanya Danish pada seseorang berseragam hitam yang tengah berdiri di dekat kami. "Boleh, Den." "Tolong Bapak bawa motor Anika ke bengkel, saya akan antar Anika ke rumah sakit dulu. Sesudah itu Bapak kabari saya lagi." "Tapi, Den ... Ibu." Laki-laki berseragam itu tampak ragu. "Nanti saya nelpon Umi. Kalau Umi bertanya, ceritakan saja yang sejujurnya. Saya bersama Anika," jelas Danish. Laki-laki berseragam itu hanya mengangguk. Mengucap salam setelah itu pergi. Danish pun kembali menatapku yang masih terdiam karena heran dengan sikapnya ini. "Lebih baik, kita langsung kerumah sakit, Nika. Supaya kamu bisa mendapat perawatan dengan baik. Ayo," ucap Danish seraya meraih satu lenganku. "Aku tidak butuh bantuan kamu," jawabku ketus menepiskan tangannya. Mencoba berdiri dengan tenaga yang tersisa. Tapi nyatanya berkali-kali jatuh karena kaki masih bergetar. "Nika, aku cuma ingin membantumu." Danish kembali meraih tanganku. "Lepasin aku!" "Nika?" Terjatuh yang kesekian kalinya, semuanya jadi gelap. *** Saat tersadar, aku sudah berada di rumah sakit dan ditangani oleh dokter, pertama masih merasa heran, kenapa aku bisa berada di sini. Namun, setelah teringat semuanya, pasti Danish yang membawaku ketempat ini. Setelah diperiksa dokter dan memastikan keadaanku baik-baik saja. Danish masih berada di samping menemaniku. Aku pun memintanya tak memberi tahu Bu Dewi, karena tak ingin membuatnya khawatir. Dokter juga memperbolehkan pulang hari ini juga setelah menjelaskan hal apa saja untuk penanganan lenganku berikutnya. "Maaf, biar aku membantumu," ucap Danish. Aku tak menjawab, namun menerima pertolongannya. Danish dengan sabarnya memapahku menuju mobil. "Ah ...." "Kenapa?" "Sakit." Aku berhenti di tengah jalan, memegangi lutut yang terasa ngilu saat dibawa melangkah. "Apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Danish. Tak kujawab, mengangguk pun tidak. Sedangkan tanpa persetujuanku, Danish langsung membopong tubuhku di kedua tangannya. "Turunuin! Aku bisa sendiri!" Aku membentaknya keras dan berontak ingin turun. Danish menoleh. "Dasar keras kepala. Bahkan dalam keadaan sakit. Kau masih tetap galak." Mengerjap berkali-kali, meyakinkan diri sendiri menatap Danish yang mulai berjalan membawaku ke dalam mobilnya. Apa ini benar Danish? Setelah mendudukkanku perlahan di dalam mobil, Danish berlari kecil dan mengambil kemudi. Masih merasa heran, tanpa diduga lagi Danish melepaskan jaketnya dan menyelimuti sebagian tubuhku sebelum menyalakan mesin mobil. "Maaf, ini demi keselamatanmu." Danish pun memakaikan sabuk pengaman setelah meminta izin. Aku menelan saliva. Merapatkan tubuh kebelakang menghindari sentuhannya yang juga berhati-hati "Sudah." Danish tersenyum tipis. Dia menyalakan mesin mobil dan fokus menyetir. Aku tak berkata apa-apa. Membenarkan posisi duduk dan menatap kedepan. Jalanan aspal lengang, kendaraan sedikit yang berlalu lalang. Orang-orang pasti sudah masuk ke rumah masing-masing karena ini hampir datang waktu isya. Ditambah, tampatku kecelakaan tadi juga di apit oleh perkebunan karet yang menghampar luas. Tiba-tiba teringat lagi perkataan Ibu tadi di telpon. Ucapannya, suaranya dan semua yang dia ucapkan semakin terngiang. Sungguh ... aku tak bisa mengerti, bahkan mungkin takkan ada satu orang pun yang mengerti. Kenapa Ibu lebih memilih jauh dariku dalam waktu yang cukup lama. "Nika?" "Apa?" Aku mengahpus air mata yang lagi-lagi keluar tanpa bisa tertahan. "Kamu menangis. Apa tanganmu semakin sakit? Aku akan ngebut sedikit supaya kita cepat sampai," ucap Danish. Dengan nada tinggi, aku membentaknya keras. "Iya! Ayo ngebut! Ngebut yang kencang, habis itu tabrakan mobilnya supaya aku mati sekalian! Dengan kamu menolongku, malah membuatku jadi tambah pusing! Kenapa sih, hari ini masalah terus datang?! Termasuk bertemu kamu!" "Apa kau mengajakku mati bersamamu?" "Hah?" "Aku tidak mau," jawab Danish dengan santai seraya masih menyetir. "Lagi pula, apa kau tidak ingat Athaya di rumah? Kalau kamu mati, siapa yang akan menjaganya?" Aku terkejut dengan perkataannya, namun mencoba mengalihkan pembicaraan. "Hh! Geer banget. Lagian, kenapa juga kamu so nolongin aku? Bukannya kata kamu kita itu bukan mukhrim?" "Ya, kamu memang benar, karena kamu, aku sudah melanggar aturan," jawab Danish. "Terus, kenapa kamu nolongin aku? Sekarang kamu pasti menyesal, kan?" "Itu juga benar, aku memang menyesal. Lalu apa yang harus aku lakukan? Membiarkan calon istriku disentuh orang lain?" Danish menjawab dengan masih fokus menyetir. "Danish! Kamu tuh ya ... ish!" Entah kenapa jadi kesal sendiri melihat kelakuannya, aku marah-marah panjang lebar seperti jalan kereta, tapi dia terlihat biasa-biasa saja, aku menghentakkan kaki dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Hening beberapa saat setelah percakapan terakhir. "Nika, aku memang tidak tau apa masalah yang kamu hadapi. Aku hanya ingin mengatakan, apa pun masalah kamu, hadapi dengan kesabaran. Sebab, Allah akan bersama orang-orang yang sabar menghadapi ujian-Nya." "Sabar? Percuma, tetap saja hidupku seperti ini ... tidak adil," jawabku tanpa menoleh. Sebenarnya hati merasa yakin dengan apa yang dikatakan Danish. Tapi kenapa, setiap aku mencari keadilan terus saja ada hal yang membuatku ragu. "Kamu akan menemukan kebahagiaan itu, Nika ... percayalah. Berdoalah disetiap salatmu. Karena aku yakin, Allah masih ada di hati kamu. Saat ini, kamu enggan mempercayai-Nya, sebab tak ada lagi yang bisa kamu salahkan atas kehidupanmu." Aku diam. *** Keesokan harinya. Yah ... Hari ini datang. Hari dimana aku melepas status janda yang kusandang selama hampir dua tahun lebih. Saat terbangun, aku bahkan tak mengira sama sekali hari ini akan kulewati. Menikah dengan seseorang yang begitu mendadak ingin menikahiku dengan tanpa saling mengenal terlebih dahulu. "Apa pengantinnya sudah siap?" tanya Bu Dewi. Dengan sedikit kaku, aku menoleh karena mendengar suaranya. Seseorang di depan pun juga tengah memoles wajahku dengan make-up. Setelah dia memasangkan sebuah jilbab putih syar'inya. "Sudah, Bu." Dia menutup semua alat make-up nya wanita yang tadi meriasku kembali membetulkan jilbab yang kukenakan. Ini benar-benar begitu sederhana, pakaian serba putih membalut tubuhku dari atas rambut hingga ujung kaki. Tak ada yang tertampilkan lagi kecuali telapak tangan dan wajah. Baru kali ini aku memakai pakaian seperti ini. Bahkan baru sepuluh menit memakainya, keringat sudah merembes di balik pakaian. Mungkin karena aku tak terbiasa. "Masya Allah ... cantiknya," ucap Bu Dewi yang duduk di tempat tidur menghadap ke arahku. Aku tersenyum tipis, mengalihkan pandangan ke bawah. Tak berani menatap sorot mata Bu Dewi yang begitu bahagia. "Bu, apa keputusan yang aku ambil ini udah bener? Kenapa sekarang aku malah ragu?" tanyaku. "Kenapa?" "Aku masih mencintai Wingky sampai detik ini, tidak pernah aku berpikir sebelumnya kalau aku akan menikah lagi. Apa aku bisa memperlakukan Danish seperti saat aku bersama Wingky? Bagaimana pernikahanku nanti kedepannya, Bu? Sedangkan aku sama sekali tidak tau bagaimana sifat Danish." "Kamu adalah wanita baik-baik, Nika. Allah, sudah memilihkan seorang laki-laki soleh dan baik akhlaqnya," jawab Bu Dewi seraya mengusap pipi dan mengarahkan wajahku yang menunduk, Bu Dewi tersenyum manis. "Ibu yakin, lambat laun kamu akan menerima Danish sebagai suami, lebih dari perasaan cinta terhadap seorang laki-laki." Tak kuasa menahan tangis, air mata pecah begitu saja. Kesedihan menjalar di hati. Melepas segala yang ada, dan menggantikan yang lalu. Bu Dewi memeluk erat tubuhku. "Aku sayang sama Ibu," lirih. Aku membalas pelukannya. "Iya ... Ibu tau, karena Ibu juga menyayangimu lebih dari yang kamu tahu, Nika." Aku masih terisak menangis. "Meski nanti kamu tinggal jauh dari Ibu, tapi doa Ibu akan selalu menyertaimu, Nak. Kamu boleh datang ke rumah ini kapan pun yang kamu inginkan. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu." Bu Dewi mengusap buliran air yang terus keluar dari mataku. Tapi air mata ini semakin deras mengalir, manamungkin aku bisa menerimanya dengan mudah. Karena dengan menikah lagi, sekarang aku akan memiliki Ibu mertua baru. Dan pastinya, aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru juga. Sekali lagi aku memeluknya, mencium aroma wanginya yang khas. Perih menusuk hati, namun hari ini tak mungkin juga kulewati begitu saja. Kini hanya ungkapan maaf dan terima kasih padanya yang bisa kuucapkan. Karena dia, aku mendapat apa yang tak pernah kudapatkan dari orang lain. Nasi sudah menjdi bubur. Keputusan sudah diambil setelah memikirkan berbagai hal. Termasuk demi kebaikan Athaya, anak semata wayang yang sangat kusayangi. *** Proses penikahan sederhanaku berjalan dengan lancar dan khidmat. Dengan menggunakan bahasa arab, Danish mengucapkan ijab qabul dengan lancar. Banyak keluarganya yang datang, dan mereka semua terlihat bukan dari kalangan biasa. Mobil-mobil mewah berjejer memenuhi sampai ke halaman rumah tetangga. Tak diduga, tamu undangan yang datang melebihi perkiraan. Teman satu pekerjaanku dan Danish pun datang, tak terkecuali Iqbal. "Kamu kenapa?" tanya Danish. "Emh ... tidak, tidak ada apa-apa, Dan." Aku sedikit menjauhinya. Jujur, aku belum terbiasa dengan keadaan ini, meskipun diantara kami berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri. "Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja, ya," ucap Danish lagi. "Hai," ucap seseorang menyapa kami. Aku menoleh. Ternyata Iqbal yang datang dengan membawa Athaya di gendongannya. Aku tersenyum dan langsung berdiri. "Thaya?!" ucapku seraya meraih Athaya dari tangan Iqbal. "Kamu habis dari mana sih, Nak? Ibu nyari kamu dari tadi." "Thaya abis main sama Om Iqbal, Bu." "Maaf ya, tadi tidak sengaja kulihat Thaya menangis di depan, jadi aku ajak dia main dulu. Jadi malah bikin khawatir," ucap Iqbal. "Tidak apa-apa, justru aku yang harusnya bilang terima kasih, karena kamu sudah mengantar Thaya ke sini." Iqbal mengangguk. "sama-sama. O, ya, selamat ya, akhirnya kalian berdua udah resmi jadi suami istri," ucapnya lagi seraya mengulurkan satu tangannya ke arahku. Namun, belum sempat membalas salamnya, Danish tiba-tiba menyerobot dan membalas salam dari Iqbal. "Sama-sama, terima kasih juga karena kamu sudah bersedia datang," ucap Danish. Aku menoleh, melihat ekspresi wajah Iqbal yang agak kaku namun sebaliknya dengan Danish yang biasa-biasa saja. Mereka berdua pun ngobrol sebentar, dan sesudah itu Iqbal pergi dengan tanpa bersalaman tangan denganku. Ada sedikit kesal dalam hati, apa Danish cemburu? Kenapa dia tak mengijinkaku bersalaman dengan Iqbal. Padahal dia harusnya tau aku dan Iqbal adalah teman dekat. Cukup lama kami berdua duduk menjadi raja dan ratu sehari. Lama-kelamaan aku mulai bosan juga, keringat juga sudah semakin mengucur di balik pakaian. Rasa tak nyaman dan gerah membuatku semakin risih dengan pakaian yang kukenakan. "Danish, aku ingin pergi ke kamar dulu sebentar, pakaianku agak kurang nyaman," ucapku pada Danish. "Apa perlu bantuanku?" "Jangan! Tidak usah!" Aku sedikit berteriak, menahan tawaran Danish. Kulihat mata sebagian orang tertuju pada kami. "Aku bisa sendiri," ucapku lagi. "Nika, tapi tangan kamu masih belum sembuh betul. Apa akan baik-baik saja?" "I-iya," jawabku singkat seraya mengajak Athaya juga. Aku pun berjalan menuju kamar, melewati deretan tamu dengan senyuman dipaksakan. Kadang tatapan mereka begitu mengisyaratkan sesuatu. Tapi aku masih berpikir positif karena tak begitu mengenal mereka. Kututup pintu rapat-rapat dan menghela napas bersandar di daun pintu. Lega rasanya sudah berada di dalam kamar. Athaya pun langsung berlari kecil menaiki tempat tidur yang sudah ditata sedemikian rupa agar terlihat cantik dan indah. Warna putih mendominasi kamar ini, dengan sedikit tatanan bunga yang menempel di dinding. Aku memembuka jilbab yang kukenakan. "Thaya, jangan loncat-loncat, Nak, nanti jatuh," ucapku pada Athaya yang tengah meloncat-loncat di atas kasur. "Kasurnya bagus, Ibu! Thaya suka!" serunya. Aku hanya tersenyum. Anak itu memang begitu aktif dan lincah. Terkadang, aku bahkan kewalahan mengasuhnya. Namun dengan begitu, rasa lelahku hilang karena melihat tawa riangnya. Saat hendak melangkah, tiba-tiba mendengar percakapan di luar yang sedikit mengalihkan perhatianku dari Athaya. Terdengar dua orang yang tengah bicara seperti berbisik di balik pintu. "Umi, sudahlah. Jangan diperdebatkan lagi, bukannya kita sudah membicarakan ini sebelumnya," ucap seorang laki-laki. Aku pun mendekat, menempelkan telinga di pintu. Ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Karena mereka berdua terdengar sedikit bertengkar. "Tapi Abi, Umi malu! Malu! Apa Abi tidak dengar kata Bu Yasmin, dia dengar dari tetangga di sini, kalau menantu kita ini kelakuannya tidak baik. Sering menimbulkan fitnah di rumah tangga orang. Bahkan berjilbab pun tidak! Gimana Umi mau bisa terima, Bi?!" Seorang wanita berkata dengan nada marah. Terpaku mendengarkan ucapan mereka, itu pasti pembicaraan antara kedua orang tua Danish. Mereka berdua sedang membicarakan menantu barunya, yaitu aku. "Umi, tolong jangan dibahas di sini. Tak enak jika didengar orang, biarkan saja orang ingin berkata apa. Kita harus menghargai siapa pun pilihan Danish." "Tidak! Umi sudah kecewa sejak awal. Harusnya, tak Umi biarkan Danish memilih wanita ini." Kedua orang tua itu terus berdebat, tak ingin kalah dan terus mempertahankan pendapat masing-masing. Hanya bisa menjadi pendengar, entah digambarkan seperti apa hatiku saat ini. Berusaha menahan tangis yang ingin keluar lagi dari mata. Jelas sekali pertengkaran mereka terjadi karena pernikahan ini, karena aku menikah dengan Danish. Sampai beberapa saat kemudian, aku mendengar seseorang bicara. "Maaf, Umi. Kalau keputusanku membuat Umi kecewa. Tapi aku tidak akan goyah meski Umi melarang. Karena aku yakin, Anika adalah wanita baik-baik. Dengan aku menikahinya, itu berarti aku sudah siap dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Aku akan menerima Anika dalam keadaan apa pun. Aku akan bertanggung jawab terhadap istri dan anakku mulai saat ini. Seperti yang Abi dan Umi ajarkan padaku." "Danish! Kamu--" "Sudah, Umi! Istighfar, Astagfirullahal'adzim." Mereka semakin bertengkar, aku malah heran heran dengan perkataan Danish. Apa tadi dia membelaku? Kenapa? "Sekali lagi, aku minta maaf, Umi. Assalamu'alaikum." Setelah mengatakan salam, aku yang berada di tempat terperanjat saat tiba-tiba pintu yang kusandari terbuka. Mata masih terbuka lebar seiring terbukanya pitu dan memperlihatkan seorang laki-laki di hadapanku. "Danish ...." Dia hanya tersenyum manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN