Bab.7 Kamu Kenapa

1216 Kata
  Saat ini, di mata mereka, Firdaus adalah sampah yang benar-benar tidak berguna.   "Firdaus, apakah kamu sedang memohon sekarang? sungguh luar biasa."   "Hari ini kamu membuatku melihatmu dengan cara yang baru, sungguh luar biasa! Sungguh sangat kejam pada diri sendiri   Casril tertawa keras sambil melirik Zairawati, "Lihatlah, sampah macam apa dia ini?"   "Jujur saja, pengecut macam dia lebih baik mati. Setelah dia mati, kamu baru bisa hidup bahagia."   Wajah Zairawati memucat, hatinya sangat kecewa, dia tanpa sadar menghela nafas.   Kata-kata yang tadi diucapkan Firdaus membuat Zairawati merasa hangat, bahagia, dan bahkan ikut menantikannya.   Tapi dalam sekejap—   Benar-benar pertunjukkan yang bagus!   Benar itu membuatnya kagum, kagum atas sikap pengecutnya.   Semakin besar harapannya, semakin besar pula kekecewaannya.   Firdaus lah yang paling canggung dan malu disini, Talib dan orang-orangnya telah dihajar habis olehnya, tak disangka akan dipermalukan disini.   Awalnya ingin menunjukkan kemampuannya, tetapi dia malah kehilangan mukanya.   Firdaus ditarik keluar oleh Zairawati ku , dia hanya mengatakan satu kata: Cerai!   Jamilah bertanya tentang hasil negosiasi, tapi Zairawati tidak mengatakan apapun.   Jamilah menebak hasilnya tidak bagus, dia melihat Firdaus dan memakinya lagi.   Firdaus merasa sangat muram, menyalahkan diri sendiri, lalu bebaring di karpet.   Meskipun mereka adalah suami istri, Zairawati tidak pernah membiarkan Firdaus mendekatinya sama sekali. Satu tidur di kasur, dan satunya tidur di lantai.   Firdaus juga sangat patuh, tidak pernah pernah coba-coba naik ke kasur, dia sadar akan siapa dirinya.   Dalam kegelapan, Zairawati mendengar nafas Firdaus, dan semakin membencinya. Apakah pria yang tidak berani menyentuh wanita yang satu kamar dengannya, bisa disebut laki-laki?   Dia memutuskan akan menceraikan Firdaus ketika urusannya sudah selesai .   Keesokan harinya, Firdaus bangun sangat pagi. Dia pergi keluar dan berlatih sesuai yang sudah diajarkan oleh pot kecil, walaupun dia tidur cukup larut kemarin malam, tidak cukup istirahat, tapi setelah latihan, dia merasa sangat segar.   Yang paling membuatnya tenang adalah, pot kecil yang tidak bersinar merah setelah memberikannya pil kebangkitan kemarin, sekarang sudah bersinar merah lagi, walaupun sinarnya tidak begitu terang, tapi setidaknya masih ada.   Zairawati berangkat kerja tanpa sarapan.   Jamilah bahkan memarahi Firdaus dahulu sebelum pergi.   Setelah selesai, Firdaus pergi ke Toko Jamu Lahope.   Kemarin Ayahnya baru saja sembuh, dia menyuruh kedua orangtuanya beristirahat terlebih dulu, dia yang menjaga Toko Jamu.   Karena toko itu sedang dibongkar, penjualannya kurang bagus, ketika dia sedang tidak melakukan apapun, ponselnya tiba-tiba berdering.   Melihat nomor yang tidak dikenal, dia awalnya tidak berniat untuk menjawab, tetapi nomor akhir penelepon itu adalah "888888" Firdaus menjadi penasaran dan menjawab teleponnya.   “Permisi, apakah ini Tabib Firdaus?” Suara formal dan sopan datang dari ujung telepon.   “Benar, saya adalah Firdaus, tetapi, saya bukan seorang tabib." Firdaus menjawab dengan serius.   "Anda sangat rendah hati! Saya adalah anak dari orang yang Anda selamatkan di lift kemarin, Gazali Sagom."   Pria yang menendang dokter itu segera terlintas di kepala Firdaus, benar-benar keren!   “Bagaimana kabar ayah Anda sekarang?" Firdaus menanyakan kabarnya.   Gazali terkejut, "Sangat baik, setelah beberapa waktu dia pasti akan segera pulih."   "Baguslah!"   Gazali seperti mendengar Firdaus menghembuskan nafas lega, dia diam-diam dalam hati merasa kagum. "Tabib Firdaus, Anda ada dimana, saya akan menyuruh orang untuk menjemput Anda, mari kita bertemu sebentar."   "Tidak perlu! Saya..."   "Harus!"   Gazali segera menyelanya!   Dia sudah mendengar bahwa Firdaus bukanlah tipe orang yang suka menerima sanjungan, jadi dia memang tulus.   Harus diketahui, di kota Lastoro, banyak orang yang bersedia menghabiskan banyak uang hanya untuk bisa menemui dirinya, tetapi tidak dengan Firdaus, ini membuktikan bahwa Firdaus benar-benar berniat menolong ayahnya kala itu.   Gazali sangat tersentuh.   Firdaus memberi tahu alamatnya, dan Gazali berkata bahwa dia sedikit sibuk, jadi dia akan mengirim orang untuk menjemputnya.   Firdaus tidak peduli.   Dua puluh menit kemudian, pintu toko jamu terbuka, masuk seseorang dengan setelan bermerk, rambut yang tertata rapi, dan membawa sebuah tas kerja.   Mata mereka bertemu.   "Firdaus!"   "Karim!"   Keduanya saling memanggil di waktu yang bersamaan, api kemarahan mulai memenuhi ruangan itu.   "Kau, seorang penjual jamu bisa mendapatkan istri yang begitu cantik, membuatmu sombong ya?"   "Istrimu cuma main-main, kemarin kamu jadi pahlawan macam apa?"   "Percaya atau tidak, hanya dengan satu telepon saja, toko jamu mu ini akan segera tutup, kita lihat apa yang bisa kamu lakukan."   Karim penuh dengan kesombongan, dia pikir jika bukan karena Firdaus yang datang menggangu, Zairawati pasti duduk di sebelahnya kemarin, sehingga dia sangat ingin menghajar Firdaus.   “Sudah selesai bicaranya?" Firdaus duduk di kursi dan tidak bergerak, dan bertanya dengan dingin.   "Heh! Hebat sekali! Pura-pura tidak terjadi apa-apa? Sekarang cepat berlutut dan minta maaf, kalau tidak, kontrak istrimu selamanya tak akan ku tandatangani sama sekali."   "Berlutut minta maaf? Bukannya terbalik?"   Wajah Firdaus menjadi sedingin es.   Karim memutar matanya dengan kesal, "Wah, aku benar-benar tidak tahu siapa yang memberimu kepercayaan diri semacam itu, benar-benar bodoh."   “Sudah cukup bicaranya?” Firdaus perlahan berdiri.   "Kenapa? Mau memukulku?"   "Ya, Benar sekali!"   Plak!   Kata-katanya tersampaikan, begitu juga tangannya!   Suara tamparan yang nyaring terdengar, membuat sisi kiri wajah Karim bengkak seperti dipompa angin, dan sudut mulutnya berdarah.   “Ha, ha ha… Kamu berani memukulku?” Mata Karim menjadi garang.   "Bukan berani! Tapi sudah memukul!"   Suara tajam dari telapak tangan yang menampar wajahnya terdengar dari sisi kanan wajah Karim.   Sisi kiri dan kanan menjadi seimbang.   Dua tamparan ini membuat Karim pusing, kepalanya seakan berputar dan kosong, telinganya berdenging.   "Enak kan?"   Pertanyaan Firdaus menyadarkan Karim. "Br*ngsek, kubunuh kau!"   Setelah Karim mengatakan itu, dia mengangkat tas di tangannya dan hendak membantingnya ke kepala Firdaus.   Plak!   Firdaus langsung menangkap lengan Karim, tangannya sekeras tang.   Ah……   Karim menjerit kesakitan, untuk meringankan rasa sakitnya, kakinya perlahan berlutut.   "Bukankah kau menyuruhku berlutut minta maaf? Kenapa malah kau yang berlutut sekarang?"   Ahhhhh!   Karim terus berteriak kesakitan, dan mengabaikan pertanyaan Firdaus.   Plak!   Firdaus meraih Karim dengan tangan lainnya, "Kemarin kau menggunakan tangan ini menepuk sofa untuk istriku duduk kan?"   Pada saat ini, Karim tidak bisa berlutut maupun berdiri, dia sangat kesakitan, tetapi dia masih bertahan, "Benar, tangan yang ini."   "Benar kalau begitu!"   Kretek!   Setelah kata-kata itu terlontar, terdengar sebuah suara keras.   Aduh!   Karim, yang tadi hanya berteriak, langsung melolong kesakitan.   Saat melihat lagi, telapak tangan kanan dan lengannya membentuk sudut siku-siku, bergantung kebawah.   "Hei! Kau cukup hebat! Jika kau melepaskanku, aku akan menelepon orang untuk menghabisimu!"   Karim mengamuk seperti orang gila.   Firdaus mencibir, "Memanggil orang untuk menghabisiku? Oke!"   Setelah mengatakan itu, dia langsung melepas kedua tangan Karim.   Deg deg!   Dia mendadak melepaskannya, wajah Karim langsung jatuh menabrak lantai, membuat seluruh wajahnya berdarah.   Hati Karim terbakar amarah, dia mengeluarkan ponsel, tangannya yang gemetaran mencari sebuah nomor dan meneleponnya.   Namun, begitu dia menelepon, terdengar suara dering telepon dari luar toko, dan terdengar suara kasar seorang pria.   "Pak Karim, apakah ada sesuatu?"   Tak!   Diiringi oleh suara itu, pintu toko jamu Lahope ditendang terbuka, tiga orang berbadan besar berdiri di pintu.   “Hamid, kau datang tepat waktu!" Saat melihat orang yang masuk, Karim seperti melihat malaikat penyelamat, dia segera berlari menghampirinya."   Hamid menatap Karim, setelah melihatnya beberapa kali, dia bertanya, "Pak Karim, siapa yang memukuli Anda? Saya akan membantumu menghabisinya."   Memegang tangan kanannya yang lumpuh, Karim menatap Firdaus dan berteriak, "Dia!"   “Kenapa kau?” Hamid terkejut.   Sudut mulut Firdaus sedikit terangkat. "Kenapa aku?"   "Hamid, sepertinya kita bisa meminta sepertiga uangnya!"   "Haha! Orang ini benar-benar seperti sapi perah!"   "S*al! Orang ini akan menjadi pesaing kita nantinya, kirim orang untuk melindunginya, jangan sampai ada yang merebut usaha kita."   Suara kedua anak buah itu terdengar, dan Hamid mengambil keputusan terakhir.   Sudut mulut Firdaus mencibir, dendam baru diatas kebencian lama, ayo hadapi semuanya bersamaan!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN