Hotel Almanac Barcelona, malam hari… Tubuh Wina menegang kaku saat bibir Johan dengan pelan mulai melumatnya lembut. Kedua matanya terbelalak lebar tapi kedua kakinya terasa seperti jeli. Ciuman itu tidak menuntut ataupun menggebu-gebu. Tapi, penuh dengan gairah. Penuh dengan kerinduan yang dalam. Penuh dengan perasaan nostalgia yang mengharu biru akan kekasih yang dulu menghilang tapi kini sudah kembali di dalam dekapannya. Ia ingin menolak tapi tak bisa. Ciuman Johan melelehkan semua sistem pertahanannya. Melumpuhkan semua sarafnya. Melumpuhkan otaknya. Membuatnya tak sanggup untuk berpikir jernih lagi. Ciuman ini menghipnotisnya. Membuainya. Membuatnya tak berdaya. Dan, Johan tak berhenti sampai di sana, salah satu tangannya mulai bergerak dan memeluk pinggang mungil Wina. Memaksanya

