Jingga Pov.
Sarapan yang menyenangkan kembali mewarnai pagiku disaat Kevin mulai memulai sikap manja ala anak - anak padaku. Dia meminta ini dan itu yang ketika aku tolak maka pria itu akan memanfaatkan Mei untuk membuatku menurutinya. Tanpa perduli jika istrinya cemburu atau kesal yang pasti ia tetap aku menyuapinya atau memberinya minum. Rasanya aku sedang merawat bayi besar. Besar dari ujung kaki hingga sesuatu yang sepantasnya besar.
"Kevin, aku naik mobil sama kamu ya? Kan kita searah..."
"Ngak bisa. Aku mau meninjau proyek. Kamu diantar mang Asep saja," tolak Kevin mentah - mentah.
Pegangan sendok di tangan Mei kembali mengepal. Nampak jelas ia menahan diri agar tidak marah, dan perlu upaya maksimal untuk melakukannya.
"Bibi Mei, aku nanti mau pergi sebentar mengunjungi makan ayah," kubuat nada takut - takut agar nampak tidak melakukan macam - macam. Padahal aku sudah menghubungi Nada, dan kebetulan tunangan Nada adalah seorang polisi.
"Biar aku antar," ucap Kevin yang membuatku dan Mei melongo. Pria ini memang sangat menyenangkan dengan caranya sendiri. Dia seolah bisa mengetahui isi hatiku yang membenci Mei diam - diam. Namun aku masih tidak bisa menyimpulkan apakah dia kawan atau lawan.
"Ti - tidak usah. Daddy kan ada pekerjaan. Jadi aku tak ingin merepotkan---"
"Tidak ada bantahan. Aku akan mengantarmu."
Sebelum aku membantah lagi, Kevin melihat ke Mei. "Kenapa kamu belum berangkat. Sebagai bos perusahan kau harus memberi contoh pada karyawanmu. Kalau kau sama sekali tidak bisa bersikap profesional maka tinggal menunggu waktu untuk kebangkrutan perusahaanmu," cecar Mei.
Sekali lagi pria ini memukul Mei dengan kata - katanya. Sekarang aku sudah terbiasa dengan kata - kata pedas yang ia lemparkan pada Mei.
Mei bangkir dari kursinya, dia menaiki tangga dan aku tak tahu apa yang ia lakukan di kamarnya. Yang perlu aku waspadai saat ini hanya pria yang menatapku dengan seringai luar biasa tampan tapi menakutkan.
Yah, dia memiliki fisik seperti orang timur tengah. Kevin memiliki fitur wajah tegas, berhidung tinggi juga bermata tajam. Surainya yang hitam agak kemerahan terurai sampai bahu. Sebuah style yang menandakan dan mengatakan pada semua orang jika aku tidak jinak sama sekali. Perlu waktu seumur hidup bagimu untuk mengaturku. Dan sekarang aku dihadapkan oleh orang yang seperti itu.
"Kurasa kau perlu bersiap sekarang. Jangan lupa berdandan meski kau nampak menakjubkan dengan wajah natural itu," tutur Kevin lembut.
Aneh bukan? Dia mengatakan hal kejam pada Mei tapi begitu lembut padaku. Aku sudah lelah bertanya - tanya dan hanya akan melakukan sesuatu untuk mengetahui hubungan mereka. Apalagi dia seorang Pratama.
"Aku hanya akan mengambil tas ku, Daddy," jawabku lirih sambil menunduk.
"Hei, kalau bicara lihat mataku donk. Aku kan jadi ngak bisa melihat matamu yang bulat dan cantik itu. "
Lagi - lagi ia mengatakan rayuan manis. Dia seperti memiliki hobi menggodaku di setiap kesempatan. Itu bagus karena dengan sikapnya yang seperti itu aku bisa menikmati rasa sakit Mei yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Sama seperti yang dirasakan ibuku kala Mei merebut ayahku. Meski aku tahu apa niatnya merayuku dan mengabaikan Mei di depan Mei.
Aku melihat ke arahnya. Oh Gosh, dia benar- benar wow. Dia membuat mataku tak ingin berpaling. Padahal aku perempuan tapi wajahnya menyedot seluruh perhatianku hingga aku seolah kehilangannya rasa malu. Mataku mendapatkan vitamin pagi ini.
'Inikah alasan kenapa Mei menikahi pria ini dan menerima semua perlakuan buruknya. Aku rasa kalau hanya wajah tampannya saja yang Mei perjuangkan maka ia sangat bodohh. Beda lagi jika ia mengincar harta Pratama seperti yang ia lakukan pada keluarga Broto.'
"Noh, lihat... bulu matamu sangat panjang dan lentik padahal kamu ngak pake alat make up. Bibirmu juga pink segar. Sama sekali bernada dengan wanita berlipstik tebal dan menor di atas."
Dia terus mengatakan hal yang menyakiti Mei meski suara ketukan stilleto Mei terdengar dari tangga. Aku menunduk sambil melirik ke arahnya dari balik suraiku yang berjatuhan ke depan wajahku. Itu karena aku tidak ingin melewatkan seperti apa ekspresi wajahnya.
Woah, wajahnya mengeras dan tatapan matanya sangat mengerikan. Buru - buru aku menunduk agar tidak ketahuan. Apapun yang diucapkan Kevin memang membawa kemarahan bagi Mei, aku suka Kevin melakukan hal - hal yang menyakiti Mei. Sayangnya aku juga tahu jika akan menjadi tempat pelampiasan emosi Mei karena Kevin.
"Oh kau sudah siap. Kau membutuhkan waktu lama untuk berdandan padahal yang perlu kau isi adalah otakmu agar bisa mengerti laporan perusahaan," sindir Kevin.
"Aku berangkat," lirih Mei. Dia menunjukkan sikap seolah sangat terluka padahal beberapa detik yang lalu dia melototiku dengan penuh kebencian.
Melihat Mei yang sudah meninggalkan rumah, Kevin menghela nafas panjang. Dia terdiam menatap pemandangan di samping rumah keluarga Broto melalui meja makan. Tatapannya agak menerawang. Namun aku lebih perduli makananku dari pada reaksinya.
"Ayo, kita juga berangkat, " ajak Kevin.
Aku menuju ke atas dan mengganti rokku dengan jeans. Tidak ada hal khusus yang aku lakukan pada wajahku selain lipgloss. Setalah mengambil tas, aku segera turun ke bawah.
"Aku sudah siap Daddy," ucapku.
Daddy? Rasanya aku ingin mengutuk panggilan itu. Aku kan bukan anaknya, juga bukan anak tirinya. Mei dan aku tidak memiliki pertalian darah sama sekali dan suami Mei jelas tidak memiliki ikatan keluarga apapun.
Kevin tersenyum tipis, dia menaruh tangannya di pinggangku dan mendorong lembut juga tegas.
"Tumben kau tidak rewel," ucap Kevin dengan nada bercanda. Dia membukakan ku pintu mobil. Bukankah itu so sweet. Aku bahkan yakin jika ia tidak pernah melakukan hal ini pada Mei. Aku berani bertaruh untuk itu.
"Aku hanya rewel di saat tertentu. Apalagi Daddy membuat posisiku canggung di depan bibi Mei."
Kevin menyeringai lebar, yang sekali lagi membuat mataku serasa segar. Dia benar- benar seperti milkshake yang menyegarkan.
"Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan Jingga. Aku bukan pria yang suka mengatakan sesuatu yang tak sesuai dengan isi hatiku," ujarnya dengan penuh keyakinan.
Baiklah, tidak ada alasan untuk berdebat. Meski aku dengan senang hati adu argument dengannya, tapi itu menimbulkan resiko ketahuan kalau selama ini aku hanya berpura - pura patuh. Meski pada dasarnya aku sedang membangun keberanian diriku yang kurang percaya diri, tapi aku jauh lebih berani dari sebelumnya.
Begitu tiba di makam, Kevin segera pergi meninggalkan ku. Kurasa ia beban mental untuk ikut ke makam ayahku karena ia sudah menikahi wanita yang dicintai ayahku.
Hamparan hijau begitu segar dilihat oleh mata. Beberapa orang juga datang berkunjung, dan di sisi makam ayahku, Nada sudah menungguku.
"Jingga, akhirnya kau datang. Ayo kita ke rumah," ajak Nada.
"Iya, tapi aku mau berdoa sebentar ya... "
Nada mengangguk, dia juga ikut berdoa bersamaku dengan khusuk.
'Ayah, aku akan berusaha mendapatkan bukti agar wanita itu bisa dihukum,' ucapku dalam hati.
Setelah itu kami pergi meninggalkan makam dan menuju ke rumah Nada. Di sana tunangannya, sudah menunggu kami.
"Tono, kenalkan ini sepupuku Jingga."
"Halo, salam kenal." Tono menjabat tanganku, dan kami berkenalan sekaligus mengakrabkan diri.
Tono memiliki fitur tegap dan berkulit sawo matang. Dia nampak tegas dan disiplin. Sangat sesuai dengan Nada yang memang agak cuek. Tono pasti bisa membimbing Nada sehingga lebih bertanggung jawab.
"Sayang, Jingga memiliki sesuatu untuk diceritakan padamu. Ini berkaitan dengan kematian paman Karim," jelas Nada.
Tono menatapku serius dan mulai memintaku menceritakan kejadian secara detail. Dan aku tak ragu untuk menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.
"Jadi demikian. Nampaknya kasus ini sederhana tapi jika ia menyewa pengacara hebat maka ia bisa menyalahkan dokter keluarga mu dan lolos dari hukuman," kata Tono. "Oleh karena itu saya akan melakukan penyelidikan dan mengumpulkan bukti - bukti. "
"Terima kasih mas Tono."
"Baiklah. Say pamit dulu, ketika ada perkembangan tentang penyelidikan, saya akan menghubungi Nada."
Aku sangat bersyukur memiliki sekutu seperti ma Tono. Untung saja tunangan Nada adalah penegak hukum, semoga saja ia bisa membantu. Kami menghantar kepergian mas Tono di pintu dan kembali masuk begitu dia sudah melajukan mobilnya.
Nada kemudian mulai berbicara denganku. "Kenapa kamu ngak ngomonh sama mama, Jingga? Kan mama bisa membantumu..."
Jingga menggeleng dan mulai menjelaskan alasannya. "Kalau bibi Sarah tahu, dia pasti akan membuat keributan. Aku ngak mau apa yang dikatakan mas Tono tadi terjadi, Mei pasti siap dengan pengacara handalnya."
"Ya sudahlah. Untuk sementara aku akan merahasiakan dari mama. Tapi ingat, suatu saat pasti mama akan tahu."
"Aku mengerti Nada."
Aku menyandarkan tubuhku pada sofa, dan mulai teringat pada Kevin.
"Nada, siapa yang mengantarmu tadi?" tanya Nada.
Nada rupanya juga penasaran pada Kevin dan aku mulai menceritakan semuanya.
"Dia suami baru Mei," jawabku.
Nada jelas memekik marah. "Wanita jalangg itu keterlaluan ya. Padahal dia numpang di rumah Broto tapi malah nikah lagi."
"Tenang dulu. Aku justru melihat ada baiknya Mei menikah sebab ia seperti mendapatkan karmanya."
Nada mengerutkan alisnya. Matanya yang bulat menatapku bingung. Akhirnya aku menceritakan semua yang terjadu saat Kevin muncul.
"Jadi Kevin memperlakukan Mei seperti sampah? Dan apa itu tadi, dia adalah seorang Pratama?" Mata Nada melebar tak percaya. Sama sepertiku yang sama tak percayanya saat pertama mendengar nama belakangnya.
Nada terdiam sejenak sebelum berkata - kata. Dan pada saat ia mengatakan sesuatu, aku seperti disambar petir.
"Kenapa kau ngak sekalian membuat wanita itu merasakan apa yang bibi Melinda dulu rasakan, Jingga?" ucap Nada.
Aku kebingungan dengan maksud Nada. Dan ia pun memperjelas maksudnya.
"Rebut dia dari Mei, Jingga. Buat Mei sakit hati seperti yang pernah bibi Melinda rasakan. Ingat Jingga, lama - lama Mei akan kebal jika hanya disindir seperti itu sama Kevin. Yang benar - benar menyakitinya adalah merebut pria yang membuat Mei tergila - gila. Dia pasti jadi sinting kalau Kevin berhasil kamu rebut."
Saran dari Nada terdengar gila. Aku memang ingin membuat Mei sakit hati dan cemburu. Tapi tak pernah terbesit dalam benakku untuk merebut suami orang.
"Dasar gila. Kau mau aku jadi pelakor?" tanyaku jengkel.
"Yah, cuma merebutnya aja. Setelah itu kamu bisa memutuskan hubungan dengan Kevin, kan?"
"Itu namanya mempermainkan perasaan Kevin. Lagi pula aku yakin dia tidak memiliki perasan padaku."
"OMG Jingga, kau ini cantik banget tahu. Orang buta yang bilang kamu itu ngak cantik. Lihat, tanpa make up aja kamu dan secantik ini."
Semakin aku menanggapi Nada maka otakku akan ikut terkontaminasi. Oleh karena itu aku tidak mau melanjutkan percakapan kami. "Sudah, kamu semakin ngelantur. "
"Kamu ini di kasih saran bagus kok malah sewot. Ya sudah, biar aja nenek lampir itu enak - enakan sampai kamu dapat bukti. Padahal tadi saja kamu cerita kalau Kevin ngomongnya pedes banget. Itu tandanya tuh cowok juga illfeel sama nenek lampir itu. Pasti ada something lah."
"Iya sich, tapi apa ya? Aku juga curiga sama hubungan mereka."
Nada hanya mengangkat bahu. Dia menuju ke kulkas dan mengambil cemilan dan minuman dari sana.
"Ntar Tono aku suruh nyelidiki juga. Sekarang nonton di kamarku yuk. Bosen tahu di ruang tamu."
Aku menurut, kami berbincang dan menonton film di kamar rumah Nada. Sudah lama aku tak sesantai ini. Namun ide dari Nada entah kenapa tidak mau hilang dari otakku.
Tbc.