Suara dering sirine yang memekakkan telinga membangunkan seluruh penghuni penjara.
Bukan bunyi alarm jam weker apalagi bukan pula lullaby yang merdu. Hanya sirine. panjang, kasar, dingin yang langsung membuat jantung berdebar tanpa aba-aba.
Claudia terlonjak dari tidurnya. Tangannya refleks memeluk perutnya yang besar. Bayinya bergerak pelan, seolah ikut terkejut oleh suara itu. Matanya menyapu jeruji di kiri dan kanan. Para penghuni sel lain sudah berdiri tegak di depan pintu masing-masing. Wajah-wajah mereka kosong, kaku, seperti prajurit yang sudah hafal perintah sebelum komando diberikan.
Claudia ikut berdiri.Ia tidak tahu kenapa harus berdiri.Ia hanya takut dihukum.
Saat ia tepat berdiri di depan pintu, bunyi mekanis terdengar serentak.
Pintu-pintu sel terbuka bersamaan. Pasti di kontrol secara otomatis oleh petugas penjara.
Satu per satu para napi keluar, berbaris rapi, bergerak menuju lapangan olahraga tanpa suara, tanpa tanya. Claudia ikut melangkah di antara mereka, jantungnya berdegup cepat teringat kata-kata wanita misterius itu supaya dia jangan bertingkah hari ini.
Diam-diam ia mencatat dalam hati.
Sirine berbunyi. Berdiri di depan pintu. Keluar. Berbaris. Olahraga.
Aku tidak boleh hidup sebagai Claudia Carlson lagi.Bukan Claudia yang dilayani dua asisten rumah tangga.Bukan Claudia yang bangun tanpa pernah menyentuh lantai dapur.
Sekarang aku harus melayani diriku sendiri.
Semua kemewahan yang ia miliki sejak lahir. semua kemudahan, semua kenyamanan musnah di tempat ini. Untuk bertahan hidup, ia harus membiasakan diri. Harus membaur. Harus menundukkan kepala….
Lapangan olahraga terbentang luas dan dingin. Claudia menatap sekeliling dengan hati-hati.
Dan di sana
Di tempat teduh dekat lapangan voli, duduk bagai ratu di tahtanya, wanita misterius yang semalam menyiramnya dengan air.
Dua wanita berbaju oranye memijat bahunya, memijat lengannya.
Petugas di dekat pagar pura-pura tidak melihat apa pun.
Suara dari speaker menggema.
“ Hari ini silakan berolahraga dengan bebas. Bisa berjalan, berlari, bermain bola voli, angkat beban. Kita di lapangan satu jam. Setelah itu, kalian menuju pos kerja masing-masing. Yang belum punya pekerjaan, segera menghadap sipir penjara.”
Claudia menghela napas panjang.
“Baiklah, baby,” bisiknya sambil mengelus perutnya.
“Ayo kita jalan keliling lapangan saja. Supaya mama dan kamu bergerak… supaya nanti mama bisa melahirkan kamu dengan lebih mudah.”
Ia baru hendak melangkah ketika duk!
Sebuah bola voli menghantam punggungnya.
Claudia terkejut dan membungkuk untuk mengambil bola itu. Ia berpikir mungkin ada yang tidak sengaja. Tapi tawa keras meledak di belakangnya, diiringi suara perempuan yang penuh ejekan.
“Benar kan! Aku bilang juga apa! Tubuh segede itu pasti nggak kerasa sakit ketimpuk bola kecil. Badannya sudah kayak bumper!”
Kata-kata itu menghantam lebih keras dari bola.
Claudia diam. Ia menahan diri.Ia tidak ingin keributan.
Dulu, saat ia kaya, tidak ada yang berani mengolok-oloknya seperti ini. Semua orang tersenyum manis padanya. Semua memujinya. Uang memang bisa membeli segalanya termasuk kepura-puraan. Dulu ia bisa membeli puja-puji hanya dengan mentraktir makan siang. Mereka mungkin menertawakannya di belakang, tapi tidak pernah sekejam ini… tidak terang-terangan.
Tubuh Claudia gemuk dan besar bukan karena keinginannya.
Menurut cerita almarhum papanya, saat dilahirkan tubuh Claudia kecil dan rapuh, sering sakit juga sering sesak. Mamanya membawa Claudia ke banyak dokter, memberinya vitamin, hormon, apa pun agar tubuh anak satu-satunya itu bertahan. Mereka takut kehilangannya. Claudia adalah keajaiban yang hampir direnggut kematian.
Ketika mamanya meninggal dan Claudia remaja ingin diet agar lebih ramping, papanya marah besar.
“Tidak usah,” katanya waktu itu.
“Kamu segini aja sudah cantik. Yang penting kamu sehat. Papa tidak mau kehilangan kamu.”
Dan Claudia menurut.
Ia tidak pernah kurus demi menyenangkan hati papanya.
Sampai ia jatuh cinta pada Roy. Lelaki yang ia pikir menerimanya apa adanya. Lelaki yang ia biayai, ia lindungi, ia percaya.Sampai ia mendengar sendiri kata-kata Roy yang menertawakan tubuhnya. Sampai ia tahu tidak ada cinta yang benar-benar jujur pada wanita bertubuh besar seperti dirinya.
Apalagi di tempat ini.
“Hei! Lempar bolanya balik!” teriak wanita berambut mohawk, membuyarkan lamunannya.
“ Pantes gemuk! Orang malas gerak!”
Claudia melemparkan bola itu kembali. Tawa mereka pecah lagi. Wanita berambut mohawk menangkap bola dengan lincah , lalu kembali mengambil ancang-ancang.
“Ayo lihat sekarang,” jeritnya.“Kali ini ke wajahnya!”
Bola itu melayang lurus ke arah kepala Claudia.
Tubuh Claudia membeku, tidak bisa menghindar.Ia hanya memejamkan mata.
Namun sebelum bola itu menghantam wajahnya
BRAK!
Seseorang menangkis bola itu dengan keras hingga terlempar ke pinggir lapangan.
“Kamu seharusnya menyingkir atau menangkis,” suara dingin itu berkata.“Kalau cuma diam dan memejamkan mata, wajahmu bisa bengkak.”
Claudia membuka mata.
Wanita misterius yang kemarin menyiramnya dengan air , berdiri di depannya.
“Te… terima kasih…” ucap Claudia lirih.
“Di sini kamu harus bertahan demi dirimu sendiri,” katanya tanpa menoleh.
“Jangan diam. Kamu beruntung aku juga mau jogging. Kalau tidak, kamu sudah terluka.”
Ia mulai berjalan.
“Ayo. Ikut jalan bersamaku” Perintahnya singkat
Claudia mengikutinya. Tidak ada lagi yang berani mengganggunya. Aura wanita itu terlalu kuat. Terlalu gelap. Terlalu berbahaya
untuk dilawan.
“Namamu?” tanya wanita itu.
“Claudia Carlson.”
Langkah wanita itu melambat.
“Carlson?”
Ia mengernyit.
“Pemilik Gedung Carlson dan Carlson Enterprise?”
Claudia mengangguk.
“Kamu yang dipenjara karena membunuh suamimu yang selingkuh dengan sahabatmu?”
Ia mengangguk lagi.
“Kenapa tidak sekalian kamu bunuh sahabatmu?” katanya dingin.“Biar dua k*****t itu sama-sama membusuk di neraka.”
“Aku… aku pingsan setelah menusuk Roy yang mencekikku,” suara Claudia bergetar “Mungkin kalau aku tidak pingsan… aku juga akan membunuhnya.”
Wanita itu tersenyum tipis.
“Bagus, memang para penghianat harus dibunuh tuntas.”
Claudia menelan ludah.
“Maaf… kenapa anda bilang penghiantar harus di bunuh tuntas ? aku pikir wanita sekuat Anda tidak pernah merasakan penghianatan. Kalau aku… aku terlalu bodoh. Terlalu naif.”
Air matanya jatuh.
“Aku membiarkan Roy jadi direktur. Aku membiarkan Bella jadi sekretarisnya. Mereka bersekongkol… menjual semua warisan ayahku kepada seseorang bernama Dominic Santiago. Aku dipenjara dalam keadaan hamil. Tanpa apa-apa.”
Wanita itu berhenti berjalan.
“Dominic Santiago?”
Suaranya mendesis.
“Iya,” Claudia mengangguk.
“Semua milikku sekarang atas nama dia. Tanpa tanda tanganku. Tanpa aku tahu. Tanpa aku menerima sepeserpun”
Wajah wanita itu mengeras. Gelap. Berbahaya.
Lalu ia menoleh, menatap Claudia dalam-dalam.
“Kamu mau membalas dendam pada sahabatmu?Kamu mau mengambil kembali semua yang dirampas Dominic Santiago darimu?”
Jantung Claudia berdegup keras. Lebih keras dari suara sirene yang membangunkannya tadi pagi.
“ Bagaimana mungkin aku bisa membalas dendamku pada mereka?” Bisiknya pada dirinya sendiri