Normalnya pernikahan menjalani malam pertama, jika pasangan kelelahan karena pesta pernikahan seharian, bisa dilanjutkan besoknya. Tapi sekarang apa bisa disebut menjalankan malam pertama di pagi hari dengan menjadi tontonan orang? karena posisi Vio dan Alex sebagai pasangan sangat ambigu.
Vio menenggelamkan kepalanya di bantal.
Alex yang sudah keluar dari kamar mandi, melihat istrinya masih tengkurap di tempat tidur dengan bantal bertebaran di sekelilingnya. "Kamu tidak mandi?"
"Nanti."
Alex duduk di samping tempat tidur dan berbisik di telinga Vio. "Mau dilanjutkan?"
Vio yang mendadak bangun dari tempat tidur karena tidak mau melanjutkan hohohihe, merasakan lemas di kakinya, bahkan pinggangpun terasa sakit.
Alex dengan sigap menangkap istrinya. "Hati-hati."
Kedua mata Vio mengerjap aneh. "Kenapa kakiku lemas?"
Alex hampir tertawa. "Kamu tidak tahu?"
Vio menggeleng heran lalu berteriak ketika Alex menggendongnya.
"Aku hanya membawamu ke kamar mandi, jangan berontak."
Vio yang berusaha menggapai selimut sontak menutup tubuhnya dengan tangan, ia merasa malu.
Alex melirik dadanya. "Lumayan."
Vio hendak memukulnya tapi takut dosa.
Alex berjalan ke kamar mandi. "Tidak usah ditutupi, aku sudah melihat semuanya."
Vio merasa tidak adil. "Aku belum," gumamnya.
Alex tersenyum. "Boleh. Kapanpun kamu boleh melihatnya."
Bagaimana bisa Vio memiliki keberanian sebesar itu? lebih baik lihat film porno bersama Tiffany, jauh lebih aman. "Tidak, terima kasih."
Alex menaikan salah satu alisnya.
___
"Gila! malam pertama sampai jam segini?!" tanya Yuge yang mendapat keplakan kepala.
"Laki-laki kalau buas, tidak akan ingat waktu!" sindir Sonia.
Yuge mengerutkan kening. "Kamu nyindir aku?"
Sonia menaikan kedua bahunya.
Eric ingin menangis begitu mendapat tugas menyiapkan sarapan dari atasannya via handphone. Sepertinya mereka sudah menyelesaikan malam pertama dengan selamat. Eh, sepertinya ada yang salah?
"Eric, aku lapar! ini sudah waktunya makan siang! aku sudah menunggu disini hampir 7 jam!" teriak Yuge sambil rebahan di sofa.
Sonia yang baru saja duduk dan membuka majalah sontak melihat suaminya dengan heran. "Bukannya kamu sudah makan tadi?"
"Itu camilan! orang Jepang selalu mengutamakan nasi," sahut Yuge.
Sonia memutar kedua bola matanya.
Eric meringis, menatap Sonia untuk meminta bantuan.
Sonia pura-pura tidak melihat dan melanjutkan membaca majalah.
"AAAAA!"
Seluruh ruangan sontak membeku. Sonia mengerutkan kening, Yuge bangkit dari sofa sementara Eric hampir menjatuhkan panci.
Apakah ini ronde ke sekian? tanya mereka di dalam hati.
"Keterlaluan! dia keterlaluan! sudah tahu kita akan datang malah sibuk di kamar?!" teriak Yuge.
"Tenanglah, Yuge."
Yuge kembali duduk di sofa dan mengerang. "Padahal aku ingin cepat-cepat menyelesaikan proyek."
"Kamu masih ingin membuat Alex bekerja di masa bulan madunya?" tanya Sonia.
"Terus kenapa kita tetap disini?" tanya Yuge.
Sonia merenung lalu berkata, "Berkenalan dengan istrinya?"
Yuge mengusap wajahnya dengan frustasi. "Rasanya aku ingin menangis."
Eric merasakan hal yang sama.
Tidak lama pintu kamar Alex terbuka.
Semua orang menoleh.
Alex keluar dengan masih memakai baju tidur.
Sonia mengerutkan kening dengan tidak suka. "Kamu masih mau lanjut?"
"Cepat sekali dari teriakan tadi, apa spermamu sudah habis?" tanya Yuge yang penasaran, sontak mendapat lemparan buku di tangan Sonia.
Alex bersandar di pintu kamar lalu menyipitkan matanya. "Mau apa kalian?"
"Aku hanya bertanya soal proyek sementara istriku marah karena kamu tidak bisa dihubungi semalam," Yuge menjelaskan.
Alex diam memikirkan sesuatu.
"Ceo, karena semuanya serba mendadak. Jadwal sudah saya pindahkan, hanya saja saya tidak tahu berapa lama anda akan mengambil libur?" tanya Eric.
"Besok saya masuk, tidak sepertinya lusa... atau tiga hari lagi?"
"Bagaimana kalau seminggu?" saran Sonia. "Sekalian aku butuh kamu."
Alex menggeleng tidak setuju.
"Hei, bukannya kamu akan bulan madu?" tanya Yuge.
"Masih banyak pekerjaan harus diurus, kalian sebaiknya pulang. Besok Eric akan menghubungi kalian."
Eric mengangkat kepala dan menatap penuh harap atasannya dengan tatapan saya boleh pulang juga?
Alex paham kode Eric. "Kamu tetap disini. Istriku butuh kamu."
Eric menunduk lesu sambil melanjutkan pekerjaannya. Memang apa yang dibutuhkan wanita yang sedang bulan madu? ikut threesome? Eric menggeleng ngeri. Bayangin saja sudah menakutkan.
"Baiklah, kami akan pergi." Sonia berdiri dan menarik tangan Yuge. "Kita pulang."
"Tapi-" Yuge tidak setuju.
"Apa?"
"Aku belum makan." Yuge menepuk perutnya.
Sonia memutar bola mata lalu menjewer telinga Yuge dan menarik masuk ke dalam lift.
Alex menghela napas lega lalu melirik Eric yang sedang serius memasak.
Eric yang merasa diperhatikan, mengangkat kepalanya. "Ya?"
"Terima kasih sudah menaruh hpku ke dalam kamar."
Eric mengangguk lalu Alex masuk ke dalam kamarnya kembali.
Sewaktu Eric masuk ke dalam Penthouse, ia bingung melihat handphone Ceo di atas sofa. Pantas saja banyak yang mengeluh tidak bisa menghubungi atasannya. Begitu melihat tuan Amamiya dan nona Augustina masuk ke dalam kamar, ia sontak ikutan masuk untuk mengusir mereka sekaligus meletakan handphone di atas nakas.
Eric memijat pangkal hidungnya. Bolehkah aku minta bonus sebagai penjaga?
___
Yuge dan Sonia yang sudah di dalam mobil, masih diam merenungkan kejadian tadi.
"Apa yang sudah dilakukan anak itu?" tanya Yuge ke Sonia.
Sonia yang sedang menatap lurus, bersandar di kursi penumpang samping sopir. "Menurut kamu bagaimana?"
"Dari dulu aku tidak bisa membaca pikirannya."
"Jangan beritahu siapapun mengenai ini."
"Kenapa?"
"Jangan macam-macam." Decak Sonia.
Yuge menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil. "Aku benci kalau Alex seperti ini."
"Aku juga sama, Alex sudah menghancurkan hidupnya."
"Setidaknya sekarang dia baik-baik sajakan?"
"Untuk sekarang." Sonia mengerutkan kening begitu mengingat Vio di atas tempat tidur.
___
Setelah selesai mandi, Vio dan Alex sarapan bersama sementara Eric sudah kabur secepat kilat sebelum atasannya berubah pikiran, tidak lupa ia mematikan handphonenya.
Vio tersenyum ketika merasakan masakan Eric. "Mhhmm... masakannya Eric benar-benar enak."
"Kamu menyukainya?"
Vio mengangguk senang sambil menyendok kembali makanannya.
"Kalau begitu aku akan mengganti posisinya menjadi tukang masak disini." Alex menaikan salah satu alis begitu menyendok sup yang dibuat Eric. "Lumayan."
Senyum Vio berubah horor begitu mendengar perkataan Alex. "Jangan, kasihan dia."
"Ibunya tukang masak di salah satu hotel."
"Maksudnya chef?"
"Ya, itu."
"Hebat dong, kenapa dia bisa menjadi sekretarismu?" Vio bertanya dengan heran.
Mata Alex menyipit curiga. "Kamu menyukainya?"
"Tentu saja, dia pintar masak."
"Kalau begitu, aku tugaskan dia ke luar daerah."
"Hah? Kenapa?" tanya Vio yang tidak mengerti jalan pemikiran suaminya.
Alex tidak menjawab pertanyaa Vio sementara dari kejauhan Eric bersin.
"Menjauh sana!" dorong Tiffany yang tidak mau ketularan.
Eric menatap jengkel Tiffany sambil mengusap hidungnya yang mendadak gatal. "Untung saja Ceo tidak bekerja hari ini jadi saya bisa kesini."
"Hah? Dia sakit?" tanya Tiffany.
Eric memutar matanya. "Bulan madu."
"Lho? bukannya mereka salah menikah? kok-" Tiffany menutup mulutnya dengan heran.
"Itu urusan mereka, sekarang apa yang anda inginkan dari saya?" mata Eric menyipit curiga sambil menutup dadanya dengan kedua tangan.
"Mana-"
"Apanya?"
"Kamu pasti menyimpan bukti perselingkuhan mantannya Vio 'kan?"
"Mau buat apa?"
"Aku punya sepupu pengacara, setidaknya ini bisa dikasuskan sebagai penipuan bukan?"
Eric tidak percaya alasan yang dibuat Tiffany. Ia yang duduk berhadapan dengan Tiffany, mencondongkan badannya ke badan.
Tiffany tanpa sadar mengikutinya.
"Anda fujoshi?" tanya Eric ke Tiffany.