Chapter 2

1631 Kata
Mungkin karena berada di tempat baru, Acasha jadi kesulitan tidur. Ia bergerak-gerak gelisah mencari posisi ternyaman yang membuatnya cepat terlelap. Namun dicoba berkali-kali pun, Acasha tak kunjung berhasil. Acasha mengembuskan napas panjang. Dari ekor mata, ia bisa melihat Senera sudah tertidur pulas. Tak ingin membuat Senera terusik karena polah tingkah Acasha, gadis itu pun beranjak dari tempatnya dan berjalan keluar kamar. Acasha menggenggam ponsel dan earphone. Ia tahu harus melakukan apa untuk membunuh waktu. Jadi setibanya ia di luar kamar, gadis itu melangkah menuju teras indekos. Acasha memastikan sekitarnya sepi. Gadis itu pun mengulas senyum lebar. Dadanya berdebar-debar tak keruan. "Semoga malam ini bisa bicara sama dia," gumam Acasha dengan wajah semringah bak orang tengah jatuh cinta. Ya, tidak salah sih, Acasha memang sedang dilanda perasaan itu. Beres menyiapkan segala sesuatunya, Acasha mulai membuka aplikasi kencan bernama Teman Tidur. Belakangan ini, Acasha memang tengah menggandrungi aplikasi itu. Ia bahkan mengenal salah seorang pemuda di sana dengan nama akun Boo Bear. Dia bukan teman kencan biasa. Boo Bear ini adalah host resmi dari aplikasi Teman Tidur. Untuk bisa bicara dengannya, Acasha harus menyiapkan sejumlah bunga senilai beberapa ratus ribu jika diuangkan. Tetapi meski harus membayar mahal untuk pembicaraan yang berlangsung tak terlalu lama, Acasha tetap rela. Itu karena Boo Bear benar-benar mengerti kondisi Acasha. Acasha rasa, ia match dengan laki-laki itu. Acasha sangat nyaman membahas segala hal dengan Boo Bear. Ah, iya, alasan Acasha memberanikan diri keluar dari rumah adalah karena terakhir kali ia bicara dengan Boo Bear, ia diberi dukungan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Boo Bear meyakinkan Acasha bahwa gadis itu pasti bisa melepaskan kekangan yang selama ini ia rasakan karena terlalu dimanja orang tua. Namun sayang, mungkin karena ini sudah terlalu larut, Acasha terlambat untuk bisa memulai pembicaraan dengan Boo Bear. Saat Acasha berusaha menyambungkan panggilan ke akun Boo Bear, sistem dari aplikasi Teman Tidur langsung menolaknya. Bahkan sejumlah bunga yang sudah ia keluarkan untuk bisa mendapat atensi dari sang pemilik akun nyatanya tak mampu membuat panggilan dari Acasha diterima. Alhasil, sejumlah bunga itu kembali masuk ke dompet Acasha. Gadis itu membuang napas panjang. Wajahnya sudah tampak suram karena kecewa. Padahal kalau sesuai rencana, Acasha ingin memberi tahu Boo Bear tentang hal ternekat yang ia lakukan selama hidupnya. Acasha ingin bercerita bahwa hari ini ia memutuskan untuk keluar dari rumah dan memulai hidup baru. Tapi mau bagaimana lagi, Acasha tidak bisa mengubah apa-apa saat ini. Gadis itu hanya bisa menerima fakta bahwa Boo Bear sedang tidak available untuk ia ajak bicara. Sempat terlintas di pikiran Acasha untuk mengirim pesan singkat kepada Boo Bear melalui salah satu fitur dari aplikasi kencan itu. Hanya saja, ini tak seseru seperti ketika Acasha berbicara langsung dengan Boo Bear. Malahan Acasha khawatir kalau Boo Bear tidak benar-benar menangkap apa yang Acasha sampaikan melalui pesan itu. Ya, sudah, Acasha putuskan untuk tidak melanjutkan bermain dating app. Ia akan mencobanya kembali besok. Padahal sebenarnya ada beberapa laki-laki yang menyapa Acasha malam ini. Tapi Acasha mengabaikan itu semua. *** Paginya, Acasha bangun lebih siang dari Senera. Itu karena Acasha begadang semalaman dan baru bisa tertidur ketika pagi menjelang. Jadi ketika Acasha membuka mata, ia sudah disuguhi pemandangan menggiurkan di hadapannya. Tak Acasha sangka, Senera sudah menyiapkan makanan untuk santapan pagi itu. Bahkan ketika menyadari Acasha sudah terjaga, Senera buru-buru meminta Acasha untuk turut sarapan sebelum makanan yang ada berubah rasa karena terlalu lama dianggurkan. “Kamu beli bubur ayam di mana?” tanya Acasha sambil duduk bersila berhadapan dengan Senera. Di depan Acasha, ada meja lipat yang menghidangkan bubur ayam. Senera menunjuk ke arah luar sambil berkata, “Kalau pagi, di sini banyak penjual makanan yang lewat. Nggak cuma makanan matang, tapi semacam tukang sayur gitu juga lewat.” “Wah, enak banget. Jadi praktis gitu, nggak repot harus pergi-pergi jauh,” komentar Acasha. Ia pun mengambil sendok yang sudah tersaji di samping mangkuk berisi bubur ayam. Tanpa membuang waktu, Acasha menyuap satu sendok penuh bubur ayam ke dalam mulutnya. Saat itu, ketika Acasha baru mulai makan, Senera justru sudah menandaskan satu porsi bubur ayam. Namun gadis itu belum beranjak dari tempatnya karena masih sibuk bermain ponsel. Setelah hening sejenak, Senera lantas angkat bicara, "Kamu lagi cari tempat tinggal?" Acasha mengangguk-angguk saja sebagai balasan karena mulutnya masih dipenuhi makanan. Kalau Acasha menjawab, bisa-bisa makanan di mulutnya berhamburan keluar. "Setahuku di lantai atas masih ada kamar kosong. Kalau kamu mau coba lihat-lihat, aku bisa bantu buat mempertemukan kamu sama ibu kos," cetus Senera membuat mata Acasha berbinar-binar. Ya ampun, Acasha merasa sangat beruntung karena bertemu dengan Senera yang baik hati begini. Tanpa Acasha minta, Senera dengan kesadaran diri sendiri mau mengulurkan tangan kepada Acasha. Acasha jadi terharu! "Boleh, Ner," balas Acasha begitu makanan di mulut sudah tertelan seluruhnya. Lagi-lagi Acasha mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada Senera. "Tapi fasilitas di sini nggak terlalu lengkap," ujar Senera lagi, "kamu nggak apa-apa?" Acasha mengedarkan pandangan untuk melihat-lihat kamar Senera. Sepertinya, Acasha cukup nyaman jika tinggal di ruangan seperti ruangan milik Senera. Meski Acasha tidak mendapati adanya kamar mandi di dalam kamar, tetapi Acasha masih bisa memaklumi itu. Ah, tidak ada AC juga di sana. Makanya Senera menyediakan kipas angin. "Kalau kamu mau cari yang lebih bagus, aku bisa—" Acasha dengan cepat menyela, "Aku nggak masalah sama ini. Aku mau ketemu sama ibu kos, Ner." Senera mengiakan sambil tersenyum ragu. Ia melihat bagaimana penampilan Acasha yang tidak bisa dikatakan sederhana. Seharusnya Senera tidak usah berbasa-basi menawarkan. "Oke, aku bakal hubungi ibu kos. Tapi semisal nanti setelah lihat-lihat dan kamu berubah pikiran, aku rasa nggak masalah. Hal seperti itu wajar kok terjadi. Kalau memang nggak cocok, jangan dipaksakan." Acasha hanya mengulas senyum lebar. Di dalam hati, ia justru bersyukur menemukan tempat sederhana semacam ini. Acasha rasa, harga sewa indekos ini tidak terlalu mahal. Ingatkan, Acasha tengah dalam misi pelarian. Ia harus berhemat dengan uangnya yang tersisa sekarang. Kalau dia boros, bisa-bisa ia harus kembali ke rumah dalam waktu dekat untuk meminta belas kasih orang tuanya. Pembicaraan itu berakhir sampai di sana. Acasha lanjut sarapan, sementara Senera pergi keluar kamar untuk mandi dan bersiap-siap akan pergi. *** Acasha membuka mata kala mendengar ketukan di pintu. Yang datang itu pasti ibu kos—karena kalau itu Senera, sudah pasti gadis itu akan langsung masuk saja. Sehingga tanpa pikir panjang, Acasha membuka pintu. "Temannya Mbak Nera?" sapa seorang wanita dengan style yang cukup menggambarkan sosok ibu pemilik indekos di bayangan Acasha. Wanita itu mengenakan daster dan rambutnya penuh dengan rol-rolan. Acasha mengiakan untuk pertanyaan wanita itu. Ia pun balas bertanya, "Ibu yang punya indekos ini?" "Iya, saya yang punya indekos ini. Mari kalau Mbak mau lihat-lihat. Di lantai dua masih ada beberapa kamar kosong. Tipenya sama dengan kamar Mbak Nera." Acasha menutup pintu kamar Senera. Ia lantas berjalan mengekori ibu pemilik indekos naik ke lantai dua. Acasha memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan penjelasan sang ibu kos. Ia juga berkesempatan untuk melihat secara langsung kamar yang ibu kos itu tawarkan. "Mbak Casha," panggil si ibu kos yang memang sudah tahu nama Acasha karena saat berjalan beriringan tadi, Acasha sempat memperkenalkan diri. "Iya, Bu?" Acasha menoleh dan berhenti mengedarkan pandangan ke penjuru kamar itu. Si ibu pemilik indekos tampak mengembangkan senyum sembari bertanya, "Berminat menyewa kamar ini? Harganya terjangkau, kan? Kebetulan ini ada kamar kosong karena kemarin yang menempati sudah wisuda. Kalau nggak buru-buru deal, nanti susah lho Mbak Casha cari indekosnya. Sebentar lagi kan sudah mulai kuliah tatap muka dan nggak online dari rumah lagi." Acasha manggut-manggut. Ia mulai termakan rayuan ibu pemilik indekos itu. Dan karena memang Acasha juga sudah tahu harganya, Acasha pun tampak berminat. "Iya, Bu, saya ambil deh. Bulanan boleh kan, Bu?" "Boleh dong, Mbak Casha. Mau mulai pindahan kapan? Biar ibu bersih-bersihin dulu." "Hari ini juga, Bu. Barang-barang saya sudah ada di kamar Nera. Nanti saya pindahin ke sini." Setelah menyepakati ini dan itu, Acasha dan ibu pemilik indekos kembali turun ke lantai satu. Mereka menuju ke kamar Senera karena Acasha ingin mengambil uang untuk membayar sewa. Kamar Senera itu masih kosong. Pemiliknya entah pergi ke mana. Acasha juga tidak enak kalau mau menginterogasi tadi sebelum Senera pergi. Acasha mengabaikan itu. Kini ia sudah mengeluarkan dompet dan tergesa menyerahkan uang ke ibu pemilik indekos agar sewanya segera diproses. "Terima kasih, Mbak Cash. Nanti saya kirim orang buat bersihin kamar. Mbak Cash masukin barang-barang kalau udah dibersihkan saja ya kamarnya." Acasha kembali mengiakan. Ia menurut sajalah agar urusannya jadi mudah. Ia pun mengantarkan kepergian ibu pemilik indekos dan langsung kembali ke kamar Senera. Acasha lanjut bermalas-malas di sana. Sampai akhirnya, terlintas sebuah ide di kepala Acasha untuk kembali membuka aplikasi Teman Tidur. Meski ini masih siang dan Acasha tidak yakin apakah ada orang yang online di sana, tapi apa salahnya mencoba. Baru saja membuka dan log in di aplikasi itu, Acasha langsung menerima notifikasi adanya pesan masuk dari Boo Bear. Mata Acasha membelalak. Ia tak percaya bahwa Boo Bear lebih dulu mengirim pesan kepadanya. "Semalam kamu mau bicara?" gumam Acasha membaca sebaris pesan singkat dari Boo Bear. Hanya sebatas mendapat pesan begitu saja, Acasha langsung jingkrak-jingkrak kesenangan. "Hu-um, Kak Boo perhatian banget. Dia menyempatkan diri buat kirim pesan kaya gini." Tanpa membuang waktu, Acasha membalas pesan Boo Bear. Ia membenarkan bahwa semalam ia mencoba menghubungi Boo Bear, namun ia pastinya kalah cepat dengan pengguna lain. Makanya Acasha mencoba peruntungan dengan meminta kepada Boo Bear untuk menyisihkan waktu nanti malam agar Acasha bisa bicara. Lama Acasha menunggu balasan. Tetapi Boo Bear tampaknya belum kembali online di aplikasi Teman Tidur sehingga pesan Acasha tak kunjung mendapat respon. Namun pikiran pesimis Acasha juga menyatakan adanya kemungkinan Boo Bear tidak menjawab pesan itu karena tidak ingin memberikan perlakuan spesial pada Acasha. Jujur saja, jika benar begitu, Acasha merasa cukup sedih. Ini berarti bahwa Acasha di mata Boo Bear tidak berbeda dengan gadis lain yang juga menggunakan aplikasi itu. Ah, sangat disayangkan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN