Papi Rafi ikut di mobilku sementara mobilnya ditinggal begitu saja di parkiran SU. "Gara takut, Pi." Kataku ketika mobil terhenti karena macet. "Udah ah, santai. Gak usah takut. Sesalah apapun kamu gak bakal sampe dibunuh kok. Paling banter diceramahin sama Nini sampe subuh." Ujar Papi santai. Aku tersenyum, tapi jantungku masih berdegup kencang. Pikiranku terbang ke Melani. Bagaimana bisa aku tidak mengetahui apa-apa? Bodoh sekali aku karena tidak mempercayai Akmal. Harusnya, saat masih di London. Saat aku masih bisa bertemu Melani, aku datang kepadanya. Minta maaf dan bilang akan bertanggung jawab atas semuanya. Bukannya berlagak tidak menyadari apa yang kulakukan. Ingat ataupun gak ingat, aku harusnya menemui Melani, bukan

