Prolog

525 Kata
Hdup yang tiba-tiba berubah "Awas Zein!" pekik Alya histeris. Zein yang mengemudi dalam keadaan marah, tidak sadar jika dari arah depan ada mobil yang juga melaju sangat kencang. Karena begitu terkejut, Zein tidak sempat membanting setir. Akibatnya, dua mobil yang sama-sama melaju kencang, adu kambing dan menimbulkan bunyi yang sangat kuat. Bukan itu saja, beberapa mobil yang beriringan dengan kedua mobil tersebut, ikut menjadi korban kecelakaan beruntun. Kobaran api dari mobil yang terbakar, menambah suasana mencekam di lokasi kecelakaan. Teriakan histeris dan meminta tolong, menjadikan suasana malam yang sepi, semakin menakutkan. Alya dan Zein terhimpit di bagian depan mobil yang kini terlihat hancur. Beberapa pejalan kaki dan orang yang sengaja berhenti, berusaha menolong keduanya. Keduanya sama-sama terluka parah dan tidak sadarkan diri. Pun seseorang yang mereka tabrak, belum diketahui masih hidup ataukah sudah mati. Tak berapa lama, polisi dan ambulans yang dihubungi oleh penduduk sekitar, tiba di lokasi kejadian. Suasana sangat mencekam. Beberapa orang membantu membawa Zein dan Alya ke dalam ambulans. *** "Dokter!! Adinda sudah sadar. Putriku sudah sadar dokter!" teriak Salma-ibu Adinda, dari ruang perawatan. Mata tua Salma berkaca-kaca saat Dinda berhasil membuka matanya. "Haus." ucap gadis itu pelan. Salma belum berani memberi Dinda minum karena dokter belum selesai memeriksa kondisi putrinya. Gadis itu, orang yang di panggil Adinda, menatap sekeliling dengan perasaan bingung. Terlebih, dia merasa tidak mengenali siapapun. "Anda siapa?" tanyanya pada Salma. "Ini mama nak. Apa kau tidak mengenali mama?" tanya Salma cemas. Dokter Heri meminta Adinda menyebutkan siapa namanya dan tahun berapa saat ini. "Namaku Alya, aku Alya Rosalina. Jika tidak salah ingat, ini awal tahun 2021." jawab Alya yakin. Salma menatap dokter Heri meminta penjelasan. Wajah tua Salma tampak khawatir mendengar jawaban putrinya. Ini memang awal tahun 2021, tapi putrinya salah dalam menyebutkan nama sendiri. "Namamu Adinda Maharani, sayang. Kau kenapa? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Salma. Alya menggeleng pelan. Gadis itu mengingatnya dengan jelas. Saat itu dia mengalami kecelakaan beruntun bersama Zein tunangannya. "Dokter, sebenarnya apa yang terjadi?" Salma semakin khawatir melihat Dinda yang bersikap seperti orang linglung. Dokter Heri meminta Salma segera menghubungi ayah Dinda untuk menjelaskan kondisi putri mereka secara rinci. Selama menunggu suaminya tiba, Salma menghampiri Adinda dan mengajaknya bicara. "Apa kau ingat kejadian sebelum kau terbaring koma di rumah sakit?" tanya Salma. "Kecelakaan beruntun." jawab Alya dengan wajah ketakutan. Sekelebat kejadian mengerikan saat dia dan Zein mengalami kecelakaan, tiba-tiba melintas dalam benak Alya. "Kau salah nak. Kau tidak kecelakaan, kau jatuh dari lantai dua. Astaga, apa yang terjadi padamu sayang." Salma terisak. Alya merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak diketahuinya. Gadis itu juga bingung dengan apa yang terjadi. Dia yakin namanya Alya. Tapi, orang yang ada dihadapannya juga yakin kalau dia adalah Adinda. Alya berusaha bangun meski kepalanya masih pening. Salma membantu putrinya setelah menyeka air mata. Saat mata Alya berhasil menatap cermin. Gadis itu melongo. "Si-siapa aku?" tanya Alya pada dirinya sendiri. "Si-siapa dia? Aku siapa?" Alya benar-benar kebingungan menatap pantulan wajahnya di cermin. Jelas sekali itu bukan wajahnya. Seketika kepala Alya didera rasa sakit yang luar biasa. Dalam sekejap, Alya jatuh pingsan. Salma berteriak histeris memanggil dokter, takut dan khawatir melihat kondisi Adinda yang kembali tidak sadarkan diri. To be continue...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN