Meskipun suasana ditempat duduk kelompok yang memiliki kasta tertinggi di perusahaan itu agak tegang dan canggung karena kata-kata Evan, di mata orang luar mereka terlihat sangat akrab dan harmonis.
Posisi Anye sebagai satu-satunya perempuan di sana, dan bisa duduk dengan santai di sebelah Evan membuat teman-temannya iri
Ada yang kurang kalau melakukan sesuatu nggak difoto atau divideo-in buat dipamerin ke pengikut mereka di media sosial. Beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka, mengambil foto dengan sudut tertentu, update instastory, dan menge-tag teman-teman mereka yang lain dengan caption yang menggiring opini.
“Party! Ada yang tau di mana? Upsss…abaikan yang dibelakang.”
#prvtepartywChristian#kitasemuaberhakbahagia#aaikanorgdibelakang.
Pada saat itu, Evan menyandarkan lehernya ke belakang kursi, matanya terpejam dan dadanya naik turun sedikit, seolah-olah dia sedang tidur.
Kepalanya mulai pusing dan merasa seperti melayang. Kulit wajahnya yang terang sedikit memerah karena terlalu banyak minum.
Christian yang masih setengah tersadar berkata, "Panggil sopir, suruh antar Evan pulang!”
Orang-orang mabuk dan tidak bisa tidur di sini..
Ketika sopir membawa Evan, Anye ikut berdiri berjalan ke mobilnya dengan kaki yang melayang dan tidak bisa berjalan lurus.
“Non Anye bawa mobil sendiri?” sopir yang mendukung tubuh Evan bertanya dengan khawatir.
Saat Anye mengangguk dan mengeluarkan gumaman tidak jelas, sopir segera mencegah, “Jangan, Non. Bahaya banget tuh bawa mobil sambil mabok.”
“Jadi aku pulangnya gimana dong? Terbang?” gadis itu ketawa senang.
Evan perlahan membuka matanya dan menatap gadis itu sebentar, alisnya sedikit lelah, dia bersenandung, masuk ke mobil dan bergumam saat memberi perintah ke sopir, "Ayo pergi."
“Tunggu sebantar, Pak”
Anye tidak menolak dan hanya bisa pasrah ketika dengan tiba-tiba sopir mendorongnya ke kursi penumpang belakang.
Pria itu takut terjadi sesuatu kalau Anye mengendarai mobilnya sendiri. Tanpa lebih dulu bertanya ke Evan boleh atau tidak, sopir berinisiatif memberi tumpangan.
Dalam pikirannya, Evan dan Anye sudah lama kenal dan mereka juga akrab, nggak mungkin Evan memarahinya karena memberi tumpangan ke Anye yang sedang mabuk.
Yang tidak sopir ketahui adalah, Anye tida benar-benar mabuk, kesadarannya masih ada setengahnya.
Tercium bau alkohol yang menyengat dari kedua penumpang yang duduk di kursi belakang. Tanpa diminta, sopir membuka sedikit jendela supaya udara segar masuk.
Sepanjang jalan sepi, Anye duduk meringkuk dalam lengan Evan, merasakan napas pria itu diatas kepalanya.
Laki-laki ini, dia nggak melepasnya begitu saja ke tangan Cecille.
Kalaupun tidak bisa memilikinya, minimal dia harus membuat Cecille sakit hati karena hanya dijadikan cadangan. Begitu cara kerja Anye.
Angin malam yang menerobos ke dalam kabin melalui jendela membuat Anye semakin dalam masuk ke dalam lengan Evan untuk mendapat kehangatan.
Evan yang tidak sadar balas memeluk lengan Anye. Dalam posisi yang ambigu itu, Anye mengaktifkan kamera ponsel yang dia pegang di tangannya.
Anye masih tinggal di rumah milik Hartono, Clara yang melarangnya pindah dari sana. Karena sering pulang malam, bahkan dini hari untuk keperluan pekerjaan. Anye memiliki kunci sendiri supaya tidak mengganggu penghuni rumah.
Hampir jam dua malam ketika mobill berhenti di depan rumah Hartono yang besar. Anye memutar kunci dan membuka pintu dengan suara pelan.
Alangkah terkejutnya dia, ketika mau naik keatas, suara Hartono menegurnya dari ruang tengah yang gelap.
“Anye!”
“Astaga, Om bikin kaget aja.” Anye menepuk jantungnya yang hampir melonjak keluar, “Kok belum tidur?”
“Dari mana kamu jam segini baru pulang?”
“Tadi ada pemotretan, terus nemenin Evan ke pesta temannya.”
Mendengarnya menyebut nama Evan, bola mata Hartono melonjak, “Bagaimana hubunganmu dengan Evan sekarang.”
“Baik, kenapa? Barusan dia yang antar aku pulang. Aku nggak tau sih kalau Om Har masih bangun, kalau tahu aku iyain waktu dia mau mampir.”
Kebohongan yang diucapkan dengan manis oleh Anye membuat sudut bibir Hartono terangkat membentuk senyum lebar.
Pernikahan Cecille memang gagal, tetapi itu tidak membuatnya merasa khawatir. Masih ada Anye yang memegang hati Evan dengan erat. Berkat keponakannya ini, dia bebas dari rasa khawatir Evan akan menarik modal dari perusahaannya.
Setidaknya untuk tahun yang krusial seperti sekarang ini.
Dulu, kalau bukan karena istrinya yang menerima Anye dengan tangan terbuka, Hartono tidak akan merawat seorang gadis kecil yang begitu saja muncul di rumahnya.
Manda, ibu kandung Anye yang bertahun-tahun meninggalkan kampung halamannya, tiba-tiba datang ke rumahnya dalam keadaan sakit parah.
Sempat merasa curiga dan bertengkar hebat dengan Hartono karena Manda dan anaknya, akhirnya Clara menerima ibu dan anak itu begitu mengetahui kalau mereka adalah adik dan keponakan dari Hartono yang kabur dari rumah karena hamil di luar nikah dan hubungannya dengan kekasihnya tidak direstui.
“Satu-satunya penyesalan papa dan mamaku sebelum mereka meninggal adalah, mereka nggak sempat ketemu Manda dan anaknya.” Hartono ingat, dia berkata seperti ini saat menjelaskan ke Clara dulu.
“Memangnya kalian nggak ada usaha buat nyari?”
“Sudah nyari kemana-mana,” Hartono menyahut dengan raut wajah antara sedih dan menyesal, “cuma zaman dulu nggak kayak sekarang, yang viral di medsos terus ketemu dua hari kemudian. Papaku sempat nyebrang ke Bali malah begitu dia dengar orang dari desa sebelah lihat Manda di sana. Bayangin, orang sudah tua, sakit, dan dengan duit seadanya nekat ke daerah yang belum pernah beliau datangin, itu demi menebus perasaan bersalah ke Manda. Tapi anak ini… dia nggak pernah peduli sama perasaan orang tuanya!”
Ketika Hartono berkata dengan penuh emosi, Manda hanya menangis dan menangis sampai napasnya sesak dan dia jatuh pingsan.
Clara merawat adik ipar dan keponakannya dengan tulus. Manda tinggal bersama mereka selama hampir setahun sebelum dia menyerah dengan penyakitnya.
Bertahun-tahun kemudian, dia yang memetik hasil dari buah yang ditanam oleh istrinya.
“Nggak apa, nggak apa-apa. Ini juga sudah terlalu malam, ajak Evan ke rumah lain waktu.”
Anye mengangguk, “Sejujurnya, dia masih agak marah karena tindakan Cecille yang semena-mena menikahi orang lain. Om tahu sendiri kan bagaimana laki-laki? Biarpun mata dan hatinya melihat ke tempat lain, tapi egonya pantang diinjak-injak.”
Urat di dahi Hartono bergerak-gerak, pria itu menjadi marah ketika dia teringat dengan anak kandungnya yang pembangkang. Seorang anak yang dilahirkan dengan darah dagingnya sendiri selalu keras dan tinggi, seolah-olah mereka berutang ratusan juta padanya.
Hartono sangat marah dan mengeluh tentang Cecille yang bukan sekali ini saja mengambil keputusan yang bertentangan dengan dirinya.
“Aku akan memaksanya datang dan meminta maaf ke Evan, sampai berlutut bila perlu.”
Dan Anye yang tidak mau Cecille datang ke Evan dengan cepat menanggapinya dengan, “nggak usah, nggak usah! Biar Evan tenang dulu, setelah itu baru aku bilang ke dia supaya datang ke rumah.”
Dengan mudah, Hartono dibujuk dengan janji dan kata-kata manis yang meluncur dengan lancar dari mulut Anye.
Anye selesai melakukan pertunjukan dan berpikir itu baik-baik saja, pamit dan berjalan ke atas.
Hartono tidak menghentikannya. Dia mengawasinya naik ke atas, sebelum gadis itu menginjak anak tangga pertama, Hartono kembali memanggilnya.
“Anye!”
Anye menoleh, tangan kirinya masih berada di pegangan tangga, “Iya, Om?”
“Om mengandalkan kamu sekarang.”
Anye melihat Hartono dengan senyum samar di bibirnya, “Mengandalkan buat?”
“Untuk Evan. Om akan kasih kamu imbalan yang setimpal kalau kamu bisa mempertahankan hubungan dengannya, apalagi sampai menikah.”
“Aku nggak butuh imbalan uang. Om pasti tahu kan apa yang aku mau?”
Setelah kalimat ini, Hartono terpana.
Dia tahu apa yang selama ini diinginkan oleh Anye. Karena posisinya yang lemah di perusahaan, dia agak berat mengabulkan permintaan anak itu.
Tetapi kalau Anye berhasil menikah dengan Evan, dia akan mendapat pendukung yang kuat. Berpikir begitu, Hartono segera mengangguk.
“Apapun yang kamu mau.”
Diberi janji seperti itu, Anye semakin bersemangat. Setelah membersihkan riasan yang seharian menempel di wajahnya dia mandi, lalu menerapkan berbagai produk kecantikan untuk kesehatan dan kekenyalan kulit wajahnya.
Dengan masker wajah sekali pakai yang menempel, Anye duduk diatas tempat tidur dan membuka layar ponselnya.
Sudah ada centang dua biru pada pesan yang tadi ia kirim ke Cecille, tetapi tidak ada sedikitpun tanggapan dari sepupunya.
Mungkin foto tadi terlalu biasa, jadi tidak membuatnya panas dan terbakar.
Berpikir begitu, Anye memilih beberapa foto yang tadi dia ambil di dalam mobil dengan hati-hati. Setelah menemukan yang paing mesra, dia mengirimkannya ke Cecille yang ia samarkan dengan link iklan.
Bohong kalau kali ini dia tidak mati karena cemburu!
Jawaban yang datang lima menit setelahnya membuat dia muntah darah saking kesal.
“Bisakah dia mengirim sesuatu yang tidak tahu malu seperti ini?”
~~~