Kemampuan pedangku tak sebaik memanahku, tapi tak apalah aku lakukan yang aku bisa saja, batin Song Lianyu.
Song Lianyu mengambil salah satu pedang yang ada di dalam kotak, lalu kembali ke posisinya yang semula.
Berselang beberapa detik kemudian muncul seorang wanita dengan jarak satu meter dari Lianyu.
"Nona Song, berhubung kau masuk untuk seleksi terakhiran. Jadi, dia yang akan bertanding denganmu," ujar guru Bai menjelaskan. Ya, di awal anak-anak melakukan seleksi dengan melawan calon murid yang lain.
Wanita yang tak diketahui siapa namanya itu membungkukkan badan sebelum mulai bertanding sebagai tanda hormat pada lawan. Untuk cara ini hanya dilakukan pada lawan dan bukan musuh. Kalau dengan musuh pastinya tidak memakai membungkuk terlebih dahulu.
Di awal pertandingan Song Lianyu banyak menghindar sehingga membuat guru Bai merasa heran kenapa Nona Song hanya menghindar saja? Dia sempat menduga Nona Song tak bisa menyerang, namun dia kemudian berpikir lagi mungkin saja Nona Song punya teknik yang berbeda.
Lianyu menatap lawannya yang terus saja melancarkan perlawanan, sedangkan gadis itu terus saja mundur dan mengelak dari pedang yang mengincar kekalahannya.
Aku tak bisa terus menghindar begini, batin Song Lianyu mulai berpikir.
"Kenapa kau terus menghindar dari serangan ku? Membosankan sekali!" ujar wanita yang memiliki rambut yang berwarna pirang itu dengan nada jengah dan juga kesal. Bayangkan saja sudah lima belas menit berlalu dan si lawan masih saja terus menghindar.