Part 8 – Kosong

1884 Kata

Hati berdesir lirih. Membuncah perasaan abstrak. Bulir-bulit pertanyaan itu luruh. Ketika Mahendra mengangkat sebuah telepon dari nomor tak dikenalnya itu. memadang pendengaran dengan sebaik-baiknya. Pandangannya tertuju hanya pada satu objek saja. “Selamat pagi Bapak Aditya Mahendra.” “Selamat pagi.” “Perkenalkan, Saya Gustav Wibowo, pengacara dari Ibu Rosma.” Mendengar nama istri di sebut. seolah sebuah guratan penuh makna itu terlihat di raut wajah Hendra. Matanya berotasi. setiap inci ruang hatinya seakan ingin kembali terisi oleh wanita yang teramat dicintainya itu. “Ada perlu apa?” “Apa surat saya sudah sampai? Terkait pengurusan perceraian saudarai Rosmalina. Mohon kerja samanya, Pak. Agar proses ini bisa berjalan dengan baik.” Perkataan sang pengacara membuat Hendra menutup

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN