"Kemarilah." Devan merangkul Aluna, membawanya ke titik berdiri untuk menembak. "Sejajarkan senjatamu, gunakan mata dominan, lihat pembidik, konsentrasi.." Aluna mengikuti apa yang diberitahu Devan. Setelah siap, ia menarik pelatuk. Peluru melesat keluar, namun tidak mengenai sasaran. "Ini memang tidak semudah itu. Cobalah lagi," ujar Devan. Aluna mencoba lagi. Karena gagal mengenai sasaran, ia jadi kesal dan tidak bisa konsentrasi. "Kau tidak boleh terburu-buru." Devan memegang tangan Aluna yang memegang pistol, "Saat memegang senjata, kau harus tenang, atau senjata itu akan melukai dirimu sendiri." Mereka menarik pelatuk bersamaan. Peluru yang melesat mengenai sasaran. Aluna tersenyum senang saat melihatnya. "Mery, kau lihat, kan? Aku juga bisa melakukannya !" Aluna menyombongkan

