Aku bertemu kamu

1014 Kata
"Makasih ya, Ayah. Rian senang banget punya bola. Nanti bisa main sama Gea kalau dia ke sini." Rian sangat senang setelah aku belikan bola basket yang dia inginkan. Anakku langsung memainkan bola tersebut bahkan ingin menelepon Gea untuk memberitahu bahwa dirinya memiliki bola baru. Aku ikut senang melihatnya, hal sederhana seperti ini membuat Rian tersenyum lebar dan membuat hatiku menghangat. Selama ini Rian memang jarang meminta sesuatu dan bola basket ini menjadi keinginannya yang pertama, tentu aku tidak menolak dan langsung membelikan bola basket setelah pulang bekerja seperti yang Rian minta. "Nanti Ayah bilang sama Om Nares biar Gea main ke sini," ucapku membuat dia mengangguk senang. "Kita pulang yuk, sebentar lagi hujan dan macet di jalannya," ajakku lalu berpamitan kepada Ibu untuk langsung pulang. "Hati-hati, kamu jangan ngebut nyetirnya," ucap Ibu memperingati. Aku mengangguk. "Kita pulang dulu, Bu." Lalu menyuruh Rian masuk ke dalam mobil, dengan anakku yang memegangi bola basketnya. Aku pun ikut masuk di kursi kemudi dan melajukan mobil keluar dari gerbang rumah Ibu. Sore ini memang mendung sekali dan aku tidak berlama-lama berada di rumah Ibu, takut hujan deras membuat jalanan semakin rawan kecelakaan, juga karena semakin sore akan membuat jalanan macet bertepatan pulang bekerja. "Tadi ada tugas nggak dari sekolah?" tanyaku memecah keheningan dalam mobil. "Ada. Rian udah kerjain tadi sama Nenek," balasnya. "Nanti Ayah cek lagi ya." Rian tampak mengangguk lalu keheningan kembali menyelimuti perjalanan pulang kami dan benar saja hujan turun menemani kami sampai di rumah. ** Satu hal yang sangat aku syukuri adalah, kehilangan Atika memang membuat duniaku rasanya hancur dalam sekejap, tetapi Tuhan tidak pernah membuatku terus bersedih karena kehadiran Rian menjadi penguatku dalam menjalani kehidupan. Aku saat ini berusaha keras menjalani semuanya karena anakku, pun dengan masih ada Ibu di sisiku yang membuatku lebih baik. Meskipun duniaku tidak lagi sama seperti sebelumnya, seperti adanya Atika dalam hidupku, tetapi semuanya harus terus berjalan demi masa depan anakku. Kehidupan kami memang tampak bahagia, aku bersama dengan anakku. Namun sesungguhnya semuanya tidak begitu baik tanpa adanya sosok yang memberikan cinta begitu tulus, kasih sayang yang puar biasa dari istriku. Aku kembali ingat perkataan Nares, bahwa aku harus membuka hati untuk seseorang yang baru dan membuat Rian memiliki sosok Ibu dalam kehidupannya. Hanya saja, aku tidak tahu apakah aku bisa dan sanggup menggantikan peran Atika dalam kehidupan kami, terutama menggantikan dirinya di posisi sebagai istriku. Namun lagi, aku tidak mungkin egois dan membiarkan Rian tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu. "Iya, kan gue udah sering bilang. Setidaknya lo mencoba dulu, urusan apakah lo menemukan atau apakah lo cocok sama cewek baru, ya lihat ke depannya. Namanya juga usaha, Bas." Suara Nares terdengar lewat sambungan telepon, aku memang sedang menelepon dia untuk urusan yang dua hari lalu dia bilang ingin menyiapkan makan malam di restoranku untuk istrinya. Aku memberitahu bahwa persiapan nanti sudah sesuai dengan apa yang dia inginkan, entah kenapa berujung pada aku yang kembali membahas perihal membuka hatiku. "Gue akan mencobanya," balasku seraya menatap foto Atika yang berada di atas meja. "Apa pun itu, gue akan mendukung lo, Bas. Ingat, Rian nggak mungkin terus tumbuh dewasa tanpa sosok Ibu. Setidaknya ini untuk anak lo," ucap Nares. Ya, benar. Aku juga tidak ingin melihat Rian tumbuh besar tanpa sosok perempuan yang dia panggil Ibu. Meskipun nantinya aku tidak bisa benar-benar membuka hatiku, terlalu sulit untuk kembali jatuh cinta. Alasan utamanya adalah agar Rian memiliki Ibu dalam hidupnya, namun aku juga harus bisa mencari yang terbaik untuk anakku sendiri. Aku pun mengakhiri obrolan dengan Nares lewat telepon, untuk makan malam yang akan Nares lakukan bersama dengan Indira di restoranku, mereka akan datang pukul tujuh malam dan tentu saja menjadi sebuah kejutan untuk Indira. Aku juga membantu Nares untuk memberikan yang terbaik, aku senang melihat mereka menjalani rumah tangga tanpa permasalahan apa pun. Sejauh ini masalah yang terjadi pada rumah tangga mereka adalah diriku, di awal hubungan mereka. Akulah yang menjadi penyebabnya dan aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama. tok tok tok. Pintu ruanganku diketuk dari luar, membuatku memalingkan pandangan dari layar handphone ke arah pintu masuk. Lalu kulihat salah satu pegawaiku berdiri di ambang pintu. "Pak, ada telepon dari rumah. Katanya Bapak tidak bisa dihubungi." "Ada apa?" tanyaku. Kulihat raut wajahnya tampak ragu bicara padaku dan begitu gugup sekali. "Itu ... katanya Rian hilang, Pak." "Apa?!" Aku benar-benar terkejut mendengar kabar tersebut, bagaimana bisa anakku hilang padahal kan sedang berada di sekolah. Tanpa membuang waktu, aku mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja lalu berlari keluar untuk segera pulang. Bisa-bisanya aku mendapatkan kabar bahwa anakku hilang, padahal aku sudah mempekerjakan asisten rumah tangga yang baru sekaligus untuk menjaga Rian di rumah saat aku tengah bekerja. Karena sekarang kondisi Ibu kurang baik, aku pun memutuskan untuk mencari asisten rumah tangga dan yang menjaga Rian, baru hari ini bekerja dan malah membuatku sudah harus menahan kesabaran. ** "Maaf, Pak. Tadi saya tinggal sebentar untuk cuci piring tapi Den Rian udah nggak ada di halaman depan." Aku menggeram kesal, kenapa juga di hari pertama dia bekerja malah membuat keteledoran seperti ini. Tadi Bi Nuning -asisten rumah tangga kami- langsung memberitahu aku tentang Rian yang memang pulang lebih dulu dari sekolah karena ada rapat sekolah dan membuat murid-murid pulang lebih dulu. Lalu katanya Rian bermain di halaman depan sambil makan ditemani olehnya namun berakhir seperti ini karena meninggalkan Rian sebentar ke dalam rumah. Ini yang pertama kali. Tentu saja membuat aku begitu khawatir karena tidak pernah terjadi, aku pun segera menyuruh satpam di rumah untuk kembali mencarinya, aku tidak memberitahu Ibu karena takut membuat semakin khawatir. Aku juga tidak mengerti kenapa semua orang di rumah tidak menyadari kepergian Rian atau mungkin anakku di culik? Astaga pikiranku langsung kalut sekali. Aku pun segera mencarinya kembali, langsung masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. Namun belum sempat mobilku keluar dari area rumah, Rian sudah kembali. Anakku masuk ke dari luar gerbang bersama dengan seorang perempuan. Untuk sesaat tubuhku menegang, pandanganku tidak teralihkan dari perempuan yang baru saja datang bersama dengan Rian. Jantungku berdebar kencang, ketika sosok itu mirip sekali dengan seseorang yang selama ini aku cintai. "Ayah! Rian pulang sama Mama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN