“Kuku gue ngapain lo potong? Gue kan udah bilang jangan tadi, ngapain masih dilakuin, sih? Ya ampun, kuku kesayangan gueee!” Fuji menangis, seperti kehilangan barang berharganya. Rasanya sakit sampai ke ubun-ubun melihat potongan kukunya yang cantik itu terpotong sia-sia oleh orang tak bertanggung jawab. Aska menghela napas jengkel. “Kamu nggak perlu drama gitu. Nanti juga panjang lagi. Kepala botak aja bisa tumbuh rambut, apalagi cuma kuku. Nggak usah berlebihan.” “Iya gue juga tahu kepala botak tumbuhnya rambut, bukan rumput. Tapi, ini masalahnya kuku gue rentan patah. Kalau nggak dirawat dengan baik, nggak bakal bisa secantik itu tahu nggak, sih? Perawatannya juga pake duit loh itu!” “Nggak tahu.” Kalau aja tuh muka bukan mukanya dia, mungkin udah dari tadi Fuji gampar tuh orang.

