Menikmati taman depan rumah yang berhadapan langsung dengan jendela kamarku menjadi pilihan terbaik usai membasuh tubuhku dengan air. Sudah lama aku tak menikmati keindahan yang tata oleh ayahku sejak datang ke rumah ini. Mei memaksaku mengerjakan pekerjaan rumah yang lumayan menyiksa otot tubuhku. Beruntung kemunculan suaminya hari ini bisa menghentikanku dari bekerja gila - gilaan.
Ah mengingat pria itu membuatku merasa merinding. Instingku mengatakan jika harus mewaspadainya. Aku tahu dia jauh lebih licik dari yang terlihat.
Puas menikmati angin malam membelai kulitku, aku berbalik masuk ke kamar. Akan tetapi, sesuatu menggangguku.
Ada yang bisa menjelaskan mengapa pria penghancur hati wanita ini ada di sini? Ranjangku adalah milikku dan dia berada di atas sana bergelung di antara sprei seperti kucing anggora yang ingin dielus. Sedangkan aku mengingat dengan jelas jika Kevin tadi bilang padaku dan Mei jika tidak ingin tidur di rumahku. Dia tidak ingin menumpang di rumah orang lain dan menolak Mei tinggal bersamanya.
Lagi pula dia tidak memiliki bulu untuk aku elus.
Awalnya aku ingin mengusir dia seperti kecoa yang menjijikkan. Akan tetapi aku berubah pikiran karena ingin memainkan sesuatu yang nakal. Sesuatu yang pastinya akan memukul Mei dengan cara kejam.
'Terima kasih sudah menjadi alat untuk membuat Mei menjadi lebih tersiksa Kevin. Aku sangat menghargai hal yang kau lakukan meski tak sopan.'
Satu.
Dua.
Tiga.
"Kyaaaaa! "
Suaraku yang cantik membahana ke seluruh mansion.
Drap.
Drap.
Suara beberapa langkah kaki orang berdererap menuju kamarku. Aku hanya memasang sifat lega dan mengelus d**a. Sangat berbeda dengan Kevin yang menyeringai dengan tenang. Dia seperti tidak takut apapun, seolah mampu mengendalikan apapun. Sungguh sikap yang mengerikan.
Brak!
"Ada apa, Nona! " Mang Asep masuk lalu menatapku dengan wajah cemas. Begitu pula penjaga pintu yang turut masuk ke kamarku. Begitu mereka tahu penyebab utama mengapa aku berteriak, tubuh mereka membeku. Raut terkejut bercampur bingung terlihat jelas di wajah mereka. Tentu saja, siapa yang tidak bingung melihat suami ibu tiriku berada di kamarku, itu jelas menimbulkan pemikiran tersendiri di benak mereka.
"Pak Kevin!? Kenapa tuan di kamar non Jingga?" Mang Asep bertanya tanpa ragu.
Penjaga pintu nampak penasaran dan turut menanyakan hal yang sama dengan tuan Kevin. "Kenapa tuan Kevin ada di sini...? "
Para pelayan tanpa sadar memberondong nama Kevin. Aku diam-diam menikmati keributan ini. Tinggal menunggu karakter utama yang belum muncul di kamarku. Sungguh tak sabar rasanya melihat ular itu harus menelan racun kecemburuan. Meski pun aku muak dengan pria yang ada di atas ranjangku tapi aku menyukai caranya yang mampu membuat perasaan Mei terbakar.
"Ada apa ini, mengapa kalian membuat keributan di malam hari? " Akhirnya pemeran utama muncul. Mei hadir dengan lingerie yang ditutup jubah tidur tipis. Tubuhnya yang sitalnya hampir sepenuhnya terekspos di depan mang Asep dan penjaga pintu. Meski aku tidak yakin jika ada manusia yang memiliki d**a sebesar itu, tetap dia nampak menggiurkan dengan dadaa hasil oplasnya.
Tunggu dulu, ada jauh yang lebih menyenangkan untuk dilihat dari pada gundukan palsu hasil oplas itu.
"Kevin... ?"
Dan aku hampir ketawa saat wajahnya mumucat ketika melihat Kevin yang berada di kamarku. Dia pasti tidak membayangkan suami yang ia kejar berada di kamarku. Itu membuat segala hasil oplasnya tidak berguna sama sekali karena tidak berhasil menjaga suaminya tetap berada di kamarnya dan justru menyelinap pergi dari ranjangnya. Dia pasti merasa tertampar karena ini. Wanita yang merebut pria dari istri yang sangat ia cintai, tidak berhasil menjaga suaminya sendiri di ranjangnya. Sungguh ironi.
Waktunya berakting hihihi.
"Ma - maaf... I-ini kesalahanku, Bi. Aku mengira ada kucing hitam yang menyelinap di kamarku, jadi aku berteriak," sesalku yang kembali menunduk.
Kucingnya sangat besar dan nakal. Siapa yang tidak berteriak.
Mei nampak mati - matian menguasai diri agar tidak roboh, mengamuk atau apapun. Bisa aku lihat tubuhnya yang bergetar hebat. Senyum yang terukir di bibirnya pun menjadi aneh.
"Sudahlah, ini hanya kesalahan pahaman. Kalian bisa beristirahat lagi. " Mei memerintahkan para pelayan untuk segera pergi. Dia bahkan tidak menyembunyikan api di matanya.
Sedangkan si biang kerok masih tidak bergeming. Dia justru menyangga kepalanya dengan tangan dan menjadikan bantalku tumpuan. Sikapnya yang bossy sangat menyebalkan.
"Sayang, mengapa kau berada di kamar Jingga? " tanya Mei kemudian.
Wow, nada marah yang tadinya terdengar berubah dalam sekejap. Suara Mei yang menyapa Kevin terdengar centil dan menggoda. Aku sangat kagum dengan nada perubahan yang luar biasa cepat ini. Dia sangat pandai menguasai diri, sesuatu yang perlu aku pelajari darinya. Sejujurnya aku belajar bagaimana cara untuk mencoba menguasai diri dengan cepat dari Mei. Pelajaran yang aku dapatkan aku gunakan untuk melawannya.
"Aku hanya ingin mengakrabkan diri dengan putrimu. Apa salah seorang Daddy mengakrabkan diri dengan putrinya? " Tangan besar Kevin mengusap wajahnya menuju rambut dan berakhir di belakang kepalanya. Gerakan yang seksi sehingga cukup untuk membuat Mei tergila-gila. Juga wanita di luaran sana. Dia seksi secara nyata bahkan bentuk tubuh yang tersembunyi dari kemejanya masih tetap menunjukkan otot-otot kekar yang indah.
"Tapi Daddy, bukankah tadi kau bilang tidak ingin tidur di sini? " Masa bodoh jika pertanyaanku terdengar mengusirnya. Karena aku memang ingin dia keluar dari kamarku. Hari ini aku cukup puas melihat wajah marah Mei. Aku tidak boleh mengambil resiko dengan menuruti Kevin seperti di meja makan. Kevin yang berakhir di kamarku adalah sesuatu yang terakhir kuinginkan. Aku juga tidak ingin berakhir di bawah ketiaknya hari ini. Dia adalah salah satu yang harus aku waspadai, bisa jadi dia adalah salah satu kaki tangan Mei.
"Aku berubah pikiran, " jawabnya cepat. Sikapnya yang bertindak seenaknya kembali membuatku bertanya-tanya siapa sebenarnya pria itu. Dari penampilannya terlihat jelas jika ia bukan pria dari kalangan biasa atau menengah. Karisma nya dan juga atmosfer yang terjadi di saat ia berbicara sangat berbeda dengan seorang yang biasa. Kevin seperti predator yang menunggu mangsa masuk ke teritorialnya. Kesan bahaya sangat jelas terasa jika ia mulai mengintimidasi.
Kali ini Mei nampak mendapatkan keberaniannya untuk membantah Kevin."Tapi Sayang, Jingga adalah seorang gadis. Tidak baik jika hal ini terdengar keluar. "
Mendadak tatapan mata Kevin berubah menjadi dingin. Dia Berdiri tegap dan nampak seperti predator yang sedang marah. Aku tidak menampik jika merasa ketakutan saat ia berjalan dengan perlahan.
"Kau pikir aku peduli dengan pandangan orang lain? Yang penting bagiku adalah mendapatkan tujuan dan itu tidak bisa di ganggu gugat. "
Rasanya memang menyenangkan melihat mereka berdebat. Wajah Mei yang ketakutan, perasaan kalah yang ia rasakan sangat menyenangkan untuk dilihat. Akan tetapi aku butuh tidur dan tidak memiliki waktu untuk melihat mereka bertengkar. Tidak ada yang tahu apa yang Mei lakukan padaku besok. Lebih baik mengakhiri ini secepatnya sehingga aku tidak perlu menunda jam tidurku.
"Apa Daddy ingin tidur di ranjangku? " tanyaku dengan semanis mungkin. Bisa aku lihat jika tubuh Mei menegang.
"Ya, " desahku kemudian.
"Baiklah. "
"Apa!? "
Mei melonjak tak percaya, wajahnya bahkan memerah penuh emosi. Pasti butuh kekuatan yang besar agar ia tidak menyerangku karena berani menyuruh suaminya tinggal di kamarku. Sayangnya aku juga tidak berniat tidur dengannya. Aku masih cukup waras.
"Silakan Daddy tidur di sini, aku akan tidur ke kamar ayahku. "
Tanpa mendengar penolakannya, aku keluar dari pintu. Sama sekali tidak tertarik pada reaksi kedua orang itu. Besok masih banyak hal yang perlu aku lakukan. Semua ini terkait Mei untuk memikirkan bagaimana cara agar aku mendapatkan bukti pembunuhan yang Mei lakukan pada ayahku. Aku butuh istirahat agar memiliki energi esok hari.
Begitu aku tiba di kamar ayahku, ranjang besar yang mendominasi ruangan nampak sangat mengiurkan untuk ditiduri.
Bluk.
"Fiiuuuh... "
Kamar ayah sangat nyaman. Begitu nyaman hingga membuat seseorang tidak akan bermimpi buruk jika tidur di sini. Ranjang berukiran klasik berbahan walnut sangat sesuai dengan kasur berlapis sprei sutra yang menyelimutinya. Dan ketika aku hampir tertidur, suara deru mobil meninggalkan mansion terdengar dari arah depan. Itu adalah mobil Kevin.
Jadi Kevin kembali ke rencana awal?
Aku menyeringai senang. Kini aku bisa tidur dengan tenang di kamar ini tanpa mendapat resiko gangguan dari Kevin.
Aku terbiasa bangun di pagi hari sebelum matahari terbit. Tadi malam aku bermimpi tentang sesuatu dan ingin mengujinya.
Aku menuruni ranjang dan berjalan menuju ruang kerja ayahku. Ada banyak lemari besar dan buku - buku di sana. Entah dari mana ide yang datang, aku mulai meraba - raba dan mencari - cari apapun yang nampak tidak lazim. Sejauh ini tidak ada yang terjadi tapi begitu tanganku mengambil sebuah album kenang - kenangan tanpa sadar tanganku menggeser sebuah buku dan menekan tombol untuk membuka pintu tersembunyi dari balik lemari ruang kerja ayah.
Klek.
Pintu tertutup kembali ketika aku berada di dalamnya. Aku tidak menyangka jika ayah memiliki ruang rahasia. Ada banyak layar monitor di ruangan ini, dan ini bearti ada CCTV yang terpasang di rumah ini. Karena penasaran aku menyalakan komputer. Muncullah gambar di layar monitor yang merekam kegiatan di dalam kamar Mei dan seluruh ruangan.
"Ini aneh," gumanku. Jika ayah memiliki ini kenapa ia tidak tahu jika Mei merencanakan pembunuhan terhadapnya.
Hal pertama yang kulakukan adalah melihat kamar Mei untuk melihat apa yang ia lakukan.
Sedari tadi aku mengamati aktivitas Mei di kamar. Dia nampak bangun tidur dengan kesal dan melempar jubahnya sembarangan. Tak lama kemudian aku melihat ia mengambil sesuatu.
"Oh aku tidak percaya ini, " ucapku akibat melihat kegiatan Mei sekarang. Dia mengambil sesuatu yang aku tahu bernama dildo. Wanita itu sedang bercinta dengan dildonya dan aku bahkan tidak yakin dengan penglihatanku.
"Mengapa dia butuh benda itu padahal ia memiliki suami? " gumanku.
Awalnya aku ingin mematikan monitor sebelum melihat aksinya yang semakin gila. Tidak cukup hanya dengan satu benda, dia menambahkan benda lain untuk lubang bokoongnya. Sedangkan tangannya berada di dadanya dan meremas di sana.
"Wow, dia benar-benar penikmat seks sejati. "
"Kevin... Oh... "
Dari layar ia terus menyebut nama Kevin. Setiap teriakan yang keluar dari mulutnya adalah Kevin.
"Ini gila, bukankah Kevin adalah suaminya tapi kenapa dia seolah mendambakan junior suaminya sendiri. Dia bahkan seperti wanita jablai. "
Semakin aku pikirkan semakin aku menemukan keanehan dalam hubungan mereka berdua. Semua ini sangat tidak normal.
Aku melihat kembali ke arah layar monitor di mana menunjukkan semua kegiatan Mei. Nampaknya sudah usai dengan kegiatan seksualnya. Ia sekarang menganut bisa kenapa menghubungi seseorang.
"Halo Kevin?"
"Apa aku tidak boleh menelponmu..."
"Oh maaf kalau mengganggu. Iya aku akan menutup ponselnya."
"Jingga! kenapa kau menanyakannya?"
"A- aku tidak marah tapi..."
"Iya aku akan menunggumu."
Aku bisa mendengar semua ucapan Mei. Dia nampak marah karena tertolak. Apalagi sekarang ia meninju bantal dan menjerit - jerit. Oh pasti aku akan mendapatkan hari buruk karena mood wanita itu. Pria menyebalkan itu pasti menyebutku dalam percakapan mereka. Lebih baik aku memasak sebelum ia meledak.
Tbc.