Bagian 6

1506 Kata
Bisa nggak nggak sih nggak usah bikin bingung Kadang cuek seakan nyuruh mundur Kadang perhatian banget seakan nyuruh maju lagi Maunya apa? ~Kalea. Hari pertama mpls sudah hampir selesai, semua anak-anak kelas sepuluh sudah selesai istirahat tadi langsung kembali kekelas mereka masing-masing di kelas mereka hanya mendapatkan beberapa materi dan cek atribut kelengkapan. Untung hari pertama memang kebanyakan diruangan karena hanya penyampaian materi. "Baik adik-adik sebentar lagi kalian sudah akan pulang, besok jangan lupa bawa perlengkapan buat menghias kelas ya, nanti akan dinilai oleh guru kekreativan kalian. Bendahara jangan lupa print struktur kelas, beli foto presiden dan wakil presiden, garuda, sama beberapa pahlawan nasional point terpentingnya" kata awalia. "Kak sapu juga beli nggak?" tanya bendahara. "Nggak usah ya dek, nanti dapet dari sekolahan. Kalau penghapus, spidol, tinta nanti minta ke tu aja" jawab farhan. "Yang belum absen siapa?" tanya lea melihat ada yang masih kosong tabel absen kelasnya. "Eh saya kak tadi lupa" seorang perempuan berambut sebahu maju, wajahnya manis kulitnya tidak putih namun tetap terlihat ayu membuat enak di pandang. Setelah semua ampuannya pulang lea kembali ke mabes, hari ini panitia bisa langsung pulang setelah mengambil jatah makan satu box nasi lea berjalan menuju gerbang. Tak lupa ia menghubungi pak warli agar menjemputnya, ia lupa belum membalas pesan atha tadi pagi. from razka Sayang hati-hati berangkatnya maaf ya aku nggak bisa jemput, tadi pak warli udah aku kabarin Melihat pesan dari atha membuat ia tersenyum meskipun lelaki itu sibuk namun ia masih sangat perhatian dengan lea, walaupun kadang cuek setengah mati kalau di sekolah saat bertemu dengannya. Lea memang sengaja kasih nama razka di kontaknya agar orang-orang tidak curiga. To Razka Maaf ya baru bales aku pulang duluan kamu jangan lupa istirahat, kemarin andi cuma wa masalah perlap di proposal jangan cemburu❤️ Klakson mobil dari pak warli menyadarkan lea, ia langsung masuk kedalam mobil tak lupa berpamitan kepada beberapa temannya yang juga menunggu jemputan. Diperjalanan pulang lea lebih memilih melihat keluar jendela mobil, ia sedikit lelah berjalan mondar-mandir dari mabes osis ke kelas sepuluh tadi, sekolahnya yang luas juga letak kelas sepuluh yang jauh membuat kakinya sedikit pegal. Baru saja ia hendak memejamkan matanya bunyi hpnya membuat ia bangun lagi. "Hallo kara" Ternyata panggilan video call dari kara, teman sebangkunya tadi ia sudah mewanti-wanti kara untuk berangkat pagi dan mencari tempat duduk di bangku bagian tengah nomer tiga dekat dengan AC seperti biasa. "Baru mau pulang lo" "Iya masih perjalanan macet nih, owh ya gimana dapet tempat duduk kan tadi?" "Dapet dong kara gitu loh, gue berangkat jam 6 kurang gila ngantuk tadi dikelas untung masih jam kosong tadi" "Haha, kayaknya sih seminggu nanti jam kosong. Sekolah lagi ikut lomba adiwiyata nasional" "Pantes guru nyuruh bawa bunga anggrek per kelompok tadi, lo sama gue sama sofia, vani, sukma, sari, dinda nanti yang bawa vani kebetulan dia punya jadi nggak usah beli deh" "Oke deh jadi nggak usah iuran haha" "Ya udah lo kayaknya capek, ntar habis lo jadi panitia anak-anak ngajak ngumpul sama makan seblak" "Kangen banget gue makan seblak mbak tiwi, oke deh siap hari kamis ya pulang sekolah" "Oke beb sipp" Tut ********* Hampir maghrib atha baru tiba dirumahnya, sesampainya dirumah ia langsung membersihkan dirinya tak lupa melaksanakan kewajibannya setelah itu ia turun ke bawah ia melihat mamanya sedang menggoreng ayam tepung terlihat adiknya yang sudah memakan satu potong dimeja makan. "Asik banget makan" ujar atha setelah ia bergabung duduk disebelah adiknya. "Bang atha mau?" tawar jovan adiknya dengan polos menyodorkan bekas gigitan ayamnya membuat atha tertawa pelan. "Nggak usah abang bisa ambil sendiri" kata atha sambil mengelus puncak kepala adiknya yang asik melanjutkan makannya, bahkan mulutnya masih cemong kecap. Jovan suka sekali makan ayam goreng tepung dan nasi yang dikasih kecap. "Abang mau makan duluan apa nungguin papa pulang dulu?" tanya mamanya setelah menaruh sepiring ayam goreng yang baru selesai ia goreng. "Nunggu papa aja ma" jawab atha sambil mancomot mendoan buatan mamanya, dulu mama atha memang masih bekerja namun semenjak jovan lahir ia memilih resign. Papanya juga akhirnya merekrut sekretaris baru, karena dulunya mama atha bekerja sebagai sekretaris di perusahaan papanya sendiri. Mamanya itu cantik, pandai, mandiri, pekerja keras dan sayang dengan keluarga, maka dari itu papanya sampai bertekuk lutut. Mama atha dari keluarga biasa aja, dulu Rynda mamanya itu harus hidup mandiri karena kedua orangtuanya meninggal saat mamanya masih sma. Rynda yang masih remaja hanya ditinggali beberapa aset yaitu rumah yang dulu ditempati, mobil yang tidak dikemudi saat kecelakaan juga sebuah toko kue mamanya. Sekarang toko kue itu sudah memiliki cabang yang tersebar diberbagai kota, karena kepandaian mamanya dalam mengelola. Meskipun dirumah mamanya tetap memiliki kesibukan ia juga beberapa kali mengecek tokonya. "Gimana tadi kegiatannya lancar bang?" tanya mamanya yang sudah ikut bergabung di meja makan. "Alhamdulillah lancar ma, atha sedikit lega hari pertama sudah terlewati" "Mama ikut seneng dengernya, owh ya lea gimana kabarnya? udah hampir sebulan abang nggak pernah ajak kesini" tanya mamanya yang memang sudah dekat dengan lea. "Baik ma, dia sibuk juga buat proposal ayah sama bunda lagi diluar kota jadi dia dirumah sendiri. Ini abang mau kesana habis makan ngasih proposal dari kepsek buat lpj sekalian ngecek keadaannya". "Bawain kue buatan mama, nanti mama siapin" Tak lama ayahnya pulang, setelah membersihkan diri ia langsung bergabung bersama anak dan istrinya. "Wah makanannya enak semua nih, ini nih yang buat papa nggak bisa makan diluar" kata papanya, membuat sang mama tersenyum. "Jovan mau makan lagi?" tanya mamanya yang diangguki oleh bocah tampan itu. "Lhoh jovan kan udah makan, itu perutnya masih muat emang" atha yang melihat kebiasaan adiknya nambah tapi tidak dihabiskan ikut berkomentar. "Muat dong, setengah aja mama nasinya nanti jovan abisin jovan janji" katanya lucu membuat sang papa gemas menciumi anak berumur hampir lima tahun itu. "Anak papa makannya pinter ya sekarang" "Atha gima acaranya tadi?" tanya sang papa. "Lancar pa" yang diangguki papanya "Owh ya pa, atha mau tanya uang sponsor dari perusahaan papa, kan atha butuhnya enam juta kemarin om Hendri ngasih ke atha sepuluh juta itu kelebihan pa" kata atha teringat uang sponsor papanya. Papa atha tersenyum, ia bangga dengan kejujuran anaknya darah dagingnya memang hebat batinnya. "Papa sengaja, nanti buat kepentingan lain nambahin kas osis" kata papanya santai. "Makasih pa" ujar atha Selesai makan malam atha langsung menuju rumah lea, butuh sekitar dua puluh menit perjalanan menuju rumah gadisnya rumah lea memang beda arah dengah atha. Namun tidak terlalu jauh, rumah atha dekat dengan sekolah sekitar tujuh menit saja sedangkan rumah lea membutuhkan lima belasan menit, melewati sekolahnya. Begitu sampai gerbang rumahnya langsung di bukakan oleh satpam rumah lea, karena hafal dengan mobilnya. "Makasih pak" kata atha yang dijawab senyum ramah pak yayat yang merupakan satpam sekaligus tukang kebun dirumah lea. "Eh mas atha, mau bibi buatin minum apa?" tawar bibi. "Nggak usah bi, nanti atha buat sendiri bibi istirahat aja ya" kata atha sopan mengingat sudah hampir jam delapan malam. "Bibi ke kamar ya, nanti kalau butuh apa-apa jangan sungkan ngomong bibi. Mbak leanya baru selesai makan" kata bibi yang dibalas senyum ramah atha. "Kamu kok nggak bilang mau kesini" tanya lea begitu ia menghampiri atha di ruang tv, dapurnya berada dibelakang dekat kolam renang dan taman kecil-kecilan juga sekaligus meja makan sehingga atha memilih menunggu lea di ruang tv yang nyaman dengan sofa panjang. "Sengaja, aku mau ngasih proposal biar kamu bisa nyicil lpj jadi nggak usah lembur lagi, Ini titipan mama" Melihat kue ditangan atha membuat mata lea berbinar. "Wah kangen banget sama kue buatan mama, weekend nanti aku kerumah ya, lagian ayah sama bunda nggak ada pasti sepi" kata lea dengan cemberut. "Iya, nanti aku jemput. Besok bales chat aku jangan lama" kata atha membuat lea tersenyum nggak enak. "Aku lupa tadi, kan udah aku bales besok nggak aku ulangi" ujar lea mengalah. "Besok nggak usah dandan kayak tadi aku nggak suka kamu jadi pusat perhatian" atha yang sedari tadi menahan kekesalannya melihat gadisnya yang begitu cantik hari ini, bahkan teman-temannya banyak yang memuji lea didepannya, kalau saja mereka tau lea miliknya pasti nggak akan ada yang seberani itu. "Lea cantik banget ya" "Manis anjir pake poni gitu" "Ibu sekre emang cantiknya kebangetan" "Andai aja lea mau jadi pacar gue, gue traktir sebulan deh kalian" Dan masih banyak lagi membuat atha kesal setengah mati, ditambah reta yang selalu mengikutinya hari ini. Rozi sedang berhalangan hadir makannya hanya mereka berdua, biasanya mereka akan bertiga memantau kinerja yang lainnya. Rozi itu mitra muda dua atau wakil ketua dua namun ia berhalangan hadir karena baru pulang dari belanda pagi tadi jadi masih capek, besok ia akan berangkat membuat atha sedikit lega tidak hanya berduaan dengan reta, sejujurnya ia risih namun ia harus profesional tanggung jawabnya kali ini lebih besar timbang mengurus tingkah reta batinnya. Malam itu atha menghabiskan waktu bersama lea, mereka bercerita apa aja yang mereka lakukan tadi, saat-saat seperti ini atha merasa beruntung memiliki lea gadis itu selalu semangat dengan apapun cerita atha meskipun pada akhirnya ia yang harus mendengarkan semua ocehan lea namun ia senang melihat lea yang begitu semangat bercerita. Cukup seperti ini dulu menikmati malam berdua setelah lelah seharian jadi panitia, rasanya bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN