"Usir w************n itu dan jangan pernah biarkan dia menginjakan kaki lagi di rumah ini!" tegas pas Shaka
"Ayah, Sari sedang mengandung anakku, darah dagingku," ucap pak Bram
"Persetan dengannya, besok adalah hari pertunanganmu dengan Hlida Lestari. Kau tidak boleh mengecewakan keluarga ini! Ingat jangan Mengecewakan keluarga ini!" tegas pak Shaka yang kemudian meninggal pak Bram bersama anak buahnya
"Kalian awasi Bram, jika sampai ia melarikan diri. Bunuh saja! Aku tidak butuh anak yang tidak berguna!" tegas pak Shaka
"Baik tuan," jawab seluruh anak buah pak Shaka
***
Bu Sari yang sedang hamil besar telah di kurung disebuah rumah tua, atas perintah pak Shaka, bu Sari sama sekali tidak bisa keluar dari rumah tua itu. Sedangkan pak Bram di kurung di rumah dan di ancam untuk menyetujui pertunangannya dengan Bu Hilda.
"Setiap rasa sakit yang ku rasakan dulu, kalian harus membayarnya seribu kali lipat!" ucap bu Sari yang mengenang masalalunya
***
Susan yang terlihat begitu gembira dengan kedatangan kedua orangtua Bagas, tidak akan pernah menyangka nasib buruk akan menimpanya. Disaat kedua orangtuanya dan kedua orang tua Bagas membahas pertuangan mereka, Bagas sedang asik b******u dengan wanita lain.
"Susan, mana Bagas?" bisi bu Hilda
"Gak tahu mah, katanya mau pergi ke pesta ulangtahun sahabatnya. Dan akan segera kesini," jawab Susan
"Ehem.., Susan jamu mamahnya Bagas," titah pak Bram
Susan hanya melirik ke arah pak Bram dan kemudian menghampiri mamah Bagas untuk menuangkan teh untuknya,
"Silahkan tante," ucap Susan yang memberikan senyuman manis di hadapan bu Siska
"Terimakasih sayang," ucap bu Siska
"Sama-sama tante," ucap Susan yang begitu berusaha terlihat anggun di hadapan calon mertuanya
"Mah mana anak itu?" tanya pak Irman
"Katanya sebentar lagi akan datang," jawab bu Siska
"Memalukan saja, acara sepenting ini malah terlambat," ucap pak Irman
"Anak muda jaman sekarang kan beda pah.., Susan pasti mengertikan," ucap bu Siska
"I-ia tante, Bagas juga sudah memberitahu Susan," ucap Susan
"Lihat, calon menantu kita pun memaklumi," ucap bu Siska
Susan hanya tersenyum dan terus berusaha terlihat baik di hadapan calon mertuanya.
***
Sementara itu Bagas dan Sinta masih b******u mesra,
"Sayang.., aku dengar dari orang rumah.., hari ini kedua orangtua kamu akan datang ke rumah untuk membicarakan pertunangan kamu dan Susan?" ucap Sinta yang bermanja pada Bagas
"Ia sayang," jawab Bagas
"Aku cemburu..," ucap Sinta yang memasang wajah menyedihkan
"Kenapa harus cemburu?" tanya Bagas
"Seharusnya yang bertunangan dengan kamu itu aku," ucap Sinta
"Tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik padanya. Walaupun kami bertunangan atau sampai menikah, aku sama sekali tidak akan pernah tertarik padanya," ucap Bagas
"Benarkah..?" tanya Sinta dengan nada manja
"Tentu saja, karena di hatiku hanya ada kamu seorang," ucap Bagas
"Kalau begitu aku ingin kamu membuktikannya," ucap Sinta yang menatap Bagas
"Bagaimana kamu ingin aku membuktikannya?" tanya Bagas
Sinta mengecup bibir Bagas dan membelai d**a Bagas dengan lemut dan penuh gairah, dan Bagas berbalik menyerangnya.
"Sudah ketagihan ya?" tanya Bagas dengan wajah penuh birahinya
"Malam ini jangan pergi," ucap Sinta yang memeluk Bagas
"Baiklah.., tapi sebagai gantinya, kamu harus terus melayaniku sampai pagi," ucap Bagas
"Dengan senang hati sayang," ucap Sinta
Bagas menghabiskan malamnya di rumah Sinta, sedangkan Susan harus terus menunggunya sampai kedua orangtua Bagas pamit pulang, dan Susan mengantarkan mereka sampai gerbang,
"Jangan sedih Susan, mungkin Bagas terlalu terbawa suasana bersama teman-temannya," ucap bu Siska
"I-ia tante," ucap Susan
"Kamu harus memakluminya," ucap bu Siska
"Tentu tante," ucap Susan
"Kalau begitu om dan tante pamit pulang," ucap Susan
"Ia tante.., hati-hati di jalan," ucap Susan
Akhirnya kedua orang tua Bagas pulang, Susan kembali kedalam rumah dengan terus menatap layar ponselnya dan melihat pesan yang ia kirimkan pada Bagas sama sekali tidak di bacanya, dan Susan sama sekali tidak bisa menghubungi Bagas,
''Kenapa sayang..?" tanya bu Hilda
"Bagas mah.., pesan dari Susan sama sekali tidak di bacanya dan Susan juga tidak bisa menghubunginya," jawab Susan yang terlihat kecewa
"Jangan cemas.., mungkin memang benar Bagas sedang bersama teman-temannya," ucap bu Hilda
"Ia deh mah..," ucap Susan
"Ini sudah larut malam, lebih baik istirahat," ucap bu Hilda
"Ia mah.., mamah pasti lelah seharian ini mempersiapkan jamuan untuk tante Siska dan om Irman," ucap Susan
"Kalau begitu mamah ke kamar dulu, selamat malam sayang," ucap bu Hilda yang beranjak meninggalkan Susan dan pergi ke kamarnya
Susan juga merasa lelah dan kembali ke kamarnya, tapi saat berjalan Susan melewati kamar Sari yang masih terbuka,
"Kemana cewek menyebalkan itu?" tanya Susan yang melihat ke dalam kamar Sinta yang nampak kosong
"Ngapain ngurusin dia!" ucap Susan yang kemudian kembali berjalan menuju kamarnya
Susan tidak tahu bahwa Sinta dan Bagas sedang b******u mesra. Dengan hasrat yang membara Sinta dan Bagas menghabiskan malam mereka. Sedangkan Susan sama sekali tidak bisa menghubungi Bagas, walaupun berkali-kali ia mencoba menelepon Bagas kembali.
***
Pagi hari yang cerah tiba, Sinta kembali ke rumah dengan di antar Bagas.
"Masuklah duluan," ucap Bagas
"Ia sayang," ucap Sinta yang mencium pipi Bagas
Sementara itu Susan baru keluar dari kamarnya dan berpapasan dengan Sinta yang hendak masuk kedalam kamarnya, mereka hanya saling menatap.
"Pa-pagi Susan..," sapa Sinta dengan sopan
"Dari mana aja kamu!?" tanya Susan dengan ketusnya
"A-aku pulang ke rumah mamah," jawab Sinta
"Terus ngapain balik lagi kesini!!" ucap Susan yang menggretak Sinta
"Wa-walau bagaimanapun.., ini juga rumah aku," ucap Sinta
"Sejak kapan rumah ini jadi milik kamu!?" tanya Susan yang terlihat kesal
"Susan.., aku tahu kamu gak suka aku disini. Tapi kita ini saudara..," ucap Sinta yang berpura-pura terlihat sedih
"Aku gak pernah punya saudara seperti kamu!!" teriak Susan
Teriakan Susan terdengar oleh bu Hilda yang sudah bersiap keluar dari kamarnya, bu Hilda langsung menghampiri mereka.
"Ada apa ini?" tanya bu Hilda
"Ini mah.., si anak haram baru balik. Katanya pulang ke rumah mamahnya," jawab Susan
Bu Hilda menatap Sinta,
"Maaf mah, semalam Sinta tidak sempat memberitahu..," ucap Sinta
"Sejak kapan mamahku kamu panggil mamah!! Hanya aku yang berhak memanggilnya mamah!" ucap Susan
Sinta berpura-pura menangis,
"Sinta tahu.., sulit bagi mamah Hilda dan Susan menerima Sinta disini. Tapi Sinta juga tidak bisa berbuat apa-apa.., Sinta juga gak mau mengecewakan papah, saat tahu Sinta punya papah Sinta sangat bahagia. Sinta ingin merasakan kasih sayang papah, setelah sekian lama Sinta hidup dengan mamah. Sinta juga ingin hidup bersama papah," ucap Sinta yang menangis
Bu Hilda terlihat luluh dengan airmata Sinta,
"Apa aku terlalu keras padanya.., anak ini adalah anak haram mas Bram dan Sari. Dia lahir tanpa kehadiran mas Bram. Mungkin dia hanya ingin mwndapatkan kasih sayang seorang ayah," ucap bu Hilda yang merasa kasihan
"Sudahlah jangan menangis, cepat masuk ke kamarmu," ucap bu Hilda
''Sinta benar-benar minta maaf mah," ucap Sinta
"Jangan panggil dia mamah!!" bentak Susan
"Sudah sayang, ayo kita sarapan dulu," ucap bu Hilda yang menahan Susan yang terlihat kesal
"Tapi mah..," ucap Susan
"Sudah ayo kita sarapan dulu, ada yang ingin mamah bicarakan," ucap bu Hilda
"Ya udah ayo..," ucap Susan