OwG 11

1114 Kata
Tepat seperti perkiraan  Anye dan Christian, saat ini Cecille memang lagi panik. Menyeret  bagian bawah gaunnya yang lebar ke sana kemari, dia kelihatan seperti Cinderella yang sedang mencari sepatu kacanya, sebelum pangerannya datang menjemput. Tetapi Cecille punya banyak sepatu, yang dia nggak punya sekarang ini adalah pangeran. Pangeran yang menggandeng tangannya berjalan ke altar, dan mengucapkan ‘saya bersedia’ di depan pendeta. Pangeran yang  membantunya membungkam mulut orang-orang di luaran sana, dan pangeran yang menyelamatkan wajah nama keluarga kakeknya. Berdiri dengan telepon di tangannya, Cecille menggigit sudutnya menahan tangis. Dirinya berkejaran denga n waktu. Namun dia sama  sekali belum menemukan pangeran yang sesuai kriterianya. Karena nama laki-laki di kontak teleponnya tidak ada satupun yang cocok, dia menyandarkan nasib pernikahannya kepada Unge dan Arling sekarang. “Udah dapet belum, Nge?” Unge duduk di sisi tempat tidur yang berantakan, wajahnya kusut, dan matanya perih  saking lama kelamaan melihat layar ponsel. Bolak balik ditanya dengan pertanyaan yang sama dia mulai frustasi. “Marvin Loekito, Ernest Wijono, Raiden Soedjono, dan si kembar Jeno, Jemin. Cuma lima nama itu yang tersisa di kontakku. Kamu pilih yang mana?” Cecille menggeleng, “Jangan, jangan mereka, levelnya jauh di bawah Evan. Cari kandidat lain.” “Kandidat lain yang mana? Dibilang itu udah yang  terakhir, habis. Nggak ada lagi! Coba Arling.” Dari panggilan video suara Arling bergema, “Udah ku saranin, Christian. Cece nggak mau.” “Kenapa nggak sekalian Kenny aja?” kata Unge agak sarkastik, dan Arling menanggapinya serius. “Emangnya Cece mau? Kenny kan asisten Evan.” “Udah tahu Cecille nggak akan mau sama orang yang deket sama Evan. Kenapa malah kamu tawari Christian?” Dua orang itu mulain berdebat dengan argumennya masing-masing. Saat berpikir siapa kandidat terbaik diantara nama-nama yang sudah mereka sortir, Cecille mendengar Arling berkata, “Iya kan gitu, cara balas dendam terbaik buat membalas orang yang udah mengkhianatimu adalah, dekati orang yang paling dekat dengannya atau musuhnya. Lah aku kan ndak tau siapa musuh Evan.” Musuh Evan? Secara tiba-tiba dia mendapat pencerahan. “Siapa diantara kalian berdua yang punya kontak Nicho?” “Nicho itu Sean? Maksudku Nicholas Sean?” Arling  memastikan supaya dia tidak salah. Melihat anggukan Cecille yang berkata, “Iya dia.” Arling mengakhiri panggilan setelah sebelumnya memberitahu. “Ko Robert pernah kontak dia. Wait, aku tayain dulu.” Setelah menutup telepon Cecille melihat sekilas pemberitahuan pada ikon WA dan mengkliknya. Ada puluhan pesan, semuanya menghibur Cecille setelah melihat pemberitahuan dari Kenny tentang penundaan pernikahan. Dia tidak punya banyak teman di sini dan semua yang mengirim pesan adalah teman SMA yang nggak begitu akrab dengannya, jadi dia terlalu malas untuk menanggapi. “Ce, tentang Nicho, aku kok nggak yakin dia mau ya?” Unge berkata sambil membantu Cecile menarik kursi bulat untuk dia duduk. Cecille menjawab, “Dia pasti mau.” “Kamu kok bisa yakin banget sih?” Cecille berkedip, “Dia sendiri yang bilang begitu.” Dia memberi tahu Unge tentang pertemuannya dengan Nicho sebelumnya dan bantuan yang dia tawarkan dengan tiba-tiba. “Mencurigakan!” Unge tiba-tiba menyadari, dan dia tiba-tiba memikirkan sesuatu, bahkan lebih bingung, “Tapi gimana kalau menolak? Atau dia minta imbalan?” “Aku sudah tahu apa yang dia incar.” Unge tiba-tiba memikirkan sesuat, dia menyipitkan matanya dan tersenyum. "Aku ingat, kenapa banyak  cewek-cewek yang benci sama kamu jaman sekolah.” Mulut Cecille mencibir, “Paling nggak jauh-jauh dari Cecille sombong, angkuh, sok, atau nggak jauh dari hasutan Anye. Basi!” “No, Nicho juga ada andil di sini.” Cecille mengangkat alisnya, "Apa hubungannya?” "Nicho cuek dan dingin saat itu. Dia tidak terlalu memperhatikan gadis-gadis itu, tetapi dia selalu ngomong sama kamu. Inget nggak, tiap pagi yang pertama kali ditanyain Nicho, mana Cecille?” Cecille tidak tahan untuk tidak memutar matanya, "Tau kenapa dia nyariin? Buat nyontek PR! Bayangin, udah capek-capek mikir sampai begadang eh besoknya dicontekin.” Kalau ingat masa lalu, Cecille memang masih sewot sama Nicho. Dengan kemalasannya itu, nggak heran ketika keluarganya jatuh, dia nggak sanggup membawanya lagi ke atas. Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Cecille melihatnya, ketika tahu itu dari Arling, ujung telunjuknya menggeser layar. Serangkaian angka muncul di layar. ‘Arling udah kirim nomornya.” Dia memberitahu Unge. “Ya udah kamu telepon,” Unge bangun dari duduknya, “kabari kalau dia Ok, aku mau lihat situasi di luar.” Ruangan itu sunyi setelah Unge meninggalkan ruangan. Cecille melihat dua angka dengan kombinasi nomor unik. Cecille yakin ini nomor yang dibuat khusus, bukan nomor yang dijual di pinggir-pinggir jalan. Dia ragu-ragu sebentar, dan akhirnya menggunakan ibu jarinya untuk menyentuh tombol panggil. Nada panjang terdengar, dan itu berdering berulang-ulang tanpa ada yang mengangkat. Cecille menunggu lama.  Ketika dia hampir menyerah, dan memutuskan untuk mengirimi pria itu pesan, panggilannya tersambung. Dalam sekejap, kata-kata yang disiapkan tersedak di tenggorokannya. Cecille terdiam, keheningan yang aneh berlangsung selama sepuluh detik, dan panggilan itu ditutup tanpa ampun oleh Nicho tanpa ada basa-basi. Cecille meringis mendengar nada panjang. Dengan enggan, dia menghela nafas dan menenangkan diri, lalu memutar telepon lagi. Kali ini, diangkat dalam satu kali dering. “Saya nggak punya kakak, adik, sepupu, atau anak, dan saya juga bukan orang kaya. Jadi percuma kamu nelepon ke nomor ini buat minta tebusan. Hubungi keluarga lain!” Cecille mengerutkan hidung mendengar rentetan kalimat panjang dari suara magnetis yang menyapa telinganya. Orang ini memang abnormal. Sampai caranyan menjawab telepon nggak seperti kebanyakan orang normal. “Kalau sudah jelas, saya tutup dan jangan berani beraninya telepon lagi!” Sebelum panggilan itu terputus, Cecille memanggil. “Nicho, ini aku.” Tidak ada tanggapan, dan mengira Nicho tidak mengenalinya, Cecille melanjutkan kalimanya, “Cecille.” “Aha, ternyata calon pengantin, aku kira siapa, ada masalah apa sampai meneleponku saat sibuk?” suara malas pria itu ada campuran sedikit serak, nadanya santai seperti masa mudanya. Cecille nggak kaget lagi dengan sikap kebiasaan Nicho, tetapi pada saat ini dia merasakan sedikit ejekan dari suaranya. Samar-samar dia ingat dengan kata-katanya saat bertemu pria itu tadi ‘terima kasih, tapi aku terlalu sibuk untuk minta bantuanmu.’ Mengabaikan ejekan itu Cecille membuang jauh-jauh gengsi dan perasaan malunya.  "Nicho, kamu--” ucapannya terputus, suara Cecille sedikit turun, melihat jam dinding yang bergerak di dinding, dan berkata dengan serius, "maukah kamu menikah denganku?” Ketika kata-kata itu jatuh, ada suara teredam di sisi lain. Panggilan telepon terputus lagi. Cecille melihat layar ponselnya bertanya-tanya. Kenapa dia tutup? Mungkinkah dia takut makanya ditutup?   Bahkan jika hubungan antara keduanya buruk, cinta teman sekelas kecil itu setipis kertas, tetapi dia bukan serigala atau macan tutul yang akan memakannya.   Cecille melihat log panggilan di layar, sedikit mengernyit, dan menghela nafas diam-diam.   Lupakan saja, siapa pun yang tiba-tiba diajak menikah pasti tidak bisa menerima lamarannya dengan tangan terbuka.                      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN