Part 2 : Harga Diri

1216 Kata
Steve mengendarai sedan mewah berwarna hitam mengkilat ketika dirinya meninggalkan kantor selepas bekerja. Pikirannya masih berkecamuk, masih memikirkan kekasihnya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar selama dua hari ini. Bahkan ketika ia menyambangi kediaman kekasihnya pun dia tidak ada di tempat, para tetangga pun tidak mengatakan bahwa kekasihnya itu tidak terlihat pulang sama sekali. Jika tidak pulang ... kemanakah kekasihnya itu pergi? Kemana dia pergi? Karena selama ia mengenal kekasihnya, dia cenderung introvert, tidak begitu memiliki banyak teman. Mungkin ... nyaris tak punya? Kecuali dirinya saja yang merupakan kekasih perempuan itu. Saat kendaraannya berbelok hendak memasuki gerbang rumahnya, ia melihat sosok perempuan yang berdiri di depan gerbang itu dengan mengenakan sebuah dress di bawah lutut berwarna tosca di percantik dengan rambut yang sedikit bergelombang. Steve menghentikkan kendaraannya lalu membuka pintu. “Sera?” Perempuan itu berbalik dengan mata yang membulat sempurna, kedua mata perempuan itu kemudian mengerjap beberapa kali lalu menatapnya lagi seolah ia adalah makhluk aneh yang baru muncul dari ruang angkasa. Namun meski begitu senyuman Steve kemudian mengembang, ia segera keluar dari kendaraannya lalu berjalan dengan langkah lebar sebelum memeluk tubuh perempuan itu dengan erat. “Sera kau darimana saja? Hm?” tanya Steve seraya melonggarkan pelukannya, ia kemudian menangkup wajah kekasihnya dengan lembut lalu mengecup ringan bibir tipis itu. Setelahnya ia menatap perempuan yang dua hari terakhir ini menghilang itu. Menatapnya dengan tatapan penuh kerinduan. “Serafina ... Nana. Hei ... kau kenapa?” tanya Steve ketika melihat perempuan dihadapannya itu hanya diam saja. “Stefano ... .” Steve mendesis, tangan kanannya terangkat mengusak surai bergelombang itu sesaat. “Apakah mulai sekarang kau ingin memanggil nama lengkapku begitu?” “Ah? Tidak. Aku hanya ... .” “Sudahlah ayo kita masuk.” Steve menggiring perempuan itu memasuki kendaraannya. “Kenapa kau masih saja sangat terkejut saat aku memanggilmu Sera? Kau masih tak suka aku memanggilmu seperti itu?” tanya Steve lagi. “Padahal aku ingin memanggilmu dengan cara lain. Tidak seperti orang lain yang memanggilmu Nana. Agar terdengar lebih spesial.” Lanjut lelaki itu.   Sementara itu Sera yang sudah mulai menyamar jadi Nana tak bisa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Sejak lelaki itu memanggilnya Sera, jantungnya terus berdetak, hingga nyaris terjatuh dari tempatnya. Mulutnya seolah terkunci, suaranya seolah tercekat di tenggorokan, membuatnya tidak bisa berkata apapun selain membuka dan mengatupkan kembali bibirnya. Ia pikir lelaki itu tahu jika ia bukan Nana. Tapi ternyata tidak seperti itu. Tidak seperti yang ia bayangkan. Sera membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa mengering. Awalnya ia pikir menyamar jadi Nana akan sangat mudah. Tapi sepertinya tidak semudah itu. Apalagi tadi ... secara tiba-tiba Steve justru menciumnya tanpa permisi. Ciuman yang membuatnya mati kutu dan hampir melupakan semua skenario penyamarannya. Sungguh ... ia sangat terkejut dengan ciuman itu, ia tidak menduga Steve akan menciumnya begitu saja. Padahal itu ... ciuman pertamanya. Ciuman pertama yang seharusnya ia dapatkan dari orang yang ia cintai. Tapi sekarang ... justru orang asing ini sudah mencurinya. “Sera?” “Hng?” Sera menoleh kearah Steve yang sudah memarkirkan kendaraannya di garasi. “Tak apa ... Sera saja. Panggil aku Sera, Steve.” Ya ... setidaknya dengan ia mendengar namanya sendiri, ia mungkin tak akan segugup sebelumnya. Ia harap begitu. Steve menarik kedua ujung bibirnya, membentuk senyuman tipis. “Kalau begitu ayo keluar. Mama pasti terkejut melihatmu.” Sera menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Mencoba menyiapkan dirinya kembali. Bagaimanapun setelah ia memasuki rumah ini semua penyelidikannya akan dimulai. Ia tak boleh lengah lagi. Ia tak boleh terbuai lagi oleh perlakuan Steve sekalipun lelaki itu memperlakukannya dengan sangat manis. Contohnya sekarang ... lelaki itu terus merangkulnya dengan sesekali mencium kepalanya ketika berjalan melewati pintu utama. Gila bukan? Sera hanya mampu menghembuskan nafasnya lagi. Ia harus fokus, ia harus menetapkan fokus pada tujuan utamanya datang ke rumah ini. Yaitu menyelidiki Feronica, Ibu Steve. “Mama ... lihat siapa yang datang.” Seorang perempuan paruh baya yang ia yakini adalah Feronica berbalik. Perempuan itu menatapnya sekilas, tanpa minat, lalu kembali disibukkan dengan sayuran yang berada di tangannya. Sera termenung sesaat. Jadi ini yang di dapatkan Nana dari perempuan itu? Sikap dingin yang acuh tak acuh. Dia bahkan tidak repot-repot menunggunya yang ingin menyapa, dia hanya mengabaikannya, benar-benar mengabaikannya seolah ia adalah makhluk tak kasat mata. “Steve mandilah, bersihkan tubuhmu. Setelah itu kita makan malam bersama.” Lihat ... perempuan itu bahkan tidak mengatakan sepatah katapun untuknya. Lalu ... apa yang harus ia lakukan sekarang? Haruskah ia berusaha mendekati perempuan itu demi penyelidikan lanjutannya? “Tak apa ... Nanti, suatu saat Mama pasti akan memperlakukanmu dengan baik.” Sera menoleh kearah Steve yang mengelus bahunya. Jadi benar ... Nana tidak mendapatkan perlakuan baik disini? Ah ... baiklah. Ia harus segera menyelidiki kejanggalan ini. “Steve ... bolehkah aku membantu Ibumu?” Mata Steve berbinar. “Kau ingin belajar masak?” Sera mengerutkan kening. Belajar? Jangan bercanda. Di Villa tempatnya tinggal. Ia adalah masternya. Ia bahkan bisa memasak semua jenis bahan makanan. Lalu ... dimana letak ia harus belajar? “Jika memang ingin lakukanlah ... tapi hati-hati ya ... aku mandi dulu.” Steve mengusak surainya sesaat sebelum beranjak pergi meninggalkannya seorang diri. Sepeninggal Steve ia masih berdiri di tempat yang sama. Sebenarnya ini mulai terasa membingungkan. Apakah ini artinya Nana tidak bisa memasak? Lelucon macam apa itu? Perempuan tidak bisa memasak? Sera menghembuskan nafasnya pelan. Tak ada gunanya berasumsi, ia melangkahkan kakinya mendekati perempuan paruh baya itu dengan tenang, lalu berdiri tepat di sisi kanan perempuan itu. “Dapatkah saya membantu Mrs. McKenzi?” “Memang apa yang bisa kau lakukan? Menggunakan pisau saja tak bisa.” Sera menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya kesan Nana benar-benar buruk di mata perempuan itu hingga perempuan itu benar-benar meremehkannya seperti ini, ataukah karena perempuan itu benar-benar seperti perempuan yang menuntut kesempurnaan? Seseorang yang tidak ingin mendapatkan hasil cacat sedikitpun. Sera berusaha mengabaikan hal itu, lalu ia meraih satu buah pisau untuk mengupas wortel. Tangannya terus bekerja dengan tenang tanpa mengeluarkan suara sama sekali. Tanpa menyadari tatapan penuh selidik dari Feronica yang berdiri di kirinya.   Feronica menatap Sera dalam diam, meneliti dari ujung rambut hingga kaki lalu memperhatikan cara perempuan itu mengupas. Kenapa perempuan ini terlihat lain? pikir Feronica. Tapi tak lama kemudian ia kembali memotong sayuran untuk bahan dasar sup malam ini. Mengabaikan perasaan curiganya. Karena bisa saja ... perempuan itu memang mulai mencari perhatian padanya bukan? Semua kemungkinan bisa saja terjadi. “Kenapa kau tak membawa apapun? Bukankah kau sudah berjanji akan tinggal selama satu minggu disini? Seharusnya kau membawa pakaian ganti.” Sera mengerutkan keningnya. “Tinggal satu minggu?” “Ya ... kau sendiri sudah menyanggupinya. Apakah dua hari menghilang membuat semua ingatanmu juga menghilang?” Feronica mendesis. “Seharusnya tak usah kembali jika masih sama tak bergunanya. Aku lebih suka kau tidak memperlihatkan batang hidungmu lagi dihadapan anakku. Karena aku lebih suka dengan Amanda, daripada kau. Kau ... hanya perempuan bagai benalu. Parasit. Tak berguna.”   Sera mengeratkan genggaman tangannya pada gagang pisau. Seumur hidupnya ia selalu dihormati, ia selalu mendapatkan sanjungan dari semua orang. Tapi sekarang ia dihina begitu saja oleh perempuan yang bahkan belum satu jam ia kenal ini. Harga diri dan egonya benar-benar terluka. Membuat api amarahnya bangkit, tak ingin tinggal diam. Ia tak bisa membiarkan dirinya terus dihina seperti ini. Tidak. Sekalipun ia sedang berperan jadi Nana, tapi hatinya tetap sakit ketika mendengar hinaan itu. Harga dirinya tetap terluka, hingga membuat emosinya hampir tidak tertahankan. Ia tak bisa membiarkan ini lebih lama lagi. Ia harus membuktikan pada perempuan itu bahwa dirinya bukan Nana yang dikatakan perempuan itu tidak berguna. Ia Sera! Serafina Hardwin yang bisa melakukan apapun.   “Menyingkirlah. Aku harus segera menyelesaikan masakanku sebelum suamiku pulang.”   Sera menarik nafas panjang lalu menghembuskannya kembali. Baiklah ... kali ini ia akan menyingkir. Tapi kita lihat besok. Ia akan membuat perempuan itu tercengang. Ia akan membuat perempuan itu menarik semua kata-katanya lagi.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN