Hendra bekerja dengan sangat pikiran terus saja fokus tanpa memikirkan apa pun. Jika dirinya sudah berada di kantor, dapat dipastikan Hendra akan melupakan semua masalahnya, hanya satu yang bisa membuyarkan pikirannya dalam bekerja. Yaitu anak semata wayangnya, Asila dan kedua orang tuanya. Selain tiga orang itu Hendra selalu mengesampingkan semua hal yang membuat otaknya berputar. Dan kali ini dia hanya fokus dengan pekerjaannya saja. Tak lama saat jam makan siang telah datang. Hendra masih saja bergumam dengan layar laptopnya. Pandangannya begitu sangat serius. Seseorang mengetuk pintu ruangannya. Dilihatnya sang sekretaris masuk dengan membawa sesuatu di dalam paper bag. Dia berjalan menuju ke arah sang atasan. Berhias senyum dengan kehati-hatiannya. “Pak Hendra, ini ada kiriman pake

