Miniera - 7

1619 Kata
Setelah menyetujui keinginan Alexa, kini Reon harus melatih gadis itu dengan sedikit menahan diri. Bukan karena postur tubuh Alexa yang menggoda, tetapi kemampuan Alexa yang di luar dugaannya. Dalam hati Reon, ia sungguh ingin memberitahu jika tidak seharusnya Alexa dilatih olehnya. 'Kemampuan menggunakan senjata sudah sangat luar biasa, lalu aku harus melatih apa lagi?' batin Reon. "Paman, bagaimana tembakanku?" tanya Alexa. "Nona, apa kau tidak salah meminta aku melatih dirimu? sebaiknya kau berlatih bersama Gary atau Elias," ujar Reon. "Hmm, Baiklah kalau begitu. Aku akan minta Daddy untuk melatihku saja," celetuk Alexa. Reon membulatkan matanya, lalu kembali melanjutkan latihan mereka. 'Kenapa anak ini sangat keras kepala?' batin Reon lagi. Alexa melihat Reon yang sedang melamun. Lalu tiba-tiba saja Alexa membidik sesuatu yang tepat berada di belakang Reon. DOR Reon kembali terkejut, lalu ia menelan ludahnya dengan kasar. Pria itu ingin sekali mengumpat saat ini ,jika saja Alexa bukanlah anak Hunt. "Kau mengabaikan aku, Paman." Seketika Reon menatap tajam pada Alexa. Reon melangkah meninggalkan Alexa di ruang latihan. Sementara itu Luca dan Alvard lah yang kini menjadi sasaran empuk dari kemarahan Alexa. Emosi Alexa saat ini memang sedang tidak stabil. Beberapa kali keinginannya di tolak oleh Hunt karena alasan kesehatannya. Hingga kini Alexa masih bersikeras untuk pergi dari mansion. Malam hari ,setelah latihan itu berakhir. Alexa mengenakan pakaian berbahan latek, dengan warna hitam agar tidak terlihat saat berada di kegelapan. Gadis itu menyusup keluar dari mansion tanpa sepengetahuan siapapun. Sayangnya hal itu tidak berlaku pada cyborg bernama Roger. Sensor untuk mendeteksi milik Roger sangat kuat, hingga akhirnya cyborg itu menghadang Alexa saat sampai di perbatasan. "Kau dilarang untuk keluar dari mansion malam ini," ujar Roger. "Kau tidak berhak menghalangi aku! Cepat menyingkir!" titah Alexa. "Tidak bisa, perintah yang sudah diturunkan akan aku laksanakan. Meski kau memberontak sekalipun." Alexa berlari menghindari Roger, tetapi kecepatannya memang diluar batas manusia normal. Roger dapat dengan mudah menyusul Alexa. Bahkan seberapa cepat gadis itu berlari, hal itu akan menjadi sia-sia. Hingga akhirnya Roger memberikan tembakan peringatan pada Alexa. "Argh!" teriak Alexa yang terkejut dan akhirnya terjatuh. Roger melangkah mendekati Alexa, hingga akhirnya seseorang menyerangnya agar menjauhi Alexa. Tubuh cyborg itu terpental jauh hingga menabrak sebuah pohon besar. BRAK "Nona, kau baik-baik saja?" tanya Luca. "Ya, aku baik-baik saja." Luca menatap Roger yang berusaha bangkit setelah tertimbun pohon yang tumbang karena dirinya. Luca menggendong tubuh Alexa dan membawanya menuju mansion utama. Namun, saat Luca ingin melangkah, Roger melepaskan tembakan hingga mengenai punggung Luca. Saat itu juga Luca melepaskan gendongannya dan membuat Alexa kembali terjatuh. "Argh." Perkelahian akhirnya terjadi diantara keduanya, tanpa melihat kondisi Alexa yang kini mengalami luka pada bagian tangan dan wajahnya. Luca kembali menyerang Roger dengan tangan kosong. Beberapa kali ia melakukan serangan jarak dekat, dengan melempar tubuh Roger hingga menumbangkan beberapa pohon di sana. BRAK BUGH Kini Luca terlempar, dan di saat itu juga Roger mengeluarkan senjata. Namun, saat cyborg itu akan menyerang Luca, tiba-tiba saja sistemnya mati.  Roger terjatuh dan tidak sadarkan diri karena seseorang tengah mematikan sistemnya. "Nona, kau baik-baik saja?" tanya Luca. "Iya." "Kau akan pergi kemana?" "Alexa!" Suara yang sangat dikenal gadis itu. Keduanya menengok keasal suara lalu mereka berusaha untuk bangkit.  Hunt berjalan mendekati keduanya, lalu tanpa banyak bicara ,pria itu meraih tubuh anaknya dan membawa Alexa kembali ke mansion utama. "Daddy," panggil Alexa lirih. "Kau terluka." "Hanya luka kecil," ujar Alexa. "Tanganmu patah, sayang. Apa itu yang kau maksud dengan baik-baik saja?" "Aku hanya tidak ingin kau khawatir, Dad." "Kau akan pergi kemana?" tanya Hunt. "A-aku ingin pergi ... ehm," ucap Alexa dengan menundukkan kepalanya. "Kau hampir membuat ibumu membunuhku, jika ia mengetahui hal ini," ujar Hunt. "Mommy dimana?" tanya Alexa. "Ibumu sedang beristirahat, tubuhnya terlalu lelah dua hari ini," jelas Hunt. "Begitu rupanya." Sampai di mansion, Hunt langsung mengantar putrinya itu sampai di dalam kamar. Pria bertubuh kekar itu merebahkan Alexa di atas ranjang, lalu mengecup keningnya sekilas. Setelah itu, Hunt memanggil seorang pelayan wanita untuk membantu mengobati luka yang diderita oleh Alexa. Sedangkan untuk tangan yang patah, Hunt menyuruh Alvard untuk mengobatinya. "Dad, maaf sudah berulah," ucap Alexa menyesal. "Besok pagi aku akan menunggumu di ruang kerja," ujar Hunt. "Iya." Hunt melangkah keluar dari kamar Alexa, kembali ke kamar tempat istrinya berada. Sementara itu Alvard sudah siap dengan alat medis miliknya untuk menyembuhkan tangan Alexa. Anak laki-laki itu mengeluarkan sebuah alat yang  bisa memancarkan sebuah sensor untuk mendeteksi tulang pada tubuh manusia maupun makhluk hidup lainnya. "Untung hanya retak, aku akan mengobatinya dengan segera," ujar Alvard. Alexa hanya terdiam menahan rasa nyeri pada tangan kanannya. Ia juga melihat Luca yang tengah berdiri di pintu, menyaksikan Alvard sedang mengobati Alexa. Pemandangan itu membuat Luca sedikit merasa sakit hati karena tidak bisa menjaga Alexa dengan benar. Bahkan sensor miliknya tidak dapat mendeteksi kepergian Alexa saat itu.  *** Luca pergi dari sana, kini ia menuju ke mansion Fjord milik Darren untuk menyampaikan suatu hal. Saat Luca masuk ke dalam gerbang Fjord, seorang cyborg menghadang Luca dan menahannya di sana hingga Cloud datang. "Ada apa?" tanya Cloud. "Dimana Darren?" tanya Luca. "Tuan Muda sedang tidak bisa diganggu," jelas Cloud. "Ini tentang Alexa." Setelah menyebut nama Alexa, akhirnya Cloud menerima perintah untuk mengizinkan Luca masuk ke dalam mansion. Saat sudah berada di dalam mansion, Cloud mengantarkan Luca menuju kamar Darren. Di kamar itu, mata Luca terlihat terkejut, Darren tengah berbaring di atas renjang, dengan alat infus yang tertancap di tangannya. Dan anak laki-laki itu sedang bertelanjang d**a dengan balutan perban di bagian perutnya. "Apa yang terjadi?" tanya Luca. "Apa yang ingin kau sampaikan tentang Alexa?" Bukannya menjawab, Darren justru bertanya mengenai adiknya. "Semalam Nona Alexa mencoba melarikan diri dari mansion, sensor milikku tidak dapat mendeteksi kepergiannya, sialnya, Roger yang menangkap sinyal itu. Hampir saja cyborg sialan itu membunuh Nona," jelas Luca. "Lalu? Bagaimana kondisi Alexa saat ini?" tanya Darren. "Tangan kanannya retak, dan beberapa luka memar karena menerima serangan dari cyborg itu," terang Luca lagi. "Cloud, hubungi Daddy! Aku akan menarik cyborg itu dan sedikit mengubah sistemnya." Cloud yang menerima perintah langsung menghubungi mansion utama. Ia menyampaikan apa yang dikatakan oleh Darren. Namun, sayang sekali Hunt menolak hal itu. Darren terlihat kesal saat mengetahui jika Ayahnya tidak menyetujui tentang re-program yang akan ia lakukan pada roger. "Darren, bisakah kau menyempurnakan sensor milikku? Tentu saja jika kondisimu sudah baik," tanya Luca. "Cloud dapat melakukannya, kau bisa ikut Cloud menuju laboratorium milikku," terang Darren. "Terima kasih." Setelah itu Cloud bersama Luca menuju laboratorium Darren yang berada di bagian belakang, tepatnya di sisi selatan mansion utama. Sebuah ruangan dengan dinding yang terbuat dari campuran baja dan juga material bangunan lainnya.  Kunci utama kekuatan dinding beton ini terletak pada serat baja yang digunakan dalam campurannya. Kekuatan beton serat baja ini lebih kuat hingga 10 kali dari beton berisi potongan-potongan baja. Sehingga membuat laboratorium itu terlindungi dari serangan rudal sekalipun. Saat berada di depan pintu baja itu, Cloud memindai tangannya agar dapat masuk ke dalam sana. Ya, pintu itu menggunakan teknologi pemindaian sidik jari dan juga retina mata. Dan hanya dua orang saja yang dapat membuka pintu, tentu saja mereka adalah Darren dan Cloud. Cloud menyuruh Luca untuk berbaring di atas tempat tidur dengan posisi menelungkup. Cyborg itu mengeluarkan chip dari tengkuk Luca, dan membuat Luca tidak sadarkan diri. Cloud membenahi sistem sensor pada chip itu agar dapat bekerja lebih baik dari sebelumnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa menit untuk melakukan hal itu. Hingga akhirnya Cloud mengembalikan chip itu ke dalam tubuh Luca.  "Bangunlah," ucap Cloud. "Terima kasih." Keduanya kembali menghampiri Darren yang masih berada di dalam kamar. Namun, diluar perkiraan ,Darren sudah mengenakan pakaian lengkap dengan selang infus yang masih menancap di tangannya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Luca bingung. "Apa? Tentu saja aku ingin menemui adik kesayanganku itu," ujar Darren. Luca mengerutkan dahinya mendengar ucapan Darren yang terdengar santai itu.  "Ayo pergi!" ucap Darren melewati Luca. "Sejak kapan selang infus itu terlepas?" gumam Luca. "Kau pikir aku anak kecil yang akan menangis saat tanganku terluka karena jarum?" celoteh Darren. "Dasar aneh!" celetuk Luca. Keduanya berada di dalam satu mobil. Mereka kembali menuju mansion utama untuk melihat kondisi Alexa saat ini. Selama perjalanan, Darren dan Luca hanya terdiam. masing-masing dari mereka tengah berkutat dengan ponsel yang ada di genggamannya.  "Apa kau sedang menyerang seseorang?" tanya Luca. "Kau akan tahu nanti." "Hei, Bianca lumayan ... kenapa kau tidak mencoba berhubungan dengannya?" "Sudah kulakukan." "Apa?" "Sebelum kau mengatakan hal ini, beberapa menit lalu aku sudah berhubungan dengannya, hanya saja Bianca akan berakhir menjadi bonekaku," ujar Darren sembari tersenyum miring. "Kau sangat mengerikan," celetuk Luca. "Tidak hanya kau yang mengucapkan kalimat itu, dan aku sudah terbiasa dengan penilaian orang." "Bianca masih terlalu kecil untuk kau jadikan boneka saat ini," ujar Luca. "Siapa bilang akan menjadikan Bianca boneka saat ini juga? Sepertinya aku lupa membuat otakmu sedikit pintar," celetuk Darren. Luca yang mendengar kalimat terakhir Darren hanya bersikap biasa saja. Ia memilih untuk diam daripada harus berdebat dengan anak jenius itu. Sampai di mansion utama, Darren melihat Roger tengah berdiri di dekat gerbang dengan sedikit modifikasi yang dilakukan oleh Reon. Ya, Roger tidak di lengkapi dengan senjata lagi. Cyborg itu akan menjadi seorang penjaga dengan mengandalkan kemampuannya. Mobil mereka berhenti tepat di halaman depan mansion, di sana Hunt sudah berdiri menunggu mereka. Di belakang akhirnya muncul Alexa dengan tangan yang masih harus menggunakan sebuah penyangga. "Kakak," panggil Alexa. Darren tersenyum mendengar panggilan dari adiknya itu, ia melangkah mendekati Alexa dengan menyapa Hunt terlebih dahulu. "Dad." "Kau terluka, kenapa kau kemari?" tanya Hunt. "Aku khawatir pada Alexa, apa aku tidak boleh mengunjunginya?" "Lukamu lebih parah dari Alexa, seharusnya kau memperhatikan dirimu daripada orang lain," omel Hunt. "Ayolah, Dad. Aku akan beristirahat di kamarku setelah ini," ujar Darren. "Jangan sampai ibumu tahu tentang luka itu, atau kau akan benar-benar tidak diizinkan untuk kembali ke mansion Fjord," ujar Hunt dengan tegas. "Baiklah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN