Tubuh Rain seketika lemas, ia lalu terduduk di tepi ranjang dengan menundukkan wajahnya. “Sayang, kenapa kamu tega sama Om.” Rain lalu menatap bagian bawahnya. “Apa Om harus menunggu satu minggu lagi, agar dia bisa masuk ke dalam sangkarnya?” tanyanya dengan suara lemahnya. Aira yang melihat raut wajah suaminya merasa bersalah. Padahal ini bukan kesalahannya. Ia juga tidak ingin malam pertamanya berakhir seperti ini. Tapi mau apa dikata, ini memang waktunya ia datang bulan. Aira lalu memakai kembali lingerie nya yang sempat terbuka bagian atasnya, dia lalu beranjak turun dari ranjang. Ia lalu berdiri tepat di depan suaminya yang saat masih dalam posisi menundukkan wajahnya. “Om, maafkan aku. Aku juga nggak tau kalau akan datang hari ini,” ucapnya merasa bersalah. Rain menghela nafas

