“Siapa yang suruh tidur lagi?” Cecille masih kesal karena Nicho memeriksa ponselnya, nada suaranya tidak terlalu bagus. Matanya almondnya yang sedikit menyempit jatuh di tempat tidur dan membuka bibirnya, "Bangun dan lipat selimutnya!”
NIcho menghela nafas ringan di antara hidungnya, dan berangkat untuk merapikan selimutnya.
Melihat CEcille melipat tangan dengan sikapnya yang bossy, dia tertawa sedikit, jadi dia tersenyum tanpa henti, bercanda, "Cecille, kamu agak mirip sama guru perawan tua yang judes itu, ingat nggak?”
“Maksudmu, Miss Nella?”
“Lupa! Pokoknya yang sering razia rambut cowok-cowok keren!”
“Cowok keren?” Kelopak mata Cecille terangkat untuk menatap pria di depannya. Sekolah mereka sangat ketat untuk urusan disiplin dan kerapian, dan seingatnya, satu-satunya orang yang paling sering melanggar dan kena razia kolaborasi antara guru BP dan OSIS itu Nicho. “Maksudnya, kamu?”
“Siapa lagi. Bukannya setiap pagi kamu sengaja nungguin aku di gerbang belakang.”
Pernyataan penuh percaya diri yang meluncur keluar dari mulut Nicho membuat kedua alis yang indah itu terangkat, “Itu disebut mendisiplinkan siswa pemalas!”
Nicho menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan ekspresi percaya diri, “Tapi kamu selalu mengincarku. Ingatkan, tiap kali disuruh razia, yang pertama kali kamu lihat aku. Sampai cowok-cowok yang lain ikutan manjangin rambut, tapi kamu selalu tau kalau rambutku dua centi lebih panjang dari mereka.”
“Wajahmu waktu itu, persis kayak sekarang. Mau kelihatan galak, tapi menurutku jadinnya malah lucu menggemaskan.” Nicho tetap tidak bisa menahan tawa ketika memikirkan adegan aslinya.
Cecille menjadi salah tingkah saat Nicho kata-kata membawa ingatannya ke masa lalu, terus terang dia memang sengaja mencari-cari kesalahan Nicho karena si biang kerok itu selalu mencari gara-gara dengan Evan.
Dia lagi jatuh cinta waktu itu, dan cintanya masih buta. Dia menggunakan posisinya sebagai ketua komite disiplin untuk menekan Nicho, dan membalaskan dendam Evan untuk menarik perhatian pria itu.
Misinya menjadi lebih mudah dan tidak kentara karena Nicho sendiri adalah tipe siswa yang lebih sering melanggar dari pada mematuhi peraturan.
Siapa yang sangka si korban membongkar itu semua setelah bertahun-tahun kemudian.
Ketika melihat Cecille hanya diam, pertanyaan Nicho yang seolah menebak pikirannya terlontar keluar, “Kamu ngincer aku buat balasin dendam si banci Evan kan? See, hasil apa yang kamu dapat dari kebucinan kamu sekarang.”
Cecille melihat senyuman di muka bantalnya, tampan dan terbuka, matanya linglung sejenak, dan tiba-tiba melemparnya dengan bantalan sofa supaya pria itu diam.
“Kamu juga sering banget melanggar peraturan! Sengaja mau menarik perhatianku, iya?”
“Kalau iya kenapa? Keberatan?”
Cecille terkejut dengan jawaban NIcho, dan dia tiba-tiba berhenti tertawa, tampak bingung.
Suasana membeku untuk beberapa saat.
Mengingat pengalaman sebelumnya saat membahas perasaan pria itu, Cecille tidak mau menanggapi kata-kata Nicho dengan serius. Tetapi dalam hatinya tetap digantungi pertanyaan.
Benarkah dia melakukakannya dengan sengaja?
Kenapa? Apakah dia benar-benar menyukainya?
Kalau jawabannya iya, antara dirinya dan Nicho, dia tidak tahu siapa yang paling diuntungkan dalam pernikahan ini.
Nicho tidak berbicara lagi, hanya menatapnya, kegembiraan dan amarahnya tidak terlihat, matanya tebal seperti tinta, dan emosinya kabur dan sulit ditebak.
Tidak ada emosi yang terlihat jelas di matanya, tapi itu membuat stres yang tak bisa dijelaskan.
Cecille membuang mukanya, berdiri masih dengan ekspresi cemberut, “Aku mau bikin sarapan. Rapiin tempat ini sebelum kamu perg!”
Tepat ketika Cecille menjatuhkan perintah, ponsel milik Nicho di atas meja berbunyi.
Siapa yang meneleponnya pagi-pagi buta begini?
Nicho bergerak malas, mengambil ponselnya yang berbunyi di atas meja dia duduk, sendi jari yang ramping terlihat jelas dengan cincin kawin mereka yang sederhana melingkar di sana.
“Kenapa pagi-pagi menelepon?”
Cecille masih ada di sana, menatap pria tampan di seberangnya untuk waktu yang lama.
Manusia bar-bar ini, apa dia nggak tahu ada kata ‘halo’ buat menyapa orang di telepon?
Setelah jeda sebentar, Nicho kembali bertanya.
“Kapan dia sampai dari Paris? Ok, aku segera ke sana…pesan juga buket yang sama ditempat kemarin…terserah, asal jangan turut berduka cita! tagihannya Jadiin satu saja dengan yang sebelumnya.”
Siapa yang baru pulang dari Paris? Dengan bunga, itu seharusnya perempuan.
Diam-diam Cecille mencibir. Katanya nggak punya pacar atau dekat dengan seorang gadis.
Tetapi belum dua puluh empat jam, sudah dua kali dia mendengar Nicho memesan bunga.
Ternyata manusia bar-bar ini tahu juga bagaimana harus bersikap di depan perempuan.
Cecille benar-benar penasaran gadis mana yang bisa membuat Nicho melakukan hal itu
Sayangnya tidak ada sedikitpun petunjuk.
Merasakan tatapan penuh tanya dari wanita yang berdiri di depannya, Nicho mengangkat matanya dan meliriknya. “Ternyata kamu juga suka menguping.”
Cecille melayang pergi secara refleks, batuk ringan, dan bertanya seolah-olah untuk menghilangkan rasa malunya, "Siapa juga yang nguping, geer!”
Sorot mata Nicho yang seolah bertanya, ‘terus ngapain kamu masih di sini kalau bukan mau nguping?’ membuatnya berkata asal-asalan, “aku mau bikin sarapan. Mau sekalian nggak?”
“Yah, jangan repot-repot. Asalkan nggak keasinan, aku nggak keberatan makannya.” Kata Nicho tanpa repot-repot menutup teleponnya, “Atau bikin aja semangkuk mie pakai telur. Makanan instan enak dan gampang dibuat, bahkan anak kecil juga bisa.”
Mendengar permintaannya yang tanpa malu-malu itu, Cecille beranjak dengan ekspresi kesal.
Sudah ditawari, pakai nyindir lagi!
Meninggalkan Nicho di ruang tamu, dia mau tidak mau ingin mengangkat jari tengahnya dengan tidak senonoh kepada pria itu.
Mendapat perlakuan tidak senonoh barusan, Nicho tidak marah. Dia malah tertawa karena merasa sedikit lucu melihat mata melotot Cecille yang bukannya seram, malah kelihatan imut menggemaskan.
Ketika di dapur Cecille membuka pintu kulkas, Nicho menyalakan TV, rumah yang tadinya sepi menjadi lebih hidup.
Karena semalam langsung masuk kamar setelah makan, Cecille pikir keadaan dapur terutama meja makan dan tempat cuci piring berantakan.
Biarpun suka memasak, Cecille paling benci pekerjaan setelahnya. Kalau nggak yang terpaksaaaa banget, dia malas mencuci piring terutama panci dan penggorengan kotor dan berminyak.
Tetapi, begitu pagi ini dia masuk ke dapur dalam keadaan kesal, dia menemukan area disana sangat bersih bahkan satupun sendok kotor tidak ada.
Bibirnya yang ditekuk menjadi sedikit lebih santai.
Yaaah, dengan temperamen tengilny itu, setidaknya Nicho cukup tahu diri dengan mengerjakan tugasnya tanpa harus disuruh.
Dengan suasana hati yang membaik, Cecille mulai mencuci beras, cincang bawang tumis sampai harum, kemudian masukkan beras tuang air kaldu dan masukkan bumbu-bumbu, aron sampai beras lembut lalu tambahkan daun bawang yang sudah dicincang halus ke dalam arona beras sesaat sebelum airnya mengering.
Sambil menungu air di beras kering atau asat, dia memanaskan minyak ayam di wajan yang berbeda. Tumis bawang putih sampai harum, masukkan ayam cincang, kecap manis, saos tiram, minyak wijen, lada, dan tidak lupa sedikit garam.
Setelah air mengering dan ayam matang, Cecille membagi masakannya menjadi dua bagian, yang masih dalam wajan ia beri tambahan jamur itu untuk Nicho, sedangkan sisanya dia biarkan polos buat dirinya sendiri.
Kemudian dia mengambil empat mangku pyrex tahan panas, masukkan dua sendok ayam kecap ke setiap mangkuk, dua sendok makan beras aron ke atas ayam, tambahan air kaldu sisa rebusan ayam ke setiap mangkuk, lalu kukus selama setengah jam.
Tubuhnya yang berkeringat setelah masak membuatnya gerah dan tidak nyaman. Setelah menumpuk semua kotoran di wastafel, Cecille kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Sebenarnya ada kamar mandi dekat dapur. Tetapi karena peralatan mandi dan semua pakaiannya ada di kamar utama, dia harus mengambilnya dulu ke sana.
Cecille melangkah masuk ke kamar yang pintunya terbuka. Matanya yang indah menyapu tempat tidurnya semalam yang sekarang dikuasai Nicho.
Selimut yang tadi ia kasih ke pria itu terbentang diatas kasur, menutupi tubuhnya dari kepala sampai kaki. Melihat itu, mulut Cecille berdecak.
Bukannya mandi, Nicho malah tidur lagi di sini. Dasar pemalas!
Dan tanpa berpikir panjang lagi membuka lemari untuk mengambil baju ganti, lalu mendorong pintu kamar mandi yang tidak terkunci.
Tetapi ketika baru sebagian tubuhnya yang masuk, pintu kamar mandi terbanting terbuka.
Orang-orang di dalam melangkah keluar, Cecille tersandung kakinya dan menabrak bagian atas tubuh yang kokoh di depannya.