Kini Arslan sudah duduk di ruang tengah rumahnya. Dia sudah kehabisan energi untuk marah-marah pada sang Ayah. Tidak, sebenarnya hanya hampir marah. Kini emosinya mereda setelah sang Ibu mendudukkan dia dengan tenang. Arslan menghirup nafas panjang dan menatap tidak percaya pada Cokro Gimawan yang sedang berdiri dengan tidak percaya diri di hadapan anaknya. "Seriously, Ayah. Kau hanya bercanda?", seru Arslan penuh penekanan. Cokro Gimawan mengangguk, "Tentu, Ars. Siapa yang tidak menyukai Ellen?!? Dia gadis tercantik dan terbaik untukmu. Demi Tuhan, aku sangat menyukai kepribadiannya. Dia sangat pantas mendampingimu. Berprinsip dan pintar." Arslan meletakkan kepalanya di sandaran sofa. Sungguh dia sedang dipermainkan. Dia berucap dengan mata tertutup. "Lalu bercanda itu bukan

