Mengetahui yang angkat telepon adalah istri sahnya, Andini. Caca makin tersulut emosi. "Oh jadi lo biang keroknya!" kesal Caca dengan bahasa lo gue saat ini. Andini yang menyeduh teh itu hanya bisa tersenyum tipis. "Kenapa hmm? Masih kurang cobaannya atau mau cobain yang lain lagi?" tanya Andini justru menantang. "Kurang ajar! Awas aja lo! Cepat cairkan kembali saldo gue!" Andini terkekeh pelan dalam panggilan telepon itu. Ia sempat menggeleng pelan. "Saldomu? Berani sekali ya mengaku seperti itu. Itu adalah uangku, gundik murahan." "b******n! CEPAT KEMBALIKAN!" "Bisa saja, asal kamu mati dulu. Nanti akan ku beri uang belasungkawa untukmu," tegas Andini menusuk. "Arghh!! Mana Mas Bram! Aku ingin bicara dengannya! Tidak ada gunanya berbicara denganmu, bodoh!" umpat Caca. Caca m

