Dari studio, Lusa langsung menuju ke sebuah café yang cukup dekat dari tempat itu. Beberapa pemuda dan pemudi yang merupakan adik tingkat Lusa sudah menunggu di sana.
“Sorry, gue agak ngaret,” ujar Lusa setibanya ia di hadapan beberapa orang itu. Lusa melirik ke jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya dan mendapati bahwa memang benar ia sudah terlambat barang beberapa puluh menit. “Kalian jadi bikin acara pendakian bersama yang terbuka untuk umum? Udah dipikirin mateng-mateng?”
Salah satu di antara orang yang Lusa ajak bicara pun menyahut, “Rencana kasar udah ada, Bang. Cuma buat bikin rencana detail, kami butuh masukan dari Bang Lusa.”
Yang barusan bicara itu adalah ketua UKM Mapala tahun ini. Lusa tentu mengenal orang itu dan ia pun manggut-manggut ketika mendengar jawaban lugas yang orang itu lontarkan.
Lusa menarik kursi yang masih kosong di sana. Ia pun menjatuhkan bokongnya sebelum lanjut bicara.
Mengawali dengan gumaman panjang, Lusa akhirnya kembali buka suara, “Oke, gue paham maksud Goni. Jadi kapan rencana kalian bakal adain kegiatan ini?”
“Dua minggu dari sekarang,” jawab Senera, gadis yang Lusa temui semalam untuk ia mintai tolong menampung seorang gadis yang Lusa pungut dari jalanan.
“Undur kegiatannya!” balas Lusa telak.
Sontak saja, beberapa orang di sana termasuk Goni dan Senera jadi dibuat bertukar tatapan. Dengan isyarat mata, seolah mereka tengah memprotes balasan dari Lusa barusan.
“Bang Lus, tapi kami udah buka pendaftaran. Beberapa orang yang udah mendaftar tentu tahu rencana awal pendakian kami di tanggal berapa. Kalau misal kegiatannya diundur terus mereka di tanggal segitu udah ada rencana lain gimana?” Agil selaku wakil ketua memberanikan diri menyampaikan protes pada Lusa.
Lusa mengedikkan bahu dengan enteng. “Ya, kalian bego. Rencana belum dipikirin matang-matang, tapi udah koar-koar di luar sana. Pokoknya kegiatan itu harus mundur atau nggak usah aja sekalian.”
Semua orang terdiam. Mereka tidak bisa membalas kembali ucapan Lusa. Karena pada dasarnya, mereka cukup segan dan cenderung takut pada sosok Lusa yang merupakan alumni di UKM mereka. Kalau saja ilmu seputar pendakian dari Lusa tidak berguna untuk mereka, sudah pasti Lusa dijauhkan dari kegiatan UKM itu mengingat sifat Lusa yang cukup keras kepada adik-adik tingkatnya dan penerus UKM Mapala.
***
Lusa sudah kembali ke apartemen sejak beberapa jam yang lalu. Tetapi pemuda itu masih bingung memikirkan apakah ia harus keluar lagi malam ini atau tetap tinggal di tempatnya.
Lusa menggusah napas panjang. Kini ia tengah rebahan santai sembari menatap langit-langit kamar. Ia menyelipkan sebelah lengannya di bawah kepala sebagai bantal dan mengangkat satu kaki untuk disilangkan ke kaki sebelah.
Decakan kecil sesekali lolos dari bibir pemuda itu seiring dengan munculnya berbagai opsi di kepala. Tawaran dari Bu Wanda untuk datang ke sebuah party memang mampu membantu Lusa untuk meningkatkan relasi dan koneksinya ke banyak pihak. Tapi dengan Lusa datang ke sana, pemuda itu terkesan makin merendahkan harga dirinya. Lusa tentu tidak tuli untuk bisa mendengar selentingan-selentingan tidak enak tentang kebiasaannya bergaul dengan wanita-wanita yang lebih tua darinya.
“Peliharaan tante-tante,” gumam Lusa sembari menenggerkan senyum asimetris di wajahnya. Begitulah penilaian orang-orang terhadap pemuda itu. Dan yang lebih buruk, ia tidak memiliki kemampuan untuk membela diri karena itu memang benar adanya. Lusa hanya harus bersikap lebih hati-hati agar rumor itu tidak semakin menyebar dan berimbas merugikan kariernya.
Perhatian Lusa teralihkan oleh denting ponsel. Ia pun meraba-raba kasur untuk mendapatkan ponsel yang seingatnya ia campakkan di sana.
Setelah mendapatkan ponsel itu, Lusa mulai mengecek dari mana asal dentingan tadi. Oh, rupanya ada pekerjaan yang harus Lusa lakukan. Pemuda itu sempat mengembuskan napas panjang sambil menjauhkan rasa malas yang membuatnya ingin tetap berbaring di ranjang. Setelahnya, pemuda itu berjalan ke arah balkon apartemen.
Sambil berjalan ke arah balkon, Lusa melirik ke jam yang menggantung di dinding. Pemuda itu menyipitkan mata untuk memperjelas penglihatannya sekaligus memperkirakan waktu untuk rencananya kemudian.
Sepertinya Lusa masih punya cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang satu ini lalu pergi ke party.
***
Acasha memasukkan ponsel ke dalam saku. Rona kemerahan di pipi dan senyum mengembang tersungging di wajahnya. Gadis itu berjalan riang kembali ke kamar indekosnya.
“Habis teleponan sama siapa, sih?” tanya Bora lengkap dengan tampang penasaran ketika mendapati Acasha masuk ke kamar itu. Ia bahkan mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersila di atas kasur.
Acasha menggusah napas sambil berkacak pinggang. Karena terlalu lama bicara di telepon, ia sampai lupa kalau kedua sobatnya masih berdiam di dalam kamar itu.
Alih-alih menjawab pertanyaan Bora, Acasha justru balas bertanya, “Kalian mau sampai kapan di sini? Kan, beres-beresnya udah selesai dari tadi.”
“Yah, kita diusir, Yo,” keluh Bora pada Cayo yang duduk di sudut kamar karena sedang mengisi daya ponselnya di stopkontak yang ada di sana.
Cayo mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk menatap layar ponsel. Pemuda itu pun menimpali, “Sangat disayangkan. Padahal kita belum dikasih makan setelah bantuin Casha pindahan.”
Acasha memutar bola mata. “Bukannya aku mau ngusir kalian. Cuma ini betulan udah malam dan ini indekos putri. Kalau cuma Bora aja, aku nggak apa-apa. Tapi Cayo dilarang keras buat ada di sini sampai malam!”
Bora dan Cayo kompak tertawa dan itu membuat Acasha keheranan. Perasaan tidak ada yang salah dengan ucapan Acasha. Kenapa dua manusia itu mentertawakannya?
“Gini ya Casha,” kata Bora kemudian, “ibu kos lo kan nggak tinggal di sini. Nggak akan ada yang marahin lo kalau menyelundupkan cowok ke kamar malam-malam. Apalagi cowoknya si Cayo. Bilang aja dia abang lo, kelar kan?”
Acasha tampak tak sepaham dengan Bora. Gadis itu membalas, “Ya tetap aja, indekos ini punya aturan, Bora!”
“Kaku amat lo jadi orang, Cash. Aturan itu ada untuk dilanggar. Santai aja kenapa, sih?” Bora masih berusaha meyakinkan Acasha untuk melawan aturan.
Cayo yang sejak tadi memilih menahan diri, kini terlihat meletakkan ponselnya, dan bersiap menjadi penengah. “Udah-udah,” ujarnya, “nanti gelut lagi.”
Acasha dan Bora tampak kompak menoleh ke arah pemuda itu. Keduanya dengan patuh berhenti beradu mulut.
"Cabut makan, yuk. Habis itu baru gue dan Bora balik," saran Cayo kemudian. Sepertinya pemuda itu masih ingin berlama-lama berkumpul bersama kedua temannya dan mencari-cari agenda untuk bisa mengulur waktu.
Ketimbang Cayo dan Bora berdiam di kamar Acasha entah sampai kapan, Acasha pun menyetujui rencana itu. Ia menyambar jaket yang ada di gantungan di balik pintu dan mengajak kedua temannya keluar dari kamar indekos.
***
Lusa menghentikan mobilnya di salah satu parkiran hotel bintang lima, sesuai arahan Bu Wanda. Pemuda itu menyipitkan mata untuk mengamati keadaan sekitar. Perhatian Lusa baru teralihkan kala ponsel miliknya berdenting kecil.
Bu Wanda: Sudah sampai?
Lusa mengembuskan napas sembari tangannya sibuk mengetikkan balasan yang mengatakan bahwa dirinya sudah tiba di parkiran. Ketika pesan dari Bu Wanda kembali masuk, Lusa bergegas turun dari mobil.
Pemuda itu menjejakkan kaki di tanah dengan perasaan gamang. Rasa ragu itu kembali mengusik hatinya. Apa sebaiknya ia pergi saja dari tempat itu?
Lusa melirik ke arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Saat ini baru pukul sepuluh malam. Lusa masih punya kesempatan untuk mengurungkan niatnya menghadiri sebuah pesta perayaan yang dikemas dengan pool party dan dihadiri wanita-wanita sosialita yang biasanya punya maksud tersendiri ketika mengundang berondong sekelas Lusa.
Mungkin karena Lusa tidak kunjung menampakkan batang hidungnya di acara itu, Bu Wanda kembali mengirimi Lusa pesan. Bu Wanda bahkan menawarkan diri untuk menjemput Lusa ke parkiran, kalau-kalau Lusa tidak tahu di mana tepatnya party itu berlangsung.
Lusa: Tidak perlu, Bu Wanda. Saya sudah hampir tiba.
Setelah mengetikkan balasan, Lusa berlari-lari kecil memasuki hotel itu dan menuju ke lantai di mana party itu berlangsung. Masa bodoh kalau Lusa masih ragu dengan keputusannya. Ia sudah kepalang tanggung.
Ketika dentingan terdengar tanda lift terbuka di lantai tujuan, Lusa beranjak dari sana untuk selanjutnya menyusuri tempat itu. Pertama-tama, ia menemui Bu Wanda karena hanya wanita itu yang Lusa kenal betul rupanya.
Dan ketika Lusa berhasil menjumpai Bu Wanda, tentu wanita itu tidak sendirian. Ada empat sampai lima orang wanita sebaya Bu Wanda yang duduk-duduk mengelilingi meja yang sama.
Begitu Bu Wanda menyadari kehadiran Lusa, wanita itu langsung semringah. Tak menunggu lama, ia langsung memperkenalkan Lusa kepada teman-teman sosialitanya. “Jeng, ini lho yang aku ceritakan tadi,” ujar Bu Wanda kepada teman-temannya. Lalu wanita itu menoleh kepada Lusa, memberi instruksi agar Lusa memperkenalkan diri.