3. Mikayla

2555 Kata
Dengan perasaan kesal akhirnya aku terpaksa menuruti permintaan Pak Abian untuk menemaninya menikmati muffin yang sudah diletakkan Ari di atas meja tidak jauh dari tempatnya berdiri. Aku melangkah mendekatinya dengan bibir mencebik, tapi tidak bisa menyuarakan protes. Benar-benar menyebalkan. “Udah nggak usah manyun gitu. Bibir kamu nggak seksi sama sekali, yang ada malah mirip bebek,” ejeknya seraya menarik kursi kemudian duduk manis di sana. Sementara aku hanya bisa mendengkus pelan dan memakinya dalam hati. Ya mana aku berani mengata-ngatainya secara langsung. Dosaku sebelum ini saja sudah banyak sekali. “Kamu tuh cuma saya minta temenin makan ini sebentar.” Dia menunjuk pada dua buah muffin cokelat di hadapannya. “Bukannya saya mintain ganti rugi karena bikin saya hampir bangkrut,” lanjutnya santai lalu mulai menggigit muffin pertama. Aku hanya bisa memelotot dengan jantung berdebar kencang mendengar ucapan Pak Abian barusan. Apa kesalahanku waktu itu benar-benar merugikan hotelnya? Apa The Crown benar-benar akan bangkrut? “Masa iya The Crown sampe bangkrut, Pak?” tanyaku panik. Hotel tempatku bekerja dua tahun terakhir itu adalah salah satu jaringan hotel bintang lima terbaik di Indonesia dan Asia Tenggara. Bahkan yang kutahu Pak Abian sedang merencanakan ekspansi ke Cina dan Jepang. Masa manajemen hotel sebesar itu bisa bangkrut dengan mudah hanya karena tidak jadi bekerja sama dengan si Mr. Robert? Eh, sebenarnya kerja sama mereka waktu itu berhasil nggak ya? Apa Mr. Robert benar-benar membatalkan kerja sama karena kecerobohanku? “Kerja sama dengan Mr. Robert nggak berlanjut ya, Pak? Gara-gara saya? Saya waktu itu beneran nggak sengaja,” sesalku. Pak Abian hanya tersenyum miring sambil terus menikmati muffinnya. Tampak menikmati ekspresi nelangsaku. Namun tak lama kemudian dia tertawa. “Astaga Mikayla …” Dia geleng-geleng kepala. “Harusnya tadi kamu lihat sendiri gimana ekspresi wajah kamu. Lucu banget,” cetusnya kemudian terkikik geli. Aku memandangi wajahnya yang masih tertawa geli kemudian menyadari satu hal. Dia menjailiku. Sialan. “Bapak ngerjain saya, ya?” tuduhku dengan wajah yang menunjukkan kekesalan maksimal. Dia kembali tertawa kali ini lebih keras. “Hahaha …” Pak Abi mengusap sudut matanya yang berair, memandangku sekilas lantas kembali tertawa. “Aduh … aduh perut saya keram,” katanya dengan tangan memegangi perut, tapi tetap masih tertawa. “Ya ampun Mikayla, ternyata kamu belum berubah juga, ya. Masih gampang panik dan mudah banget dijailin.” Aku menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Melipat kedua tangan di bawah d**a sambil menatap wajah laki-laki di hadapanku ini dengan bibir terlipat. Hatiku sudah menjeritkan makian untuknya sedari tadi. Dasar bos menyebalkan! Eh, mantan bos maksudku. “Udah puas ngetawain saya, Pak?” sindirku saat melihatnya sudah kembali menikmati muffin kedua. Pak Abian ini bisa dibilang penggemar fanatik muffin, terutama muffin cokelat. Dulu saat masih menjadi sekretarisnya, aku selalu berlangganan muffin cokelat di toko roti yang ada di depan komplek rumah dan membawakannya untuk Pak Abian setiap hari. Dia hanya ingin menikmati muffin dan secangkir teh chamomile saat sedang istirahat di sore hari sebelum pulang. Katanya menikmati muffin dan secangkir teh membuatnya menjadi lebih relaks setelah seharian penuh bekerja. “Saya kan cuma bercanda, kamu aja yang terlalu serius,” elaknya seraya mengatupkan bibir menahan tawa. Aku menatapnya dengan sudut bibir terangkat gemas. Bisa-bisanya dia bilang bercanda sementara aku sudah hampir jantungan menyangka tindakanku waktu itu benar-benar membuatnya bangkrut. “Bapak beneran jadi bangkrut apa enggak sih?” tanyaku keki sekaligus penasaran. “Menurut kamu?” Dia bertanya balik. “Hihh … jawab aja kenapa sih, Pak? Beneran Bapak bangkrut karena saya?” Dia hanya tersenyum tipis. Menatapku dengan kepala dimiringkan. “Ya enggaklah. Nggak jadi kerja sama sama Mr. Robert bukan berarti The Crown lantas bangkrut. Nggak ada gunanya saya dateng di setiap jamuan bisnis kalau nggak bisa menjalin hubungan baik sama pengusaha lain.” Diam-diam aku menghela napas lega. Setidaknya The Crown tidak jadi bangkrut. “Lagian setelah saya ketemu sama Mr. Robert, dia tetap mau lanjutin kerja sama kok. Dia bilang it’s okay karena toh sebenarnya dia sangat menikmati jamuan kita tempo hari. Jarang-jarang bisa makan makanan yang dia suka karena istrinya strict banget soal apa yang boleh dan nggak boleh dimakan. Dia juga cukup terkesan dengan keluwesan kamu menghadapi anaknya yang saat itu sedang rewel banget dan nggak bisa ditinggal. Jadi satu kecerobohan yang cukup fatal itu masih bisa dia maafkan.” Aku hanya mengangguk-angguk senang dengan apa yang disampaikan Pak Abian. Syukurlah kalau memang kerja sama mereka tetap berlanjut dan Mr. Robert tidak dendam padaku. “Kalau nanti Bapak bertemu lagi dengan Mr. Robert, sampaikan maaf dan terima kasih saya ya, Pak.” “Nggak mau,” jawabnya cepat. “Salah sendiri kenapa kamu blokir saya waktu itu? Padahal setelah baca pesan kamu, saya mau bilang kalau kamu nggak perlu resign karena Mr. Robert juga kondisinya baik-baik aja. Tapi ternyata saya langsung diblokir,” sindirnya. Aku hanya bisa meringis mengingat kelakuanku yang sangat tidak sopan. Padahal Pak Abian selalu baik padaku, biarpun kadang menjengkelkan juga. “Saya minta maaf, ya, Pak,” ucapku seraya menundukkan kepala. “Mikayla …” Aku kembali mengangkat kepala perlahan dan melihat Pak Abian menyingkirkan piring dan cangkir yang sudah kosong itu ke samping. Menumpukan kedua tangannya di atas meja kemudian menatapku lurus-lurus. “Sebenarnya kamu kenapa? Apa yang terjadi sampai kamu nggak bisa fokus bekerja dan malah memilih resign?” Aku membuang pandangan ke samping sambil menghela napas dalam. Ini bukan hal yang bisa kuceritakan pada sembarang orang karena menyangkut perasaan terdalamku. Hal yang sangat pribadi untukku. Keluargaku saja tidak ada yang tahu. “Saya nggak bisa cerita, Pak.” Aku tersenyum tipis, berharap Pak Abian bisa mengerti. “Yang pasti saya benar-benar minta maaf untuk semua kekacauan yang terjadi. Saya sedang nggak bisa fokus apa-apa saat itu. Makanya saya putuskan untuk mengundurkan diri daripada saya membuat kekacauan yang lebih besar lagi.” “Saya berhak tahu, Mikayla,” tuntut Pak Abi. “Kinerja buruk kamu tempo hari hampir membahayakan bisnis saya. Setidaknya saya harus tahu apa yang menyebabkan kamu bisa sampai seperti itu.” Benar juga. Biar bagaimanapun seharusnya aku yang bertanggung jawab atas kekacauan yang kubuat, tapi malah Pak Abi yang menyelesaikannya.   “Waktu itu saya lagi patah hati,” ucapku sambil tersenyum kecut. “Cuma karena patah hati kamu galau hampir sebulan lebih? Sampai mengacaukan pekerjaan?” tanyanya tak percaya. “Astaga Mikayla, ngapain kamu sampe sebegitunya mikirin laki-laki.” Pak Abi mengusap wajahnya dengan sebelah tangan. “Bapak mungkin nggak pernah ngerasain patah hati karena Bapak nggak pernah jatuh cinta beneran,” sindirku sinis. Pak Abian hanya tergelak, menertawakan ucapanku. Aku jadi menyesal sudah berbaik hati menemaninya duduk di sini. Dasar menyebalkan. “Udah, ah, kalo Bapak cuma mau ngetawain saya doang mending pulang, deh. Saya mau lanjut kerja lagi.” Aku lantas berdiri dan mendorong mundur kursi yang kududuki. “Saya belum selesai, Mikayla. Duduk lagi,” perintah Pak Abian. Senyumnya yang bersahabat berbanding terbalik dengan tatapan matanya yang tak bisa dibantah. Aku mendesah kesal sambil kembali mengempaskan tubuh di kursi di hadapannya. “Apa lagi, sih, Pak? Ini udah lewat lima belas menit dari perjanjian loh.” Aku melirik jam tangan mungil hadiah dari Mas Gio yang sudah menunjukkan pukul 5.30 sore. “Nggak usah sok sibuk. Mau ngapain lagi kamu jam segini? Masih mau bikin kue emangnya? Bentar lagi juga tokonya tutup, kan?” Aku berdecak pelan sambil mengumpatinya dalam hati. Pria ini benar-benar …. “Dosa loh kamu kalo ngata-ngatain saya terus,” ucapnya santai. Kedua tangannya terlipat di depan d**a dengan sudut bibir terangkat sebelah mengejekku. “S-siapa yang ngatain Bapak, sih. Kepedean banget.” Aku mengedipkan mata gugup. Kenapa Pak Abian bisa tahu kalau dari tadi aku terus mengumpatinya dalam hati? Jangan-jangan dia punya indera keenam? “Udah berapa lama toko ini buka?” Pak Abian kembali bersuara. Matanya memandangi sekeliling ruangan, mengamati interior toko yang di desain khusus oleh teman Mas Gio. “Resmi bukanya baru lima hari ini, sih.” “Interiornya bagus. Saya suka.” Kepalanya mengangguk-angguk tampak puas melihat sekeliling tokoku. Aku sendiri begitu pertama kali melihat hasil akhir bagian depan toko ini juga sangat puas. Tidak salah Mas Gio merekomendasikan temannya yang seorang desain interior sekaligus pemilik kafe yang pernah diperlihatkannya padaku dulu. Perpaduan warna ivory pada dinding, juga tambahan lampu gantung dengan sinar lembut dan jendela besar yang di cat sewarna dengan meja dan kursi kayu yang ada, membuat suasana di dalam toko ini terasa sangat nyaman dan hangat. “Kue-kuenya kamu yang bikin sendiri?” Aku menganggukkan kepala semangat. “Enak kan, Pak?” “Enak.” Pujian Pak Abian terdengar tulus membuatku gembira bukan kepalang. “Saya nggak tahu ternyata kamu jago bikin kue.” Aku tersenyum lebar. “Saya sering ikut kursus di baking center sejak SMA. Tapi dari lulus kuliah baru bener-bener luangin waktu.” Pak Abian hanya mengangguk-anggukkan kepala kemudian kembali bersuara.      “Berarti keputusan kamu untuk resign dan buka toko kue ini sudah tepat. Saya lihat tokonya cukup ramai dari tadi. Lokasinya juga lumayan strategis.” Itu benar. Sejak kami duduk di sini tiga puluh menit yang lalu, entah sudah berapa kali lonceng kecil di atas pintu berbunyi. Sore ini tokoku kembali ramai. “Ya sudah kalau begitu, saya kembali ke hotel,” ucap Pak Abian kemudian beranjak dari kursi. Sebagai mantan sekretaris yang baik, aku mengantarkannya sampai ke pelataran parkir. Walaupun sebenarnya nggak perlu sih, toh hotel yang dituju berada persis di seberang tokoku. “Mikayla …” Aku yang sudah berbalik dan melangkah kembali mendekati pintu menoleh mendengar panggilan itu. Pak Abian sudah berada di seberang jalan. Di sisi samping hotelnya. “Selamat, ya, untuk bisnis barunya. Semoga sukses.” Pak Abian berteriak seraya melambaikan tangannya padaku yang kubalas dengan lambaian tangan dan teriakan terima kasih. Astaga kenapa kami jadi saling berteriak seperti ini? Menggelengkan kepala aku kembali meneruskan langkah kembali ke dalam.   ****      “Ma, aku pulanggg….” Aku melangkah dengan semangat memasuki rumah karena kelaparan. Aroma sedap masakan yang mama buat menyerbu indera penciumanku sejak menginjakkan kaki di ruang tamu. Aku mempercepat langkah. “Eh, baru pulang kamu, Dek?” Aku menoleh ke samping dan mendapati Mbak Indira yang baru turun dari lantai dua berjalan mendekatiku. Dengan senyum mengembang aku melebarkan tangan menunggunya mendekat untuk memelukku. “Kangeeen, Mbak,” rengekku manja. Aku memang dekat sekali dengan Mbak Indi. Terlepas apa yang terjadi dengan kisah cintaku, perasaan sayangku kepada Mbak Indi tidak akan pernah berubah. Apalagi seminggu setelah menikah Mbak Indi sudah langsung pindah ke rumah barunya bersama Bagas membuatku merasa sangat kehilangan. Sebenarnya Mbak Indi masih sering datang untuk mampir menjenguk Mama yang mengeluh rindu atau sekadar makan malam bersama, tapi tetap saja kami merindukannya. “Mbak juga kangen banget sama kamu.” Mbak Indi mengusap punggungku beberapa kali merenggangkan pelukan kami untuk menatap wajahku kemudian tersenyum lebar. “Gimana tokonya?” tanya Mbak Indi. Kami melangkah ke arah dapur dengan Mbak Indi yang terus merangkulku. “Lancar. Lumayan rame juga. Lima hari ini kue yang aku bikin nggak pernah sisa banyak.” “Duh, hebat banget sih, Mikayla.” Mbak Indi mengacak pelan rambutku lalu tertawa. Mama yang sedang menyiapkan makan malam ditemani asisten rumah tangga menatap kami dengan satu alis terangkat. “Ma … laper!” Mama hanya menggeleng pelan. “Udah tua, Dek. Ngerengeknya kayak balita aja.” Papa yang memang sudah berada di meja makan dan sibuk dengan tabletnya mengangkat kepala kemudian terkekeh pelan. “Mika kan emang masih balita, Ma. Balitanya Papa,” ujar Papa dengan mimik wajah lucu. Aku dan Mbak Indi kembali tertawa sementara Mama hanya tersenyum tipis sambil menggeleng. Papa memang selalu memanjakan dan menganggapku masih Mikayla gadis kecilnya yang berusia lima tahun. Apalagi semenjak Mbak Indi menikah dan pindah ke rumahnya sendiri. Papa jadi makin posesif padaku. “Ndi, Mas Gio sama Bagas dipanggilin dong. Ini makan malemnya udah siap. Kita makan bareng, ya.” “Iya, Ma.” Mbak Indi kemudian melangkah keluar ruang makan untuk memanggil Mas Gio dan suaminya. “Emang lagi pada dimana, Ma?” tanyaku sambil meraih satu tempe goreng dan mengunyahnya. “Di atas. Lagi bahas kerjaan kayaknya,” sahut Mama. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala seraya mengambil satu tempe goreng lagi. Papa yang tampaknya sudah selesai dengan tabletnya ikut bersuara. “Mereka lagi nanganin kasus nasabahnya Bank Utama yang uangnya tiba-tiba raib dari rekening itu loh. Besok mau bikin laporan kepolisian katanya.” “Kok bisa? Raib gimana, Pa?” tanyaku bingung. Kalau menyimpan uang di bank saja bisa tiba-tiba hilang lalu dimana lagi tempat yang aman? “Ya bisa aja, Dek. Tunggu besok ajalah detailnya. Mas Gio sama Bagas bakal bikin konferensi pers juga habis dari kepolisian sama klien.” Aku hanya menatap Papa dengan bibir mengerucut karena penasaran dengan kelanjutan kasus nasabah bank itu. “Kamu nggak lihat itu Mama natapnya udah kayak singa, nanti Papa disuruh tidur diluar cuma gara-gara bahas kerjaan di meja makan.” Aku terbahak mendengar penuturan Papa. Apalagi saat mataku menangkap gerakan Mama yang melipat kedua tangan di depan d**a dengan wajah cemberut. Memang membicarakan pekerjaan di rumah terutama di meja makan adalah pantangan bagi keluarga kami. Mama sih, yang menetapkan itu. Alasannya Mama nggak mau kalau suami dan anaknya yang memang memiliki profesi sama malah lebih sering menghabiskan waktu untuk membahas kasus yang sedang ditangani dan merusak suasana yang seharusnya santai dan menyenangkan di rumah. Kalau memang ada yang harus dibahas cukup lakukan di kantor atau di ruang kerja Papa di rumah ini yang ada di dekat ruang keluarga. Karena untuk Mama sangat penting untuk menjaga kualitas waktu berkumpul bersama keluarga. Jadi apa pun mengenai pekerjaan dilarang dibahas. Derap langkah serta tawa khas Mas Gio dan Bagas yang terdengar sejak dari ruang keluarga membuatku cepat berpindah tempat ke sebelah Mama. Tak lama kursi di seberangku sudah di isi oleh Mbak Indi yang duduk persis di hadapan Mama lalu kursi sebelahnya diduduki Bagas kemudian Mas Gio. Dari tempatku saat ini, aku bisa melihat jelas setiap pergerakan Bagas dan Mbak Indi. Bagaimana Mbak Indi yang begitu luwes melayani suaminya, mengambilkan nasi dan juga lauk pauk untuk Bagas baru kemudian mengambil untuknya sendiri. Aku harus mengakui jika mereka terlihat sangat serasi. Apalagi binar cinta keduanya juga tampak jelas terpancar dari tatapan serta gestur tubuh masing-masing. Saat Mbak Indi tersedak Bagas dengan cepat mengulurkan segelas air putih sambil mengusap-usap punggungnya begitu juga saat ada sedikit sisa saus di sudut bibir Bagas, Mbak Indi dengan sigap mengambil tisu dan membantu membersihkannya. “Romantis banget sih, pengantin baru,” ledek Mas Gio sementara Papa dan Mama hanya tertawa pelan memaklumi pasangan baru itu. Mbak Indi hanya tersipu dan Bagas hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan makan. “Mera-mesraan nanti di kamar aja, bro. Lo nggak kasihan sama yang jomlo?” lanjut Mas Gio. “Ya makanya lo buruan cari pasangan dong.” “Aduh, Gio mah susah kalo disuruh nyari pasangan, Gas. Kamu dong coba cariin siapa tahu ada temen yang juga lagi single.” Bagas hanya tertawa seraya menatap Mas Gio yang masih mengunyah makanannya dengan kedua alis dinaikturunkan. “Beres, Ma. Nanti Bagas bantu cariin. Temennya Indi juga banyak yang masih single. Iya kan babe?” Mbak Indi mengangguk antusias masih dengan mulut berisi makanan. Bagas yang melihatnya lantas mengulurkan tangan dan mengusap puncak kepala Mbak Indi dengan sayang. Aku yang melihatnya hanya bisa menggenggam sendok dan garpu ditanganku dengan lebih erat. Hatiku terasa berdenyut perih. Ternyata usahaku tiga bulan ini untuk melupakan Bagas masih belum berhasil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN