Hari ini, Fuji bangun pagi dengan semangat. Dia juga tak sabar untuk cepat-cepat pergi ke kampus. Bukan karena mau belajar atau apa, tapi karena mau melihat bagaimana reaksi Aska saat tahu kalau ban mobilnya kempes. Jadi, sambil bersenandung dan menari-nari kegirangan, Fuji berjalan menuju kamar mandi.
Setengah jam kemudian, dia pun siap untuk menyambut hari yang indah. Fuji keluar dari unitnya masih sambil bernyanyi-nyanyi. Dia berhenti bernyanyi pada saat melihat Aska yang juga baru keluar dari unitnya.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Fuji sambil tersenyum lebar. Bahkan terlampau lebar.
Aska melihatnya tanpa minat, namun tetap menjawab, “Pagi.”
“Hehehe.” Fuji cengengesan kemudian berlalu lebih dulu.
Di belakangnya, Aska menatapnya dengan kening berkerut.
“Kamu mau ke mana berpakaian seperti itu?” tanya Aska setelah masuk ke dalam lift.
Fuji melihat penampilan sendiri kemudian mendongak menatap Aska. “Hm? Mau ke kampus. Memangnya kenapa, ya, Pak?”
“Menurut saya itu berlebihan.”
Fuji tertawa kecil. “Masa, sih? Perasaan Bapak aja kali. Nggak pernah lihat cewek cantik, ya? Memangnya sebelum ini tinggal di mana? Di goa?”
Aska menatapnya tajam kemudian mendengus. “Terserah kamu saja.”
“Nggak usah ngurusin orang deh. Lagian mau gue gimana juga kan nggak ganggu hidupnya situ.” Fuji mulai kehilangan sopan-santunnya.
“Tapi, itu mengganggu pemandangan saya.”
Fuji mendesah dalam hati.
Ini orang maunya apa, sih? Seumur-umur, baru kali ini Fuji dikomentari cowok soal penampilannya. Helooo? Sehat nggak sih tuh orang?
“Itu urusan Bapak, bukan urusan saya. Lagian kalau emang nggak suka, merem aja udah.”
Aska tampak menahan senyumnya saat melihat Fuji bicara dengan ekspresi kesal seperti itu.
Tak lama kemudian, mereka tiba di lantai dasar. Fuji cepat-cepat pergi ke tempat mobilnya di parkir. Benar-benar tidak mau berurusan dengan pria menyebalkan itu. Baru kali ini Fuji mendengar ada kaum adam yang mengatakan kalau penampilannya berlebihan. Memangnya apa yang salah, sih? Dianya aja kali yang kelamaan tinggal di goa, jadi nggak pernah lihat cewek modis jaman sekarang! Ya kali Fuji harus pakai daun pisang ke mana-mana.
Dari dalam mobilnya, Fuji bisa melihat dengan jelas kalau Aska berdiri di samping mobilnya. Sepertinya dia sudah menyadari kalau ban mobilnya kempes. Sekarang cowok bermata elang itu sibuk melihat jam tangannya.
“Mulai panik, bestie,” ucap Fuji sambil menyeringai. “Ini adalah hari kemenangan gue. Lihat aja siapa yang datangnya telat hari ini, hihihi."
Fuji lalu menyalakan mesin mobilnya dan membawanya keluar dari basemen. Tapi, tak diduga tak disangka, tiba-tiba saja sosok Aska muncul di hadapannya, menghadang jalannya sehingga Fuji langsung menginjak rem dengan mendadak.
“Gila apa ya tuh orang?!” seru Fuji, kesal dan kaget bercampur jadi satu. “Untung nggak gue tabrak!”
Aska mengetuk kaca jendela mobilnya berkali-kali sampai Fuji membukanya dan bertanya, “Bapak ngapain, sih, di situ? Ngapain ngalangin jalan orang?”
“Ban mobil saya kempes.”
“Terus?”
Emang gue peduli? tambah Fuji dalam hati.
“Saya terpaksa minta tolong sama kamu. Saya bisa numpang mobil kamu, kan, ke kampus?”
Waktu yang berlalu terasa sangat lama bagi Aska untuk mendengar jawaban dari Fuji. Cewek itu terlihat sangat keberatan dengan permintaannya. Yang benar saja! Dia sudah mempertaruhkan harga dirinya untuk ini, masa iya ditolak?
“Daripada saya cari-cari ojek online dan ngabisin waktu. Mendingan saya pergi bareng kamu karena kita kan satu tujuan,” ujarnya lagi.
Fuji tidak melihat ada keikhlasan dari Aska selain ketampanannya yang semakin nyata ketika bicara seperti itu. Tapi, apa pun itu, Fuji tidak akan terpengaruh sama sekali. Visi dan misinya adalah untuk membuat Aska terlambat datang ke kampus hari ini, jadi… kenapa dia harus peduli sama cowok itu?
“Hmmmm…. Gimana, ya?”
Jantung Aska berdetak kencang. Dia takut dengan penolakan karena seumur hidup hal itu belum pernah terjadi. Semua orang yang dia kenal, biasanya akan senang hati untuk menawarkan bantuan padanya. Tapi, ini adalah Fujita Naura, cewek yang terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya pada orang yang membuatnya tak nyaman. Dan Aska sadar, dirinya sudah membuat Fuji merasa seperti itu dari sejak pertama mereka bertemu.
“Ya udah deh,” kata Fuji akhirnya.
Aska menghela napas lega lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Dia pikir, Fuji akan langsung menginjak gas, tapi ternyata… tidak.
“Pantesan gerah, AC-nya nggak nyala.” Fuji kemudian menyalakan AC, menunggu selama beberapa saat sampai suhu di dalam mobil menjadi sejuk. Sementara itu, di sampingnya, Aska terlihat mulai gelisah. Dia melirik jam tangannya, lalu mendengus.
Setelahnya, Fuji menghidupkan musik. Dan hal itu memakan waktu yang bagi Aska terasa sangat lama.
“Kamu jalan aja, biar saya yang cari lagunya,” kata Aska, tak sabar.
Fuji menjawab tanpa meliriknya.
“Memangnya Bapak tahu selera saya?”
“Enggak, tapi… lebih baik kita jalan sekarang.”
“Tapi, saya nggak bisa konsen nyetir kalau saya nggak dengerin musik kesukaan saya, Pak.” Fuji mulai mencari alasan yang bisa membuat Aska kesal. Dia berharap cowok itu keluar dari mobilnya dan pergi mencari taksi atau ojek online. Fuji tak sudi membiarkannya duduk bersanding dengannya di dalam sini.
Aska terlihat mendengus. “Terserah kamu aja.”
Fuji tersenyum lebar. Musik pun menyala dan Aska mengembuskan napas lega. Itu artinya mobil akan segera meluncur. Tapi, rupanya, dugaannya salah. Sekarang, Fuji menurunkan kaca yang ada di atas kepalanya untuk berdandan.
Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini? batin Aska, mulai merasa tertekan.
Apakah semua cewek akan melakukan ritual seperti ini sebelum menyetir?
Fuji mengeluarkan perlengkapan make-up lalu mulai mencari apa kira-kira yang mau dipakainya.
“Kamu bisa melakukan itu nanti di kampus.” Aska tidak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar. “Kita sudah hampir terlambat.”
“Kalau misalnya Bapak buru-buru, lebih baik sekarang Bapak keluar terus cari taksi atau ojek online aja. Daripada nungguin saya.”
Aska menatapnya selama beberapa detik kemudian mengalihkan pandangan. “Saya nggak punya pilihan lain.”
“Oke.” Fuji sengaja memoles ulang bibirnya dengan lipstick. Menyisir rambutnya dan menyemprot parfum dengan berlebihan sehingga Aska terbatuk-batuk.
Setelahnya, Fuji pun berkata, “Udah, kan, Pak?”
“Seharusnya saya yang tanya itu sama kamu.”
“Berdoa dulu, Pak.”
“Huh?”
Fuji tiba-tiba menginjak gas kemudian mengerem mendadak sehingga Aska terpental ke depan karena dia belum mengenakan sabuk pengaman.
“Ada yang belum, Pak.” Fuji mengambil kacamata dari atas dasboard lalu memakainya. Diliriknya Aska yang lagi-lagi mendengus sabar melihat aksinya. Dia yakin banget kalau cowok itu pasti merasa kesal setengah mati sekarang. Bodo amat, memang itu tujuannya kok.
Sebelum Aska selesai memakai sabuk pengaman, Fuji sudah menginjak gas. Dia membawa laju mobil dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Aska, mulai merasa nyawanya terancam.
Fuji tidak menjawab. Entah memang tidak dengar karena suara musik yang cukup keras, entah karena memang dia sengaja.
Aska lalu mengecilkan volume musik dan bicara lagi, “Tolong jangan kencang-kencang. Kamu bisa membahayakan pengguna jalan yang lain!”
Fuji meliriknya dengan santai. “Takut, ya, Pak? Santai aja kali. Bentar lagi juga nyampe kok.”
“Tapi, kamu terlalu ngebut. Ini bahaya dan kita bisa dapat masalah.”
Fuji kembali mengeraskan volume musik dan menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri sambil menyalip kendaraan di depannya dengan lihai. Aska tidak menyangka kalau ternyata Fuji bisa senekat dan seberani itu. Oh, ya, ketinggalan. Dan segila itu!
Bahkan, meskipun sudah diklakson berkali-kali oleh pengguna jalan lain karena kecepatannya menyetir, itu tidak membuat Fuji langsung memelankan laju mobilnya.
“Kamu nggak takut mati apa?”
Fuji tidak menjawab dan terus fokus pada jalanan di depannya. Dalam hati dia bersorak senang melihat ekspresi ketakutan Aska yang mungkin hanya dia orang pertama yang melihatnya. Luar biasa!
Sekitar dua ratus meter dari gedung kampus, Fuji menghentikan mobilnya tepat di tepi jalan.
“Kenapa berhenti?” tanya Aska setelah dia mengembuskan napas lega. Ternyata Tuhan masih memberikannya kesempatan hidup setelah melewati masa-masa yang membahayakan seumur hidupnya.
“Bapak turun di sini aja, ya?”
“A-apa?”
“Gini loh, saya itu kan terkenal di kampus. Semua orang tahu siapa saya. Jadi, untuk menghindari hal-hal yang bisa merusak citra nama baik saya, sebaiknya jangan sampai ada orang yang lihat kalau Bapak pergi bareng saya.”
Aska membuka mulut, bersiap mengajukan pertanyaan.
“Saya nggak mau kecantikan saya dibilang memanfaatkan Bapak untuk mendapat nilai yang bagus. Jadi, mendingan Bapak turun dan jalan kaki aja. Oke? Sebentar doang kok, Pak. Paling lima menitan.”
Aska mendengus. “Kamu ngerjain saya, ya?”
“Huh? Sorry? Maksudnya, apa, ya?”
“Saya tahu kamu ngerjain saya. Tapi, tadi saya nggak punya pilihan lain. Terima kasih sudah memberi saya tumpangan.” Aska kemudian membuka pintu lalu turun dari mobilnya.
Fuji mengangguk kemudian menginjak gas dan meninggalkan Aska sendirian di tepi jalan. Melalui kaca spion, Fuji bisa melihat Aska mulai berjalan di trotoar.
“Emang enak. Makanya jangan macem-macem sama gue. Hari ini gue menaaaang! Hahahaha!”
***
“Tumben lo datang tepat waktu,” kata Kaila sewaktu melihat kemunculan Fuji di hadapannya.
“Lagi pengen aja, hehehe,” jawab Fuji riang kemudian duduk. “Hari ini cerah banget, ya? Secerah hatikuuu.”
Kaila menatapnya dengan kening berkerut. “Kenapa, sih? Hepi banget kayaknya. Dapat job bayarannya gede?”
Fuji menggelengkan kepalanya. “Enggak. Emang lagi hepi aja.”
“Aneh banget. Nggak biasanya lo semangat ke kampus. Atau… jangan-jangan, lo ditembak ya sama Alden?”
Fuji menggeleng lagi. “Enggak.”
“Terus apa dong?”
“Mau tauuuu aja.”
“Najis.” Kaila dengan entengnya menoyor kepala Fuji.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekati ruang kelas. Sosok Aska yang terlihat berkeringat pun muncul, membawa angin segar. Meski terlihat ngos-ngosan karena berjalan cukup jauh, hal itu justru meningkatkan pesonanya.
“Pak, mau saya elapin nggak keringatnya?” celetuk seorang cewek di depan sana, sehingga membuat seisi kelas bersorak sorai.
Aska tersenyum singkat. “Terima kasih, saya sendiri saja.”
“Huuuuuu!”
Fuji ikut tertawa ketika teman-temannya tertawa. Namun tawa itu seketika berhenti ketika Aska melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
Dari tatapan itu, Fuji merasa Aska mengatakan sesuatu padanya, yang berarti, dia akan membalas perbuatan Fuji tadi padanya.
Fuji mendongakkan dagunya, seakan menantang Aska. Menyadari hal itu, Aska tertunduk, seakan sedang menahan senyumnya.
Lihat saja. Dia akan membalasnya nanti.
***