Bulan madu tidak pernah ada dalam daftar rencana Jingga, dia masih mengira jika dia dan Irvan menjadi seorang patner dalam sebuah kesepakatan sehingga tidak ada namanya keromantisan. Yang ada adalah rasa hormat dan saling menghargai. Tentu saja diiringi dengan penyesuaian - penyesuaian yang Irvan inginkan. Penyesuaian itu tidak hanya ketika ia sudah berada di rumahnya dan menjadi nyonya rumah. Tapi dalam hal yang lebih mendasar dan terkait ranjang. Tidak ada bantahan dari Jingga meski ia kewalahan dengan hasrat* dari suami sementaranya. Dia adalah badai api yang menghanguskan. Membawanya ke dalam bara penyatuan dua jiwa yang tak terelakkan. Walau pada awalnya semua yang ia rasakan hanyalah sebuah kewajiban semata namun ia tidak bisa menyangkal jika tubuhnya ikut terlarut dalam gerakan -

