MD || 07

1831 Kata
 Sydney  Pagi-pagi Juno sudah sampai di kantornya. “Selamat pagi, Pak Gabriel,” sapa sekretaris Juno yang sangat cantik dan manis. Penampilannya standa r tak ada yang berlebihan dari make up serta pakaiannya .  “Pagi, Nona....” Juno menghentikan perkataannya karena dia memang belum berkenalan dengan si sekretaris tersebut. “Saya Cathrine, Pak. Saya yang akan membantu Anda selama di sini,” ujar Cathrine sambil membungkukkan tubuhnya. “Ah, ya ... Cathrine. Hmm ... baiklah. Terima kasih, boleh saya minta tolong agar kau memberitahukan kepada OB untuk membuatkanku segelas kopi hitam?” tanya Juno lagi. Dia tak bisa tidur semalaman. Banyak hal yang dia pikirkan. Dari Niana sampai perusahaan. Bahkan dia tak sempat memikirkan dirinya sendiri sehingga sampai saat ini dia masih belum mempunyai kekasih. “Baiklah, Pak. Silakan ditunggu sebentar,” ujar Cathrine sambil tersenyum. Senyumnya sangat manis sampai membuat Juno terpesona dengan senyum itu dan membuat dia tak jadi masuk ke dalam ruangannya. Cathrine heran dan kembali bertanya.  “Apa ada yang lain, Pak?” “Ah ... oh, tak ada. Hanya saja ... ah, sudah. Lupakanlah. Aku akan masuk dulu,” jawab Juno menjadi salah tingkah sendiri. Cathrine kembali tersenyum. Dia menekan tombol intercom yang ada di mejanya untuk meminta seorang OB membuatkan bosnya secangkir kopi.  Di dalam ruangan, Juno masih melamun sampai duduk di balik meja dengan sendirinya. “Apa-apaan ini? Kenapa aku masih sempat memikirkan hal itu? Sekarang aku harus fokus. Niana belum juga membalas surel-ku. Aku harus bagaimana? Firasatku tak baik, tapi aku belum bisa kembali ke Indonesia sekarang.” Juno mulai frustrasi. Bagaimana bisa dia terpesona dengan sekretarisnya, jika saat ini kabar adiknya saja belum dia ketahui? Juno menekan tombol teleponnya untuk melakukan panggilan ke Indonesia. Dia mencoba menelepon Ratna, tapi tak juga diangkat. Dia akhirnya kembali menelepon Mario.  “Halo. Pak Mario, bagaimana? Apa ada kabar mengenai Niana?” tanya Juno ketika Mario mengangkat teleponnya.  “Apa Niana belum juga menghubungi anda?” Mario sedikit terkejut. Bagaimana bisa Niana tak ingat dengan kakaknya dan tak menghubunginya bahkan saat dia sudah aman di rumah bersama Ratna.  “Memangnya Bapak sudah bertemu dengan Niana?” tanya lagi Juno sambil kembali mengecek surel-nya. Namun, masih nihil. Tak ada surel masuk dari Niana. “Sudah, kemarin sore. Apa kau benar-benar belum mendapat kabarnya?” tanya Mario lagi. Dia benar-benar heran.  “Belum, Pak. Bahkan aku sudah me-refresh surel-ku saat ini.” Lagi, Juno menyakinkan Mario. “Hmm ... begini saja. Aku minta nomor teleponmu di sana. Hari ini aku akan ke rumahmu lagi dan menyuruhnya untuk menghubungimu. Bagaimana?” saran Mario. “Baiklah. Padahal aku juga sudah memberikan nomor teleponku melalui surel. Namun, dia belum juga menghubungiku,” ujar lagi Juno.  Setelah menutup telepon dia mendapat balasan surel dari Niana.  From : NianaKennedy  Apa kau kakaknya Niana?  Juno mengerutkan keningnya ”Kenapa Niana mengirim surel seperti ini?” tanya Juno dalam hati. *** Niana mundur selangkah mendapati Ratna yang memegang bahunya dengan cukup keras, membuatnya harus menahan sakit. Ratna memeluk tubuh Niana dengan cepat dan berbisik sementara ketiga polisi sudah masuk dan memeriksa keadaan di dalam apartemen ditemani dengan Mario. “Jangan berani macam-macam jika kau tak ingin lelaki yang menolongmu dalam bahaya,” bisik Ratna saat memeluk tubuh memar Niana. Niana tak takut, tapi dia meringis kesakitan. “Ba-baiklah, tapi tolong lepaskan pelukan palsumu ini. Tubuhku sangat sakit,” ujar Niana tak takut. Dia memikirkan keselamatan Dennis. Dia tak ingin melibatkan lelaki yang sudah cukup menolongnya semalam. “Niana sayang ... ayo pulang. Mama tak akan pergi lagi. Kau akan aman dan Mama akan menyewa bodyguard untuk mengantarmu ke mana pun kau mau,” ujar Ratna di depan Mario.  “Iya, Niana. Kau akan aman. Kami akan membuat rumahmu aman karena Om akan menyiapkan pasukan polisi yang akan berjaga di rumahmu,” ujar Mario.  “Apa itu tak berlebihan, Pak?” tanya Ratna.  “Aku akan menyewa seorang penjaga untuk Niana. Jadi ke mana pun dia pergi, bodyguard-nya akan selalu ada,” ujar Ratna. Jika menyetujui saran Mario, dia tak akan bisa berkutik lagi.  “Baiklah seperti itu saja.” Bodohnya Mario langsung menyetujui saran Ratna.  “Om, lebih baik....” Niana berhenti berucap saat Ratna memotong perkataannya. “Tenang, Sayang. Kau pasti akan aman. Mama tak mungkin membiarkanmu diculik seperti ini lagi,” ujar Ratna sambil menatap tajam Niana agar tak berani berkata macam-macam. “Baiklah.” Niana menyerah, dia tak tahu lagi harus bagaimana. Berharap Dennis menyadari ponselnya yang diletakkan di dekat nakas kamar Tamara dan melihat surel yang akan dia kirim kan ke Juno. Semoga saja surel itu tersimpan di draft. “Clear!” ujar salah satu petugas polisi kepada komandannya.  “Tak ada benda yang dapat dijadikan barang bukti untuk melakukan kekerasan, Pak. Hanya pisau dapur yang memungkinkan. Namun, melihat tubuh gadis ini, kemungkinan orang tersebut tak menyakitinya dengan pisau dapur,” ujar si komandan polisi setelah mendapatkan pisau dapur yang sudah dibungkus oleh salah satu bawahannya. “Baiklah, segera bereskan. Kita akan mendatangi penghuni apartemen ini setelah dia mengira dirinya akan aman,” ujar Mario.  Lalu mereka pergi meninggalkan apartemen Dennis. Saat di lobby, mereka berpapasan dengan Dennis. Salah satu polisi melihat Dennis, tapi tak dipanggilnya karena komandannya meminta untuk menahan tindakan untuk menangkap si penghuni apartemen tempat Niana tadi ditemukan.  ***  Setelah kenyang mendapat makan siang berbentuk ceramahan dari Tamara, Dennis akhirnya bisa pulang dengan membawa makanan yang dibelinya di dekat kantor Tamara. Dia membeli dua bungkus, satu untuk dirinya satu lagi untuk Niana. Tamara yang menyuruhnya untuk membeli makanan tersebut. Namun, saat tiba di lobby apartemen dia melihat Niana di kawal polisi dan satu orang lelaki tua dan satu wanita paruh baya. Wanita itu menggandeng Niana. Dennis menatap Niana dan Niana menatapnya sambil menggelengkan kepalanya menandakan jangan panggil dia. Niana menggerakkan bibirnya seolah mengatakan sesuatu kepada Dennis. “Lihat ponselmu.”  Kurang lebih seperti itulah yang bisa dibaca Dennis dari gerakan bibir Niana. Niana dan beberapa orang tersebut menghilang di belokan lobby. Dennis langsung menaiki lift dan setibanya di apartemen, dia langsung mencari-cari ponsel yang dia berikan kepada Niana sebelum dia pergi. Namun, dia tak menemukannya. Hari sudah sore saat Dennis menemukan ponselnya dalam keadaan mati total. Dia ke kamarnya untuk men-charge ponsel tersebut, setelah menyala. Dia langsung mencari petunjuk.  “Ah, mungkin ada di surel yang dia buka tadi.”  Maka Dennis membuka surel dari Juno, tapi belum ada satu balasan pun yang terkirim. Dia mengecek draft dan mendapati pesan yang diketik Niana.  Matanya membulat melihat pesan tersebut. Dia tersadar ternyata wanita yang ada di samping Niana tadi itu mungkin ibu tirinya yang menyiksanya sampai membuat tubuh Niana banyak memar. Namun, saat dia ingin mengirimkannya kepada Juno, seseorang memencet bel pintu apartemen Dennis membuatnya mau tak mau melihat siapa yang datang.  Namun, tak disangka Dennis, seorang polisi mendatanginya dan memberikan surat izin agar membawanya ke kantor polisi untuk di mintai keterangan.  Tak ada pilihan lain, Dennis harus ikut polisi tersebut.  “Kenapa gadis itu tak memberitahukan kepada polisi bahwa aku tak melakukan apa pun?” batin Dennis sambil mengikuti polisi tersebut.  Setibanya di kantor polisi, Dennis dimintai beberapa keterangan. Namun, perkataannya tak dipercayai oleh siapa pun di kantor polisi itu. Ditambah Ratna yang membumbui bahwa Dennis pasti melakukan sesuatu kepada Niana hingga akhirnya Mario menanyai Niana. Niana mengatakan bahwa Dennis tak melakukan apa pun, malah Dennis yang menolongnya dari orang jahat. Walau Niana tak memberitahukan siapa penjahat yang melakukan hal buruk kepadanya karena Ratna sudah memperingatkannya perihal ancamannya untuk membuat Dennis celaka.  Lalu Niana dibawa pulang dengan Ratna. Mereka berpisah dengan Mario dan Dennis. Dennis sangat ingin menolongnya. Namun, karena sudah sampai membuatnya hampir bermalam di kantor polisi, ditambah melihat reaksi Niana yang terlihat tak tenang membuat Dennis mengurungkan niatnya. Dia kembali pulang ke apartemennya. Tepat pukul sebelas malam dia sampai di apartemennya. Waktunya benar-benar terkuras karena bertemu Niana. Dia langsung saja meletakkan tubuh lelahnya di atas tempat tidurnya. Sampai pagi hari dia dibangunkan dengan aroma masakan dari dapur. Dia kira Niana kembali, maka dia segera keluar dari kamarnya.  “Niana, kau bisa kembali ke sini?” tanya Dennis begitu keluar dari kamarnya, tapi yang dia dapati adalah Tamara. “Dennis, kamu sudah bangun? Maaf semalam Mama pulang ke rumah. Kenapa kau mencari Niana? Bukankah dia ada di kamarku?” tanya Tamara heran. Ini masih pukul lima pagi, tak tumben-tumbennya Dennis terbangun. “Dia sudah pergi, Ma.” Tersirat nada kecewa saat Dennis mengucapkan bahwa Niana sudah pergi. “Pergi? Ke mana? Bukankah kaubilang dia baru saja melarikan diri dari rumahnya?” “Dia dibawa kembali oleh ibu tirinya.”  “Apa?! Kenapa kau tak menahannya?”  “Semalam Dennis dibawa ke kantor polisi atas tuduhan menculiknya, walau dia akhirnya mengatakan bahwa aku tak menculiknya. Dennis melihat raut wajahnya yang seolah mengatakan jangan ikut campur lagi. Makanya Dennis langsung pulang,” ujar Dennis sambil mengucek-ngucek matanya. Dia masih sangat mengantuk, tapi karena mendengar suara di dapur yang dia pikir Niana membuatnya terbangun.  Ah, kenapa Dennis jadi memikirkan Niana? Niana juga pasti tak bisa masuk kalau bukan dia yang membukakan pintu. “Lalu bagaimana keadaan dia sekarang? Apa dia tak mempunyai saudara yang bisa menolongnya?” tanya Tamara, mengingatkan Dennis akan kakak Niana.  “Oh, iya! Mama, terima kasih. Aku hampir saja melupakan itu. Sebelum aku dibawa polisi, aku melihat draft surel yang akan Niana kirimkan ke kakaknya, tapi aku sedikit ragu. Apakah benar ini surel dari kakaknya atau bukan? Jadi aku akan bertanya lebih dulu benarkah dia kakaknya.” “Dia siapa, Dennis?” tanya Tamara yang nampak heran. “Ini surel yang ingin dikirimkan oleh Niana. Mungkin kemarin ponsel Dennis lowbat saat Niana ingin mengirim surel kepada kakaknya, tapi Dennis belum yakin apa benar ini kakak Niana. Dennis akan mengirimkan pertanyaan kepada orang yang bernama Gabriel Juno ini. Mungkin saja dia salah satu pengikut ibu tirinya Niana,” terang Dennis.  Maka Dennis langsung mengetikkan sebuah pesan untuk membalas surel Juno  To : gabrieljuno27 Apa kau kakaknya Niana? Send  *** “Kita akan tunggu jawabannya,” ujar Dennis. “Apa maksudmu, Dennis? Jika kau bertanya seperti itu, orang itu akan menjawab iya,” ujar Tamara. “Tidak, Ma. Jika dia benar-benar kakaknya Niana, dia akan membalaskan hal yang membuatnya heran,” ujar Dennis malah membuat Tamara semakin bingung.  “Ah, terserah kau saja. Yang jelas kau harus menolong Niana,” ujar Tamara. “Tentu, Ma. Aku tak bisa tidur karena memikirkan dadanya,” ujar Dennis keceplosan. “Apa kaubilang?!” Tamara terkejut mendengar penuturan Dennis barusan.  “Ah,   tidak!    Maksudku buah--ah, bukan. Wajahnya ... dia terlihat....” Pletak!  Centong sayur yang ada di tangan Tamara mendarat tepat di kepala Dennis walau tak terlalu keras. “Aduh! Mama, kenapa kau selalu memukul kepalaku?” protes Dennis.  “Agar otakmu tak m***m lagi. Cepat katakan dengan benar. Ada apa dengan wajah Niana?” tanya Tamara. Dennis mengusap-ngusap kepalanya “Dia terlihat seperti tertekan. Mungkin ibu tirinya sudah mengancamnya.  Tring Surel di ponsel Dennis telah masuk. From : gabrieljuno27 Apa maksudmu, Niana? Apa kau baik-baik saja?  Atau kau bukan Niana? Dennis tersenyum mendapat balasan seperti itu dari Juno. **               79
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN