17

1112 Kata
"Maaas, wah tumben bisa ke sini jam segini, apa di galery tidak ramai?" tanya Livia. Adam tersenyum, mendekati Livia, mencium ujung kepalanya Livia dan berusaha bersikap wajar meski sebal pada Candra yang tetap duduk di dekat Livia meski ia sudah menatapnya sejak tadi dengan tatapan tajam. "Ada yang menggantikan, kan ada anak magang di sana, kenalkan Livia, ini Feyna," ujar Adam dan Livia tersenyum, sempat melirik Candra sekilas yang tiba-tiba bangkit. "Aku pergi dulu Livi, nanti aku balik lagi ya," "Nggak usah balik, sudah ada yang nungguin," sahut Livia dan Candra berdecak sebal. "Terserah kamu, pokoknya aku tetap ke sini," Candra berlalu tanpa melihat Feyna dan Adam. Feyna menunduk dengan mata berkaca-kaca. "Sabarlah kak, maklum bungsu kali ya, meski sudah berprofesi dokter, kadang dia kayak anak-anak, dia sayang kok sama kak Fey, hanya dia ingin kak Fey lebih memperhatikan dia, mungkin dia merasa karir kak Fey lebih bagus hingga dia kayak nggak mau tersaingi, biasalah ego laki-laki kan kadang nggak mau wanitanya lebih dominan," sahut Livia dan Feyna hanya mengangguk. "Sejak awal dia memang sulit orangnya, hanya dia mau mencoba, tapi masalahnya kan aku kerja di rumah sakit papa dan aku juga melanjutkan ke spesialis jadi memang sibuk banget, kadang jadwal kami yang sama-sama sibuk nggak bisa bertemu," ujar Fey mencoba menjelaskan. "Yah trus kapan ketemunya kalau sama-sama sibuk?" tanya Livia. "Mungkin lebih baik kamu kurangi jadwal di ruah sakit papamu, atau selama kamu masih ambil spesialis ya mengundurkan diri saja dulu. Jadi fokus ke kuliah kamu, dan mulailah lagi mendekatinya," ujar Adam. "Iyah benar kak, ayo semangat kak, Livia juga bujuk-bujuk Candra loh agar balikan sama kakak," ujar Livia tersenyum. "Apalagi kakak kan didukung sama mamanya, yang penting usaha terus deketin Candra lagi," ujar Livia mengusap tangan Feyna yang berada di dekatnya. "Kok kamu tahu?" tanya Feyna kaget. "Mamanya ke sini kak, ke aku," sahut Livia. "Dan Candra tahu jika mamanya ke sini?" tanya Feyna lagi. "Aku juga nggak nyangka Candra tahu kalau mamanya ke sini, tadi dia ke sini nanyain itu, ternyata Candra tahu ya karena pas mamanya ke luar dari ruangan ini nah si Candra paaaas banget berada di depan pintu kamarku, gitu Candra bilangnya, dia maksa banget mamanya ngomong apa aja ya aku jawab singkat kalau mamanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," sahut Livia dengan tanpa beban. "Memang mama Candra bilang apa Livi?" tanya Adam curiga. "Ah nggak papa, biasalah mas kekawatiran orang tua, ingin anaknya hidup dengan pasangan yang sepadan," jawab Livia berusaha tersenyum. "Pasti dia melecehkan statusmu," ujar Adam lagi. "Nggak lah, aku tidak merasa begitu karena kenyataannya memang kondisiku seperti itu, wajarlah Candra anak bungsu masa dapetin aku yang kayak gini amit-amitlah," Livia berusaha menyamankan suasana. "Itu yang selalu dikeluhkan Candra, awal-awal kami jalan dia sempat curhat, jika wanita pilihannya nggak pernah cocok ke mamanya, sebenarnya dia menyenangkan hanya ya itu, dia maunya diperhatikan, maklum bungsu kali ya?" ujar Feyna. "Tapi aku punya andil salah juga, aku yang sibuk, kadang aku maksa Candra menemui aku pas aku nggak sibuk ya intinya kami sama-sama kacaulah, aku nggak tahu lagi gimana caranya mengembalikan hubungan kami," ujar Feyna pelan. "Ya usaha dong kak, kasi perhatian, kirim apalah gitu yang sederhana tapi bikin dia ingat kakak," Livia menyarankan dan Adam tersenyum. "Kamu kayak pernah gitu aja, ngasi-ngasi saran kayak pengalaman aja," "Lah ternyata ngasi saran itu lebih gampang dari ngelakuin sendiri," Livia akhirnya tertawa pelan. **** Tiga hari kemudian Livia sudah diperbolehkan pulang,  meski harus tetap istirahat. Dan seminggu kemudian Livia harus memenuhi panggilan dari pihak kepolisian berkenaan dengan kasus percobaan pembunuhan, Livia yang menjadi korban tampak bisa menceritakan kejadian dengan tenang, ditemani Ananta, Devi dan Adam. **** Hingga suatu sore Candra nampak muncul lagi di rumah besar keluarga Ananta. "Bagaimana perkembangannya Livia?" tanya Candra setelah duduk di ruang tamu. "Perkembangan apa, kalau lukaku alhamdulillah semakin baik, hanya ya aku harus menggunakan baju atau kaos lengan panjang ngeri rasanya lihat bekas lukanya," ujar Livia menatap luka di lengannya yang memanjang. "Kamu sendiri gimana?" tanya Candra lagi. "Sehat, ada orang-orang yang mencintaiku, memberiku semangat dan kekuatan untuk melanjutkan hidup, dan yang pasti setelah menikah, aku tidak akan di sini lagi Ndra," ujar Livia dan mata Candra menatap Livia dengan tatapan kaget. "Kau mau ke mana, pindah ke mana?" tanya Candra beruntun. "Jauh dari sini, aku tidak ingin terluka seperti ini lagi Ndra, aku masih ingin membesarkan Biru, melihatnya hidup normal meski jantungnya bermasalah," sahut Livia. "Dan kau akan meninggalkanku?" Candra menatap Livia dengan wajah sedih. "Ndra cobalah mencintai kak Fey dengan benar, ia tulus mencintaimu, kalian pasangan yang serasi, cantik dan tampan, kedudukan sama apalagi yang kamu cari?" tanya Livia. Candra menunduk dan memejamkan matanya lalu mendongak lagi menatap Livia. "Kalaupun aku tidak mendapatkanmu, bukan berarti aku harus kembali padanya, aku akan menunjukkan pada mama bahwa aku tidak seperti kedua kakakku yang menikah dengan pilihan mama tanpa cinta, lalu mereka masih mencari cinta yang lain, itu rumah tangga sakit namanya, terima kasih kau sudah membuat aku mencintaimu Livi, meski kita tidak ditakdirkan bersama setidaknya aku merasakan hal indah saat melihatmu dan berada di sisimu seperti ini," ujar Candra pelan. Livia tersenyum, ada rasa iba melihat wajah sedih Candra. "Semoga kau segera menemukan cintamu Ndra, terima kasih juga sudah merawatku, kita akan tetap berteman," ujar Livia. **** Melihat kondisi Livia yang membaik, maka rencana semula yang akan diundur akhirnya kembali pada rencana awal. Tempat akad dan resepsi menggunakan hall hotel milik Ananta. **** "Seminggu lagi kita akan menikah Livia," ujar Adam di suatu sore, duduk di samping Livia mengelus lengannya yang masih jelas terlihat bekas luka menakutkan itu. "Ada banyak hal yang harus kita syukuri meski kita sempat terombang-ambing saat kau mengalami peristiwa naas itu, kita jadi tahu sebesar apa cinta kita Livia, meski aku yakin kau masih belum sepenuhnya mencintaiku, tapi berkat kejadian itu membuatmu percaya bahwa aku akan selalu di sisimu dalam saat apapun, aku mencintaimu Livia, sangat," Adam meraih tangan Livia dan menciumnya. "Kau mau belajar mencintaiku?" tanya Adam dan Livia mengangguk. "Yah aku akan belajar mas, belajar mencintai mas dengan tulus, setelah semua yang mas lakukan untuk Livi dan Biru," ujar Livia dengan mata berkaca-kaca. "Satu hal lagi Livia, setelah ini kita akan pindah ke Ubud, tapi yang jadi masalah ibu tidak mau ikut, aku jadi resah membiarkannya sendiri," ujar Adam. "Kita bisa sebulan sekali menengok ibu mas," sahut Livia dan Adam menggeleng. "Aku tidak mau kau dan Biru lelah," ujar Adam dan merengkuh bahu Livia mendekat ke badannya. "Aku dan Biru tidak harus selalu ikut mas," ujar Livia dan Adam terlihat sedih. "Aku akan cari cara lain untuk membujuk ibu, aku tidak ingin masalah ini menganggu kehidupan rumah tangga kita, kau, Biru dan ibu sama pentingnya bagiku," Adam menghela napas, sesekali mencium ujung kepala Livia. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN