SAAT ini Rey dan Alex sudah tiba di cafe yang sudah dijanjikan untuk bertemu dengan Dennis. Sudah setengah jam berlalu mereka menunggu dan Rey juga sudah menghabiskan minumannya. “Si Dennis itu benar-benar tukang ngaret!”—Rey memanggil pelayan—“Mas, pesen minum kayak tadi, ya.” Sementara Ben dengan tenang menyerupu t kopinya sambil membaca naskah dari penulis untuk film yang akan dibuat. “Rey, kau itu seperti ingin bertemu dengan wanita saja. Begitu tak sabaran,” ucap Ben santai. “Ah, untukku waktu itu berharga,” ucap Rey. “Waktumu hanya untuk bermain-main dengan wanita atau artis baru. Kau itu tak pernah puas apa? Apa itu waktu berhargamu?” sindir Ben. “Lex, lebih baik kau tak usah bicara daripada sekali bicara sangat menusuk,” balas Rey. Dia bahkan sudah menghabiskan satu gela

