Hati Nirmala seakan bergidik tak ingin hanya diam dan bersembunyi di dalam kamarnya. Nirmala terus saja membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di ruang tamu itu. Pikirannya melayang tanpa henti. Nirmala bergidik, memutar otaknya untuk bisa mengikuti apa yang diinginkan hatinya. “Asila, ini bisa diwarnai dulu ya, mama mau ke belakang sebentar.” “Mama mau ke mana?” “Emmm ... mama buatkan s**u Asila dulu, ya.” “Baik, Ma.” “Ingat ya, Asila harus mengerjakan Prnya di dalam kamar, tidak keluar kamar sebelum mama kembali, karena anak pintar selalu mengerjakan sesuatu dengan tanggung jawab.” “Iya, Ma.” Nirmala segera keluar dari kamar Asila. Langkah kakinya dengan cepat menuju ke ruang tamu. Pandangan matanya nanar. Manik matanya terasa sangat basah. Apa yang dilihatnya itu sangat menyaya

