"Hari ini jadi buat cari baju pernikahan kan, Yang?" tanya Larissa pada Pandu melalui sambungan teleponnya.
"Jadi kok, Yang. Aku ke kosan kamu jam sebelas siang gimana? Soalnya pagi ini Ana minta dianter ke Bandara Soekarno-Hatta dulu karena ada tugas mendadak untuk terbang ke Makassar pagi ini," balas Pandu dengan suara khas seraknya jika baru saja bangun dari tidurnya.
"Oke nggak papa, Yang. Nanti kalau kamu udah mau on the way ke kosan aku, Jangan lupa kasih kabar dulu ya. Takutnya aku ketiduran atau malahan pas baru diluar kamar. Nanti kamu jadi kelamaan nunggu aku siap-siap deh, hehe" ucap Larissa dengan tawanya.
"Hahaha. Iya deh iya, Yang. Nanti aku telepon kamu aja kalau udah mau on the way dari Bandara Soekarno-Hatta ya. Lumayan kan tuh kamu bisa siap-siap sekitar satu setengah jam kan jadinya," ucap Pandu dengan terkekeh.
"Oke siap, Sayang! Kamu hati-hati ya nyetirnya. Nggak usah ngebut-ngebut pokoknya! kalau udah sampai di Bandara Soekarno-Hatta jangan lupa chat ya! Biar aku nggak jadi khawatir gitu," ucap Larissa dengan tegas dan mendikte.
"Siap, Calon istriku! Nanti aku bakalan santai bawa mobilnya dan kalau udah sampai Bandara Soekarno-Hatta langsung banget ngasih kabar ke kamu deh," balas Pandu dengan sigap dan lembut, "Ya udah, Aku tutup dulu ya si Ana udah ribut minta tolong angkut-angkutin barangnya tuh".
"Hmm. Ya udah deh buruan kamu samperin Ana deh, Yang. Nanti kalau kelamaan malah jadi telat deh ke Bandaranya," ucap Larissa dengan lembut.
"Iya deh. Bye, Sayang!" ucap Pandu dengan semangat dan ceria.
"Bye juga, Sayang!" jawab Larissa dengan lembut dan mematikan handphone nya.
Larissa kemudian langsung bergegas untuk menyelesaikan tumpukan baju menggunung yang belum ia setrika. Setelah selesai menyetrika bajunya, ia memilih untuk mandi terlebih dahulu saja mengingat dia sering memakan waktu lumayan lama dalam melakukan hal tersebut.
"ehm, Pakai baju apa ya?" gumam Larissa dengan melihat isi lemari bajunya.
"Pakai dress ini aja deh. Biar nggak ribet juga buat nanti pas mau nyoba contoh-contoh gaun pernikahan yang ada kali ya?" ucap Larissa sembari menarik satu dress sepanjang lutut berwarna maroon dan meletakkan dress tersebut di atas tempat tidurnya sehingga nanti jika Pandu sudah memberikan kabar on the way dari Bandara Soekarno-Hatta ia bosa langsung segera ganti baju dan memoles wajahnya dengan makeup saja.
Setelah itu ia memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu sembari menunggu kabar dari Pandu. Larissa menghampiri kamar Andira untuk mengajak rekan kosnya tersebut sarapan di warung nasi rames depan kos-kosan mereka.
"Dira! Dir!" panggil Larissa sembari mengetuk pelan pintu kamar di hadapannya.
"Tunggu bentar, Ssa! Langsung masuk aja lu. Kagak gua kunci tuh pintunya," ucap Dira dengan keras dari dalam kamarnya.
Sontak Larissa langsung saja membuka pintu kamar Dira dan terlihat jelas wanita tersebut sedang berada di depan kaca menggambar alisnya.
"Ya ampun, Ra! Kita kan cuma mau makan di warung nasi rames situ doang. Kenapa lu dandan sampai on point banget sih?" ucap Larissa dengan menatap heran kearah temannya tersebut dan kemudian duduk pada kasur Dira.
"Gue habis ini mau ketemu klien jam setengah sepuluh, Njir! Makanya gue sekalian dandan aja dulu. Biar ntar tinggal ganti baju doang gitu lho, Ssa!" ucap Dira dengan kesal dan menggebu-gebu.
"weekend begini lu mau ketemuan sama klien? Gila totalitas tanpa batas ya Anda dalam pencarian cuan," ucap Larissa dengan bertepuk tangan dan menyindir Dira.
"Klien gue ini emang agak rese gitu lah, Ssa. Sukanya buat janji diluar jam hari kerja gitu. Tapi kalau gue tolak bisa-bisa auto didepak dari kantor dah gue. Gue masih butuh cuan buat penunjang kehidupan keluarga nih," ucap Dira dengan geram dan mencebik.
"lu kagak open BO kan Dir?" ucap Larissa dengan gamblang.
"Heh! Pala kau pecah! tuh mulut minta diuleg ye! Sembarangan banget ngomongnya njir!" elak Dira dengan senewen dan menatap tajam kearah Larissa.
"Ya kan gue cuma takutnya aja lu nekat, bun! Secara visi misi lu sekarang kan jadi orang kaya melintir. Makanya sampai kerja lembur bagai kuda lu. Hari libur aja lu jabanin buat meeting sama klien," ucap Larissa dengan santai sembari memeluk bantal milik Dira.
"Terus si Bagas mau gue tinggalin gitu aja! Kagak lah gue mah udah berprinsip menjadi setia dan s*x after married adalah dasar menjali sebuah hubungan yang sehat. Jadi gue usahakan tidak akan ada orang kedua, ketiga, dan seterusnya di hidup gue sampai akhirnya kami melaju ke jenjang yang lebih serius lagi dan begitupun after married kesetiaan itu tetap akan berlanjut," ucap Dira dengan nyolot dan kesal.
"Iye iye dah percaya gue sama si yang paling setia dan suci polos kayak bayi ini," balas Larissa dengan mencibir dan menatap malas Dira.
"Udahlah ayo buruan kita berangkat, Ssa. Ngobrol sama lu bikin darah tinggi dan menguras tenaga banget. Keburu gue telat nih ntar meeting sama kliennya. Bisa-bisa ntar yang ada gue diomelin panjang kali lebar luas tinggi dah sama tuh manusia yang ngeselin minta ampun," ucap Dira sembari mengambil dompetnya pada meja kecil di samping kasur tempat tidurnya.
"Ya udah ayok! Kan gue dari tadi cuma nungguin lu malih!" ucap Larissa dengan sewot dan berdiri dari tempat tidur Dira.
"Lu juga sih pakai memancing percakapan non sense yang bikin gue gedeg tambahan. Kan memicu perdebatan yang alot diantara kita berdua deh jadinya. Makin lama dah gue dandannya," ucap Dira dengan senewen kepada Larissa.
"Iye dah iya. Gue mengaku salah dan kalah. Udah ayok buruan kagak usah ditambah-tambah lagi ributnya. Katanya lu takut telat ketemu klien? Ntar kita lanjutin aja keributan ini di warung nasi rames," ucap Larissa dengan mengangkat kedua tangannya menandakan ia menyerah dengan Larissa.
Setelah selesai sarapan bersama Dira, Larissa langsung bergegas menuju ke dalam kamar kosnya untuk mengetahui kabar dari kekasihnya yang tak lain adalah Pandu karena handphone nya ketinggalan di dalam kamar.
Benar saja ternyata Pandu sudah memberikan kabar kepadanya melalui chat bahwa pria tersebut sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta untuk mengantarkan sang adik perempuan tercintanya. Larissa langsung saja menuju ke kamar mandi untuk menggosok gigi karena ia baru saja selesai sarapan.
Pukul setengah dua belas, akhirnya Pandu tiba di depan kos-kosan Larissa. Larissa yang sudah menunggu pada ruang tamu bersama yang berada di bagian depan bangunan kos-kosannya langsung saja bergegas untuk naik ke mobil kekasihnya itu.
"Hai Sayang!" ucap Pandu menyapa kedatangan Larissa dengan sumringah saat Larissa membuka pintu mobilnya.
"Hai Sayang! Ini langsung berangkat banget, Yang? Kamu nggak capek gitu atau istirahat bentar lah kan barusan perjalanan jauh kan," ucap Larissa sembari menatap ke arah Pandu.
"Masih bisa diatasi kok, Yang. Lagian aku kan dari tadi malam sampai pagi tadi jam delapan udah tidur juga," ucap Pandu dengan lembut dan mengusap rambut Larissa dengan penuh kasih sayang.
"Ya udah deh. Aku ngikut sama Bapak supir yang ganteng ini aja," ucap Larissa sembari menggunakan safety belt pada kursinya.