Pada saat yang sama, Marcell, yang digantung, tertegun. Beberapa orang di sampingnya bertanya, "Ada apa? Kita disuruh lembur lagi?”
"Nggak."
Dia merenungkannya dan berkata secara misterius, "Kalian pasti nggak akan percaya kalau aku bilang Nicho sekarang ada dimana?”
“Ah, palingan lagi rebahan di rumahnya!”
“Salah! Dia lagi di supermarket, nemenin istrinya belanja!”
Begitu kata-kata keluar, semua orang gempar.
Pada hari kerja, bos tidak pernah menyebut punya pacar. Tetapi dia tiba-tiba bilang sudah menikah. Mereka tertawa dan mengira dia sedang mengkhayal.
Lalu Inggo meneleponnya buat menanyakan kunci cadangan salah satu rumah yang baru selesai mereka bangun. Terakhir kali dia bertanya kapan Nicho akan menempati rumah itu.
Pria itu asal-asalan menjawab, “Nanti, setelah aku menikah.”
Dan pada saat itu Marcell berpikir, peluang untuk rumah itu terjual jauh lebih terbuka daripada menunggu Nicho menikah yang entah kapan terjadi.
Tetapi belum ada setengah tahun dia sudah membalikkan keadaan. Apakah dia sudah merencanakan ini sebelumnya?
“Kupikir pernikahan ini agak meragukan.” Satu-satunya wanita dalam tim IT, Rachel, mengigit bibirnya dan berkata hati-hati, “Paling ada deal-deal tertentu antara mereka.”
"Jangan bicara omong kosong! Aku nggak menggajim buat bergosip.”
"Emang faktanya gitu,” Rachel mengabaikan teguran Marcell, “sepupuku masih satu sekolah dengan mereka. Bukan rahasia lagi gimana bucinnya istri Nicho sama tunangannya yang dulu. Aku juga baru tahu kemarin. Tahu nggak yang paling seru?”
Sekelompok bujangan nerd yang pekerjaan sehari-hari bermain game itu langsung tertarik, dan ada yang menebak, “cewek itu ketemu sama Nicho, dan endingnya dia sadar kalau cinta sejatinya itu Nicho, begitu?”
“Pikirmu ini sinetron buatan produser dari negara Wakanda?” temannya tertawa.
Dibilang begitu yang lain ikut menimpali, “Patung yang nggak tertarik sama perempuan model Nicho saja bisa tiba-tiba menikah, berarti masih ada harapan untuk kita menemukan cinta sejati.”
Rachel menggembungkan bibirnya, tetapi hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Apanya cinta sejati? Nicho menikah karena tunangan cewek itu kabur pas hari H. istilahnya dia itu cuma… suami pengganti.”
~~~~~
Cecille yang tidak tahu sedang jadi bahan omongan orang yang tidak dia kenal masih sibuk di area daging membandingkan harga dar setiap bungkus kemasan daging sapi di lemari pendingin,
Sirloin, beef slice, iga, daging has, buntut, has dalam.Dia mau semua, dan daging Wagyu A5 yang besar dan menggiurkan itu seperti sedang melambai-lambai minta diajak pulang, direndam dalam cuka anggur merah, oregano, thyme, sedikit lada hitam kemudian dipanggang dengan tingkat kematangan well done.
Cecille bisa membayangkan daging juicy yang meleleh dalam mulutnya yang dinikmati dengan segelas anggur putih.
Ahh, lupakan! Dia mengembalikan lagi daging seharga setengah juta yang beratnya cuma dua ons. Ini terlalu mahal.
Dan Nicho hanya melihatnya dengan alis terangkat.
Dia tidak mengerti kenapa wanita kalau belanja selalu pilih-pilih? Bukannya rasa daging semuanya sama?
Cecille yang tidak tahu apa yang ada dalam benak Nicho mengambil sebungkus daging yang sudah diiris tipis dengan harga termurah.
Sebenarnya Cecille bukan tipe orang yang memusingkan harga saat belanja. Asal dia butuh atau dia suka ya dia ambil, berapapun harganya bayar.
Uangnya mampu untuk itu.
Tetapi karena ini pembayarannya dibagi dua sama Nicho, dia tidak bisa semaunya ambil barang tanpa lebih dulu melihat harganya.
Dia tidak mau membebani orang lain untuk kesenangannya. Sementara tadi dia melihat Nicho mengambil dua cup mie instan yang sedang promosi beli dua hanya sembilan ribu dari yang harganya semula empat belas ribu.
Kalau tidak salah, ini adalah merek yang sama dengan mie yang ia singkirkan dari kulkas.
“Kamu biasa makan ini?” Cecille tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
Nicho mengerutkan bibirnya, "Kecuali datang ke pernikahan kemarin, sudah hampir setengah bulan aku nggak keluar. Bisa dibilang, keberlangsungan hidup cacing dalam perutku cukup tergantung sama mie ini.”
Perusahaan berencana meluncurkan dua game baru dalam tiga bulan ke depan, dan itu cukup membuat timnya luar biasa sibuk melakukan pengujian internal.
Satu game yang sudah dikenalkan di platform belanja seperti tanam, siram pohon koin berhadiah, biarpun masih ada beberapa kekurangan itu sangat diterima masyarakat terutama para ibu-ibu, dan itu cukup membuatnya puas.
Tetapi untuk game battle yang menggunakan tokoh pewayangan masih banyak kekurangan, dan itu membuat semua orang merasa frustrasi.
Memandang dua bungkus mie dalam kereta belanja, Cecille menghela napas, “Yah, itu nggak mudah.”
Dan Nicho yang tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Cecille menanggapi dengan santai, "Nggak masalah, semua segera baik-baik saja.”
“Baiklah!” Cecille memutuskan, “Untuk makan malam hari pertama tinggal serumah, biar aku yang traktir. Kamu bisa makan enak tanpa pusing-pusing mikirin biaya patungan. Oke?” Cecille membuka lagi kulkas, dan mengambil daging yang tadi dia kembalikan.
Setelah satu menit barulah dia mengerti, istrinya yang baru menikah enggan makan daging yang harganya mahal karena mengira dirinya tidak sanggup membayar.
Setelah semuanya beres, Nicho mendorong kereta belanja ke kasir, hanya ada empat dari selusin kasir yang buka sore hari ini, dan mereka berbaris di depan ibu dan anak gadisnya.
Ada rak depan kasir dengan berbagai macam kemasan.
Cecille mengulurkan tangan dengan santai ke rak untuk mengambil sekotak barang berbungkus biru, tanpa sengaja dia menyenggol yang kardus di sebelahnya dan menyebabkan jatuh.
Nicho sigap, dia langsung membungkuk untuk membantunya, dan dia terpana melihat barang yang dilempar begitu saja oleh Cecille ke dalam keranjang.
Untuk apa dia membeli itu?
Setelah membayar, mereka berjalan keluar dari supermaket, pergi tempat parkir, dan kembali ke rumah. Di sepanjang jalan tak ada satupun dari mereka yang bicara.
Nicho memegang setir dan tidak cuma sekali melirik gadis yang duduk dikursi sebelahnya, menyenandungkan satu lagu.
Nicho memikirkan durex biru yang tadi diambil oleh Cecille.
Buat apa dia membelinya?
Apakah untuk persiapan nanti malam?
Meskipun Nicho sedikit messum saat menggoda Cecille, itu cuma messum di mulut. Pada kenyataannya, dia sama sekali tidak berpengalaman dengan wanita.
Dan inisiatif Cecille yang diluar dugaan itu cukup membuatnya terkejut, dan ada satu pertanyaan yang mendadak muncul di pikirannya
Apakah ini yang pertama, atau dia sudah pernah melakukan dengan Evan sebelumnya?
Tetapi masalah durex itu dengan cepat terlupakan ketika Nicho berhadapan dengan... kompor.
Memasang kompor tanam ternyata makan banyak waktu, dan gerakannya canggung. Cecille yang menahan emosi mulai tertekan.
“Nicholas, ternyata kamu bisa juga bodoh. Masa laki-laki nggak tahu caranya masang kompor! Minimal masang gas lah!”
Nicho agak malu, “Aku belum pernah menyentuh benda ini seumur hidupku.”
Cecille sambil mengetik di ponsel untuk meminta bantuan Google saat dia bertanya, “terus, kamu ngapain aja?
Dia berpikir sejenak, menjawab dengan lugas, “Online, main game!”
Cecille tidak punya apa-apa untuk dikatakan. Yang dia nikahi ternyata pecandu game.
Akhirnya Nicho menyerah dan memanggil salah satu satpam untuk datang dan membantunya memasang kompor gas.
Sambil menunggu Cecille duduk bersila melihat struk belanjaan sambil memisahkan antara miliknya dan milik Nicho.
Mereka sudah menghitung bersama dengan buku catatan.
Nicho mengambil mie, membuka tutup plastik dan menyeduhnya dengan air panas. Ketika duduk di dekat Cecille dia menawarkan.
“Mau? Lumayan buat ganjel perut sebelum kamu masak.”
Cecille meggeleng, dan Nicho tidak memaksa kemudian memakan mie itu sendirian.
Belanjaan belum semuanya selesai dibagi, saat Cecille teringat sesuatu
“Hei, Nicho. Seingatku kita belum milih kamar.”
Pria itu mendongak, “Sayangnya untuk kamar nggak bisa milih.”
“Hah? Kenapa?” Cecille bertanya, sangat ingin tahu.
Nicho membuang wadah mie, meminum air mineral dalam botol kemasan.
Sudut bibirnya terangkat, “Rumah ini cuma ada tiga kamar, satu untuk gudang, satu untuk bisnis dan pekerjaan, dan satunya lagi kamarku. Pilihanmu tidur di kamarku, atau di sofa ruang tamu.”
Satu kamar dan berbagi tempat tidur dengan Nicho? Cecille tidak pernah mengira ini akan terjadi sebelumnya,
Tetapi dia sudah setuju untuk tinggal di rumah ini, masa iya dia harus tidur di ruang tamu.
“Bagaimana kalau gudangnya di pindah, jadi aku bisa tidur di sana?”
Nicho menggeleng, “Nggak ada tempat kosong lagi.”
“Kamar bisnis dan pekerjaan. Bisa kan di jadiin satu sama kamar kamu?”
“Nggak bisa, terlalu berisik!”
Cecille belum menyerah, “Atau kita bikin kamar baru. Atau nggak bikin gudang aja buat tempat barang-barang yang di kamar.”
“Terlalu berlebihan. Nanti banyak ruangan kosong yang berguna kalau kamu nanti pindah dari sini.”
Nicho menatap wanita di depannya lama, sudut mulutnya berkedut. Jelas ada kegembiraan dan rencana khusus dimatanya yang berkedip yang seakan berkata.
Mau atau tidak, kamu tetap harus tidur denganku.
Di tatap seperti itu, mendadak tenggorokan Cecille terasa kering dan gatal.
Dia ingat tadi membeli permen rasa mint.
Kepalanya gadis itu menunduk, dan tangannya mengaduk-aduk plastik mencari kotak biru. Setelah menemukan kotak biru, sepertinya ada yang salah...
Warna kotaknya adalah warna kemasan merek biasa. Betul!
Tetapi tulisannya... berbeda.
Ada juga garis di bagian tengah kotak dengan tulisan yang berada dalam lingkaran
durex
Extra Safe classic four-in-one
Apa-apaan ini?
Bisa-bisanya dia membawa hal semacam ini ke rumah?
Cecille kaget tidak bisa menahannya dengan kuat, dan kotak itu jatuh ke lantai dan keburu ditangkap oleh Nicho.
Pria itu menyeringai, “Apakah kita akan melakukannya?”