Miniera - 9

1646 Kata
Sudah satu minggu Alexa berada di mansion milik Darren. Gadis itu hanya berlatih menggunakan pedang dan juga baretta. Darren hanya bisa melihat perkembangan Alexa selama satu minggu ini, karena ia sendiri juga sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Latihan itu ia lakukan bersama Cloud atau Troy, karena hanya mereka yang dekat dengan Alexa. Sementara Cyborg dan Mutan lainnya tidak begitu bisa dikendalikan karena hanya digunakan untuk penjagaan mansion saja. Pagi ini, saat Alexa membuka mata, ia tidak menemukan Darren dimana pun. Rasa kesal ia tunjukkan dengan menyerang Cloud saat latihan dimulai. "Nona, jika kau melakukannya dengan amarah, kau akan dengan mudah kalah," ujar Cloud. "Aku tidak peduli," ujar Alexa. Ia masih terus menyerang Cloud, hingga akhirnya senjata cyborg itu melukai lengan Alexa. Cloud merasa bersalah pada gadis itu, dan menghentikan latihannya. "Nona, aku akan mengobati luka itu," ujar Cloud. "Tidak perlu, biarkan saja," ucap Alexa. "Nona, luka itu sangat berbahaya, karena ada racun didalam senjata milikku," jelas Cloud. Sayangnya, baru saja Cloud mengatakan hal itu. Alexa sudah jatuh pingsan, dengan darah yang terus mengalir dari lengannya. Cloud dengan segera membawa Alexa ke laboratorium untuk diobati.  Cyborg itu menghubungi Darren untuk segera kembali ke mansion. Karena diluar dugaan, racun itu menyebar dengan cepat. Wajah Alexa terlihat pucat, dengan suhu tubuh yang semakin menurun.Tidak lama kemudian, Cloud terpaksa memanggil Troy untuk membantunya. "Kenapa Nona Muda seperti ini?" tanya Troy. "Ia terkena racun yang ada di dalam senjata milikku," jelas Cloud. "Bodoh! Bagaimana bisa hal itu terjadi? Apa kau menyerangnya?" tanya Troy. "Aku tidak sengaja, karena Nona terus menyerangku, aku juga tidak tahu kenapa ia melakukannya," terang Cloud lagi. Troy dengan segera menyuntikkan YoungLin pada Alexa. Lalu keduanya menunggu hasil dari penawar yang diberikan. BRAK "Al!" seru Darren yang masuk dengan wajah panik. Pria itu berlari mendekati Alexa, tangannya menyentuh tubuh Alexa yang sedang tergeletak lemah.  "Tuan Muda," panggil Cloud. Darren tidak menggubris panggilan Cloud, pria itu justru membawa Alexa menuju kamarnya. Di dalam kamar, Darren memasang jarum infus pada tangan kanan Alexa. Ia juga memberikan obat lain untuk Alexa agar dapat menghilangkan racun dari dalam tubuhnya. "Maaf," gumam Darren. *** Keesokan harinya, kondisi Alexa sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Entah kenapa gadis itu terlihat sangat emosi jika Darren tidak ada di sampingnya. Darren merasa jika perasaannya akan terbalas jika mereka melanggar aturan. Sejak Alexa tidak sadarkan diri, Darren dengan setia menemaninya hingga akhirnya gadis itu perlahan menggerakkan tangannya. "Al ... kau sudah sadar?" tanya Darren. "Ka-kak ... aku kenapa?" "Kau terkena racun dari senjata milik Cloud, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyerang Cloud?" tanya Darren memastikan. "Maaf," jawab Alexa menyesal. "Sudahlah, apa masih terasa sakit? Atau kau merasa pusing?"  "Tidak, aku hanya merasa lapar, kak." "Baiklah, aku akan membawakan makanan untukmu." Darren beranjak dari tempatnya menuju dapur. Ia menyuruh pelayan disana untuk menyiapkan makanan. Lalu setelah selesai, Darren membawa makanan itu pada Alexa. Dengan sabar Darren merawat adiknya itu, ia juga menyuapi Alexa hingga makanan itu habis tidak tersisa. "Tuan Muda, Luca dan Alvard mencoba untuk masuk," ujar Troy dari earpiece yang dikenakan Darren. "Biarkan mereka masuk," jawab Darren. "Baik, Tuan Muda." Alexa memiringkan kepalanya, menunggu Darren menjelaskan apa yang terjadi. "Luca dan Alvard datang untuk menjemput dirimu," jelas Darren. "Ya, sudah terlalu lama aku di sini." "Kau bisa datang kemari setiap saat, karena aku akan selalu tahu dimana kau berada," ujar Darren. "Aku tahu ,kak." Beberapa menit kemudian, Luca dan Alvard terlihat masuk ke dalam kamar. Mereka terlihat panik saat mengetahui jika keadaan LAexa sedang tidak baik. Keduanya menunggu penjelasan dari darren mengenai hal itu ,hingga akhirnya Alexa sendiri yang menjelaskan pada mereka. Darren membantu Alexa untuk melepaskan jarum infus yang tertancap di tangan kanannya. Ia juga kembali memberikan YoungLin pada Alexa agar daya tahan tubuh adiknya itu semakin kuat. "Kau sudah siap pergi?" tanya Darren. "Iya, Kakak tidak ikut dengan kami?" "Tidak, aku akan ke sana jika pekerjaanku sudah selesai," jelas Darren. "Baiklah, aku pulang dulu," pamit Alexa. Akhirnya Alexa dan kedua pria yang mengawalnya pergi dari mansion. Mereka melaju dengan diikuti dua cyborg untuk menjaga Alexa selama perjalanan. *** Di mansion, Alexa masih melanjutkan latihannya bersama Luca dan juga Alvard. Beberapa waktu ini gadis itu menyukai katana, ia bahkan mengoleksi katana di dalam kamarnya. Tidak hanya itu, ALexa juga memiliki banyak baretta dengan keunggulan yang berbeda-beda.  Cara menembak Alexa juga tidak diragukan, ia dapat membidik lawannya dari jarak lima dua puluh meter sekalipun. Latihan yang dilakukan juga tidak hanya di dalam mansion. Beberapa kali Alexa keluar mansion bersama Luca untuk berlatih di dalam hutan.  Kali ini Alexa sudah memutuskan untuk pergi berkeliling dunia, gadis itu beralasan ingin mengetahui dunia luar selain di Amerika. Namun, keputusan besar itu masih tidak ada yang mengetahui selain Hunt dan Paula. Alexa memiliki rencana untuk membuat ketiga pria yang selalu berada di dekatnya itu sedikit menjaga jarak. Tentu saja hal itu akan membuat ketiga pria itu kecewa dan akan sakit hati.  Alexa sedang berada di sebuah taman yang ada di sisi timur mansion. Ia sedang duduk bersama Luca, dengan posisi kepala yang bersandar pada bahu pria itu. Luca merasa ada yang aneh pada Alexa, tetapi ia tidak bisa mendeteksi hal itu dengan jelas.  "Luca ... apa kau sungguh mencintai aku?" tanya Alexa. "Kenapa kau menanyakan hal yang sudah kau ketahui?" "Karena aku ingin memastiakn hal itu, aku tidak ingin kau salah mengambil keputusan dengan mencintai aku," ujar Alexa. "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Luca. "Tidak ada, aku hanya ingin memastikan saja, apa itu salah?" "Tidak." Alexa menatap Luca dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Perlahan Luca mendekatkan wajah hingga tidak ada jarak diantara kedua pasangan itu. Luca mencium Alexa dengan sangat lembut, dan menjadi ciuman pertama dari keduanya. Setelah beberapa detik, Luca melepaskan ciuman itu, dengan mata yang terlihat sayu keduanya saling menundukkan kepala.  "Maaf," ucap Luca. "Luca ... aku juga mencintaimu, tetapi aku tidak ingin melukai siapapun diantara kalian," ujar Alexa. "Nona, kami mencintaimu ,tetapi kami menghargai semua keputusan yang akan kau ambil. Siapapun yang nantinya dapat menjadi pendamping dalam hidupmu, kami akan menerimanya," terang Luca. Alexa terdiam mendengar penuturan Luca. Dalam hati Alexa, ia tidak bisa membiarkan semua seperti ini. Tidak untuk Luca ,Alvard, dan juga Darren. Gadis itu sungguh tidak ingin menyakiti diantara ketiganya dengan memilih salah satu diantara mereka. Beberapa hari berlalu, Darren tidak menemui Alexa beberapa waktu ini karena kesibukannya, hingga akhirnya ,Alexa terbangun di sebuah kamar dengan merasakan sesuatu tengah menimpa bagian perutnya. Perlahan irisnya terbuka, ia menatap pada seseorang yang kini terlelap di sampingnya. Alexa mengusap lembut wajah lelaki itu, lalu mengecup keningnya. "Kenapa kau bangun? Tidurlah lagi, aku masih ingin bersamamu," ujar lelaki itu. "Kakak, jangan seperti anak kecil! Cepat bangun, aku sudah lapar," ujar Alexa. "Tidak, aku masih ingin memelukmu." "Baiklah, lima menit lagi. Setelah itu aku harus mendapatkan makanan untuk mengisi perutku." "Baiklah." Darren kembali memejamkan matanya, ia semakin mempererat pelukannya, seakan tidak ingin membagi adiknya itu untuk orang lain. Setelah lima menit, Darren melepaskan Alexa, dan membiarkan gadis itu membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.  Setelah lima belas menit berlalu, Alexa keluar hanya dengan mengenakan kimono. Ia berjalan menuju walk in closet untuk mengenakan pakaian. Ya, di dalam kamar itu sudah tertata lengkap barang milik Alexa. Darren mendekati adiknya lalu memeluknya lagi dari belakang. "Kakak, seharusnya kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini," ujar Alexa. "Aku tahu, maaf karena sudah mencintaimu," ujar Darren. "Kau tahu, aku lebih takut denganmu dari pada Luca dan Alvard. Mereka juga sama-sama gilanya," jelas Alexa. "Aku tidak mengizinkan siapapun menyentuh tubuhmu, kenapa kau izinkan mereka?" "Ayolah, kakak. Aku milik kalian semua, jangan memperebutkan diriku, seakan aku ini sebuah barang." Darren berdecak kesal, ia melepaskan tubuh adiknya lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Alexa menghela napasnya, selesai mengenakan pakaian, Alexa berjalan keluar dari kamar. Gadis itu berjalan menuju dapur, beruntung Darren mempekerjakan seorang asisten rumah. Jika tidak, pasti ia akan kelaparan saat ini.  "Kenapa kau makan tidak menunggu aku?" tanya Darren. "Kau terlalu lama di dalam kamar mandi, aku sudah kelaparan!" ujar Alexa. Ceklek "Alexa!" teriak Alvard. "Berani sekali ia datang ke mansion ini," ujar Darren kesal. "Aku tidak ingin kalian bertengkar, setelah makanan ini habis ,aku akan kembali ke mansion utama," ujar Alexa. Darren hanya berdecak kesal mendengar ucapan adiknya itu. Saat melihat Alvard mulai mendekat, Darren langsung saja berdiri untuk menghalangi lelaki itu. "Kau masuk ke dalam wilayahku! Jangan harap kau bisa menyentuh Alexa di sini!" ancam Darren. Alvard terkekeh mendengar ancaman Darren.  "Sayang, aku akan menunggu di depan," ucap Alvard. Lelaki itu memilih untuk pergi dari saja, dan menghindari keributan dengan Darren. Sementara Alexa masih menikmati hidangan yang sedang memanjakan indera pengecapnya. Darren duduk di samping Alexa, dengan menatap gadis itu dalam.  "Jangan melihat diriku seperti itu, kau sungguh membuat aku takut ,Kak!" ujar Alexa. "Kenapa kau harus pulang sekarang?" tanya Darren. "Aku akan melakukan perjalanan ke benua Asia selama satu tahun. Mommy dan Daddy sudah mengizinkan aku untuk pergi," jelas Alexa. "Apa! Dengan siapa kau pergi?" "Aku akan pergi sendiri ,Kak. Aku ingin menikmati liburan sendiri," jelas Alexa lagi. "Apa kau ingin menghindari kami bertiga?" tanya Darren. "Tidak, Kakak. Sungguh ... aku sudah merencanakan semua ini sejak lama, dan Mommy tahu hal itu," terangnya. Darren menghela napas kasar, ia beranjak dari tempatnya, dan sebelum melangkah pergi, ia meninggalkan pesan untuk Alexa. "Aku akan selalu menjaga dirimu, dimanapun kau berada." "Terima kasih, Kakak. Baiklah, aku harus pulang sekarang," ujar Alexa sembari beranjak dari tempatnya. Alexa meraih lengan Darren untuk menemaninya berjalan menuju pintu utama. Di sana, sudah ada Alvard yang berdiri di depan mobil. Lelaki itu tersenyum melihat gadis pujaan hatinya berjalan mendekatinya. Sementara di sisi lain, tatapan ingin membunuh sudah Darren lakukan sejak melihat Alvard. Darren mencium Alexa di depan Alvard, dengan sedikit memainkan bibir adiknya itu ,dan membuat Alexa terkekeh karena geli. "Cukup ,Kak. Kau tidak akan bisa membuat Alvard cemburu." Darren membuka pintu mobil dan mempersilakan adiknya untuk masuk. Sementara Alvard kini sudah berada di kursi kemudi. Akhirnya mobil itu melaju menuju mansion utama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN