Tiba di kota besar tanpa orang tua, serta tanpa tujuan untuk anak seusia Kean dan Erin, seolah sengaja memproklamirkan diri telah resmi menjadi gelandangan. Siap menerima kerasnya kehidupan jalanan, meskipun mereka berdua baru saja mencicipi dunia. Tidak ada pilihan yang lebih baik untuk mereka berdua, selain menerima semua yang sudah menjadi takdir dan menjalaninya meski dengan perasaan terpaksa. Di kota besar ini, Kean dan Erin hanya seperti setitik debu yang siap diterbangkan angin, tanpa ada satu orang pun yang peduli pada keadaan mereka berdua. Berkelana di antara gedung megah yang menjulang tinggi, melihat banyaknya mobil mewah yang berlalu lalang sepanjang jalan, tanpa ada yang menyapa. Menentang kerasnya hidup di jalanan, walaupun sesungguhnya teramat takut pada kekerasan yang dil

