LAUNDRY BERSAMA DEWI

2049 Kata
RUANG LAUNDRY Sore itu aku sedang kerepotan, banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan. Maklum, pagi tadi aku dan Asti terlambat datang sehingga dewi dan Anwar harus over shift sampai jam 9 pagi. Sekaranh sudah jam 5 sore, aku masih merapikan handuk handuk untuk tamu dan seprai yang sudah dicuci anwar semalam, belum lagi masih ada pekerjaan lain yang belum aku selesaikan... Hahft... Tiba tiba anwar menelpon... "Bro, sorry banget yak kayaknya gue gak bisa masuk nih malem ini, gue masih selimutan, menggigil, meriang gue bro... nanti habis magrib baru mau ke dokter dianter istri..." Ungkapnya. "Hmmm... Yaudah war, gak apa apa, lu istirahat aja dulu, santai. Gue over shift gak apa apa, tar gue sampein ke Teh Asti..." "Iya, makasih yak bro.. oh iya, ada sisa gue semalam tuh kira kira setengah botol, gue taro di kulkas pake bungkus plastik hitam, di paling bawah... Ok!? Makasih yo bro" "Hmm... Yak yak.. makasih, lekas sehat bro" jawabku. Ya, Mungkin karna semalam hujan deras, ditambah lagi anwar minum semalam, hehe, entah apa yang dia minum malam itu. Aku pun turun menemui Asti di lobby... Di lobby, ternyata Dewi sudah datang, padahal masih jam 17.35 Kulihat wajah dewi kurang segar, seperti kecapean, dia masuk ke pantry dan duduk... Aku pun menghampiri Asti lebih dulu untuk menyampaikan kabar tentang anwar... "Teh, anwar ijin gak masuk malem ini, dia meriang katanya, gak apa apa, saya over shift gantiin dia" "Iya zech, tadi juga dia udah telpon" jawabnya Yap, aku dan asti sudah berjanji semalam, kita tetap profesional di depan anwar, dewi, dan juga bu susi. Kami harus merahasiakan hubungan kami untuk saat ini, karna akan terasa aneh jika yang lain tau tiba tiba kami memiliki hubungan yang spesial, apalagi aku orang baru disini. Setelah itu aku pun menghampiri dewi di pantry... "Kenapa dew? Kok lemes banget sih? Emang gak tidur tadi siang?" Tanyaku. "Tidur sebentar, tapi pusing" jawabnya. "Semalem aku ikut minum sama anwar" bisiknya perlahan. "Tapi gak banyak sih, tanggung kali yak? Makanya malah jadi pusing" "Hemm... Pantesan... Ada ada aja kamu dew... Yaudah, over handle sana sama teh asti! Dah mau pulang tuh orangnya" Aku pun kembali naik ke lantai 2 Di koridor saat aku mau membuka pintu ruang laundry, tiba tiba seseorang memanggilku.. "Mas... Mas, mas..." Seorang wanita cantik memanggilku di depan pintu kamar 201. Sepertinya butuh bantuan... Aku pun menghampirinya... "Ada yang bisa saya bantu bu?" Tanyaku... Wow, seorang wanita cantik, usianya mungkin sekitar 35tahun, dengan rambut yang basah terurai, dan hanya menggunakan kemben handuk yang disediakan hotel, butir butir air segar masih mengalir menghiasi wajah, leher, dan bahunya yang putih mulus. Sepertinya ia baru selesai mandi. Setelah kuperhatikan, ternyata ini salah satu langganan hotel kami, kalo tidak salah sudah menjadi member disini. Setahuku dia suka check in dengan membawa laki laki muda seusiaku, dan dengan laki laki yang berbeda. Tapi tadi siang kulihat dia datang sendirian tanpa membawa "peliharaan"nya, hehehe... "Ini mas, kenapa nih water heaternya kok gak nyala ya? Airnya masih dingin gak panas panas. Saya gak bisa mandi kalo gak pakai air hangat" jawabnya... "Oh, ya, saya periksa dulu ya bu..." Aku pun permisi masuk ke dalam untuk memeriksa mesin water heater yang ada di dalam bathroom... Kuperiksa mesin water heaternya ternyata baik baik saja, hanya memang agak lama agar airnya jadi panas, dan menurutku itu biasa, aku kurang paham, karna anwar yang biasa menangani hal semacam ini... Tak berselang lama, alangkah kagetnya aku, tiba tiba wanita ini memelukku dari belakang, saat aku masih fokus memperhatikan keran dan shower. Terasa di punggungku, ia sudah tidak menggunakan handuknya, karena terasa basah dan kenyal toketnya menyentuh punggungku... "Bu... Maaf..." Celetukku, sedikit menegurnya "Gak apa apa mas, mau ya temenin saya sebentar, sebentar aja kok mas... Aku lagi sendiri nih, brondongku lagi gak ada yang bisa nemenin malem ini... Yaaa... Mau yaaa..." Rayunya berbisik sambil menjilati kupingku... Wah, seperti dapat durian runtuh... Tapi aku harus profesional, ini jam kerja dan tempat kerjaku... Emmm... Tapi kalo ada kesempatan seperti ini, rasanya munafik kalo aku harus menolaknya. Hehehe... "Eeeuh... Ok bu, ok... Tapi saya minta waktu sebentar ya bu, saya mau merapikan kerjaan saya dulu, dan skalian liat situasi teman saya di bawah. Nanti sekitar jam 7 atau jam 8 saya kesini lagi.. gak apa apa ya bu?" Jawabku menenangkannya. "Emmmm... Gitu ya?... Iya deh. Tapi janji datang lagi yaaah, kalo gak datang nanti aku complain loh ke bu susi! Terus jangan panggil aku ibu donk, kesannya aku tua benget, panggil aja aku ANITA" Jawabnya sambil masih menjilati dan menciumi kupingku... Tercium bau alkohol menyengat dari mulutnya. Dan benar, dia telanjang saat memelukku dari belakang, saat aku berbalik kulihat tubuhnya sangat indah dan berisi masih basah dihiasi butiran air, entah itu air atau keringat dari tubuhnya... Tidak kurus, tidak juga terlalu gemuk, tinggi semampai lebih tinggi dari tubuhku. Kulitnya putih bersih dan mulus, sepertinya dia melakukan perawatan rutin untuk menjaga kecantikan wajah dan tubuhnya. Tapi yang menarik, dia membiarkan bulu ketiak dan j****t di memeknya tumbuh lebat. ANITA (37 tahun) tante girang yang haus jamahan lelaki muda... Kulihat jam di tanganku sudah menunjukan waktu magrib. Aku pamit sebentar pada ANITA dan langsung kembali ke ruang laundry... Saat kubuka pintu ruang laundry, ternyata tidak terkunci. Saat aku masuk ternyata sudah ada dewi yang sedang meneruskan sisa pekerjaanku... Memang, dewi begitu dewasa, perhatian, dan cekatan. Dia tau hari ini aku sedang keteter dengan pekerjaanku... "Dah beres nih... Dah rapih... Upahnya nasi goreng ya tar malem" celetuknya sambil melirikku dengan mimik wajah sedikit genit... "Loh, lobby kamu tinggal dew?" Tanyaku... "Kamar sudah full, aku sudah pasang "FULL SIGN" juga di pintu dan di meja receptionist. Amanlah aku tinggal" jawabnya... "Oh, ok dah, kalo gitu aku cek dulu ya, lobby dan lantai 3, trus aku mau cek kamar 201, tadi komplain, water heaternya gak fungsi... Kamu kalo masih pusing istirahat aja" "Iya... Bujang..." Jawabnya dengan wajah meledekku... Eh, ku endus, seperti bau alkohol saat dewi bicara. Bahaya!!! Tanpa ba bi bu aku segera menuju pantry di lobby. Benar saja, saat kuperiksa kulkas, bungkus plastik hitam yang berisi sisa minuman anwar sudah tidak ada. Aku cek tempat sampah, dan... Benar, tepat dugaanku, dewi meminum habis sisa minuman anwar yang seharusnya untukku. Yasudahlah, sudah terlanjur. Dewi wanita dewasa, dia tau pasti apa yg ia lakukan. Mumpung masih di lobby, aku cek keadaan diluar hotel, aman... Naik ke lantai 3, aku cek, aman... Aku pun kembali ke ruang laundry untuk melihat keadaan dewi, sepertinya dia sudah on, hehehe... Saat aku masuk ke ruang laundry, kulihat semua pekerjaan sudah rapi. Tapi kemana dewi? Aku masuk ke dalam, dibagian pojok ruangan laundry ada space kecil buatan anwar yang dibuat seadanya dari lemari loker yang disusun sehingga menjadi sekat, didalamnya ada kasur kecil bekas, biasa digunakan anwar untuk tidur atau rebahan di shift malam. Saat ku intip kesana, ternyata dewi sedang rebahan. Mungkin dia memang butuh istirahat. Eh, tapi kuperhatikan lagi dengan seksama... Dia tidak tidur, dia sedang meremas remas t***t dengan tangan kirinya. Dan tangan kanannya dimasukkan ke celana jeansnya yang sudah terbuka kancing dan resletingnya... Dewi sedang sange ternyata... "Ukh... Zech... Iya zech... Jilat zech" desah dewi sambil menyebut nyebut namaku... Entah kenapa dia berfantasi dengan diriku, Apa mungkin dewi menyukaiku selama ini? Tak terasa kontolku bangkit dari tidurnya, nafasku bergemuruh... Melihat secara langsung teman kerjaku m********i dan berfantasi denganku... Aku pun tidak tahan melihat ini... Segera kubuka baju seragamku, dan kutanggalkan celana jeansku, hanya kusisakan celana dalamku. Kuhampiri dewi, sepertinya dia mabuk... "Dew... Dewi... Bangun dew!" Basa basi kupastikan kalau dia memang sedang mabuk. "Eh, kamu zech... Hehehe... Sini zech, cium aku zech!" Rayunya sambil mabuk... Langsung kurangkul bahunya dari sisi kanannya dengan tangan kiriku... Kulihat kancing seragamnya sudah terbuka, bgitupun BHnya sudah turun kebawah, dengan teteknya yang sebelah kiri menyembul keluar BH, dan pentilnya yang coklat kehitaman besar mancung mengencang, p****g tipikal wanita menyusui. Dengan begitu nafsu kujamah t***k itu dengan tangan kananku dan kuarahkan ke mulutku... Akh... Besar sekali pentilnya. Kujilat, kuhisap, sambil kuremas remas... "Ukh... Ukh... Iya zech, isep zech! Gigit! Aaaakh..." Desahnya memanja kepadaku... Lalu kukulum bibir dan lidahnya... Kujilati kuping dan seluruh wajahnya sambil kuremas t***k kirinya dengan tangan kiriku dari belakang rangkulanku... Tangan kanannya menjambak dan mengusap usap kepalaku... Kulihat tangan kirinya masih asik didalam celananya mengusap usap memeknya... Inisiatif kubantu dengan tangan kananku yang masih menganggur, kubantu tangan kirinya untuk melepaskan celananya... Sekejap aku bangun, dan langsung membuka seragam dan BHnya... Kini aku dan dewi sama sama hanya memakai celana dalam... Ia menatapku dengan nafsu, lalu mengulurkan tangannya mengusap usap dadaku... Lalu turun dan menurunkan celana dalamku... Kontolku pun mencuat gaceng seolah menunjuk kepadanya, k****l dengan ukuran medium, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tapi cukup kencang dan berurat. Dewi pun bangun dari posisinya, duduk dibawah, diatas kasur lantai sambil mengusap usap kontolku, sementara aku berdiri sambil mengusap usap rambut dan meraba raba t***k juga memainkan pentilnya yang besar... Lalu langsung saja kujambak rambutnya dan kuarahkan kepalanya mendekat ke kontolku... Dicium cium dan dijilat jilatnya kepala kontolku... Lalu dikulumnya kepala kontolku sambil dikocok kocok batang kontolku dengan kedua tangannya... Begitu nafsu dan tak terkendali dewi menikmati kontolku, sampai sampai air liurnya yang bercampur air maniku basah membanjiri mulut hingga lehernya... Setelah puas dewi mencemili kontolku dengan penuh nafsu, ia kembali terlentang di kasur buluk singgasana anwar itu... Dewi membuka lebar lebar selangkangannya, sembari menjulurkan dan memainkan lidahnya, seolah memberi kode kepadaku untuk segera menikmati memeknya... Langsung saja kusantap memeknya yang gelap kehitaman itu, jembutnya yang tidak beraturan menambah kenikmatan saat aku menjilati pusat selangkangannya itu... Setelah puas kunikmati memeknya yang sudah basah dengan air liurku bercampur air maninya. Langsung saja kutindih dan kupeluk tubuhnya... Kuarahkan langsung ujung kontolku ke lubang m***k yang pernah melahirkan itu. Langsung kuhujamkan kontolku ke ujung... "Plooook..." "Aaaaaakh..." Dewi mengerang kesakitan nikmat Langsung saja kucekik lembut batang lehernya, sembari kupeluk, dan kubekap mulutnya dengan mulutku, kami menari lidah sembari bertukar ludah... Sambil kumainkan kontolku di memeknya dengan ritme perlahan saja... Maju... Mundur... Maju... Mundur... "Eeemmm... Eeuummm..." Suara rintih dewi menggumam di mulutku... Kupercepat kocokan kontolku di memeknya, terasa sangat basah memeknya hingga membasahi pangkal kontolku... Kulepaskan mulutku dari mulutnya... "Aaaaaarrrggghh... Zech" Kini bisa kudengar desah rintih teriakan kecil dari mulutnya. "Uuugh... Aku mau keluar dew..." "Buang diluar zech..." Jawabnya... Lalu kucabut kontolku dan kukocok diatas perutnya... Croooot... Crooooot... Crot... Kuhujani perutnya, d**a, leher, hingga mengenai bagian wajahnya... Akh... Banyak juga ternyata spermaku... Meski dia dalam keadaan mabuk, tapi aku tau perasaan tidak pernah berbohong, perasaan akan tetap merasakan rasa yang dia rasakan, rasa nyaman, rasa sayang, dan tentu rasa cinta... Maka kuambil saputanganku, ku usap dan kubersihkan wajah dan tubuhnya. Sambil kuhibur dengan senyum, dan belaian lembut di rambutnya. Dewi tiba tiba memegang tanganku, dan berkata "makasih ya zeh" Kubalas hanya dengan senyuman... Setelah kami selesai berpakaian, aku pamit untuk keluar... "Dew... Aku keluar dulu ya! Mau cek lobby sampai ke atas. Sekalian aku mau cek water heater di kamar 201... Kamu istirahat aja dulu disini, biar aku yang standby" "Iya, zech..." Jawabnya sambil mengangguk lemas. Sudah pukul 19.20 , aku pun turun ke lobby untuk memeriksa. Semua aman... Aku duduk sebentar di meja receptionist, aku berpikir sejenak. ( ... ) Aku pun bangun dan masuk menuju toilet, aku mandi sebentar membersihkan sisa sisa perbuatanku dan Dewi. Karna setelah ini aku harus menepati janjiku pada Bu Anita, eh, Anita maksudku. Setelah selesai, dan kurasa aku sudah cukup rapi dan bersih, aku pun langsung menuju keatas, ke kamar 201. Tapi aku bertemu Dewi di tangga... "Loh, kamu mau kemana dew? Kok gak jadi istirahat?" "Kayaknya aku mau mandi dulu deh, terus standby aja di lobby... Eh, kamu udah mandi duluan?" "Oh... Iya, tadi mumpung di bawah, skalian aja aku mandi, gak enak kan mau handle complain tapi bau keringet... Hehehe" jawabku. "Yaudah, aku dibawah ya! Nanti makan bareng aja ya zech! Jam 9, aku tunggu!" "Iya, ok, siap bu!" Jawabku kembali. "Eh, kamu bawa HT kan!?" Tanya dewi. "Bawa dong, selalu..." "Yaudah, aku turun yaaa zech..." "Eh, dew, sebentar!" Seketika kutarik tangan dewi dengan cepat, lalu kurangkul, dan ku kecup manis bibirnya... Sekejap dia menatapku sambil tersenyum, dan kubalas juga dengan sedikit senyum. Dewi pun berlalu menuruni anak tangga. Bisa k****a dengan jelas dari sorot matanya, janda muda anak satu itu sudah jatuh cinta kepadaku... Hehehe... Dewi akhirnya mengungkapkan perasaannya kepada ZECH dengan caranya. Tapi bagaimana dengan "kepribadian" ZECH setelah kejadian yang dialaminya dengan Dewi? ( BERSAMBUNG... )
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN