Bab 6

1217 Kata
“Hallo.” “Nada, kenapa kau tak ada di kantor?” “Maaf, ini siapa?” “Apa kau tak mengenal suaraku?” “Hmm, Mas Gardy?” “Syukurlah kau mengingatku. Aku di kantor menunggumu, banyak yang harus aku tanya, tapi aku mau kau yang menjelaskannya sendiri padaku.” “Tapi Mas …” “Pokoknya aku menunggumu di Kantor ya.” Laki-laki itu langsung menutup telponya tanpa mendengar jawabanku. Aku bingung harus bagaimana, hari ini aku benar-benar tak ingin bertemu dengan Mas Faiz, tapi jika aku tak datang, aku akan dianggap karyawan yang tak punya tanggung jawab dengan pekerjaanku. Akhirnya dengan berat hati aku memutuskan untuk berangkat ke kantor. Tiba di kantor, Ayu sangat terkejut melihat kedatanganku, tapi saat ini aku tak punya waktu menjelaskan karena harus buru-buru ke ruang rapat bertemu Mas Gardy. Aku perlahan mengetuk dan masuk, nampak Mas Faiz, Mas Gardy dan dua orang bawahan Mas Gardy duduk menatapku, termasuk Fira menatapku dengan tatapan sinis. “Maaf, aku …” “Oh Nada, kau sudah datang. Ayuk duduk.” ucap Mas Gardy sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya dan sedikit menatap pada Mas Faiz yang sedang menatapku juga dengan wajah tersenyum, namun aku langsung menyimpan senyumku kembali ketika melihatnya. Pertemuan berjalan lancar, semua yang di tanyakan Mas Gardi bisa di selesaikan dengan baik. Sebagai bentuk terima kasihnya Mas Gardi mengajakku makan malam dan berjanji akan menjemputku. Aku sudah berusaha menolaknya, namun dia bersikukuh memaksaku. “Pokoknya, nanti malam, aku akan menjemputmu. Tolong kirim alamatnya.” ucapnya di depan aku dan Mas Faiz. Nampak Mas Faiz terlihat menatap dengan wajah yang aku tak mengerti. Namun aku tak peduli dengan dirinya. “Tapi Mas, aku gak …” “Ohh Maaf, Pak Gardi dipanggil Mas sama Nada kenapa?” tanya Mas Faiz tiba-tiba. Mas Gardi seketika menatap ke arah Mas Faiz yang tiba-tiba bertanya. “Oh gak pa-pa Pak Faiz, aku hanya ingin agar bersikap santai aja. Apa ada masalah?” “Oh gak, cuma aku rasa …” “Oh ya Mas Gardi, nanti aku kirim alamatnya, Nanti malam aku tunggu ya.” ucapku memotong pembicaraan mereka karena nampak M. ,as Faiz seperti agak kesal. Mas Gardi mengangguk dan tersenyum senang, kemudian pamit dan meninggalkan kami. Aku langsung berusaha keluar, namun lagi-lagi Mas Faiz melakukan hal kemarin, mengunci pintu dan bahkan berani menarik tanganku. Seketika aku langsung menghempaskannya dengan kasar. “Nada, kenapa kau begitu gampang percaya padanya, kau baru berkenalan dengannya kemarin.” Aku menatapnya dengan tatapan marah. “Oh ya? Tapi aku sekarang sudah bisa menjaga diri. Aku bukan wanita yang dulu, wanita yang mudah dibohongi oleh laki-laki seperti Mas, lagian Mas Gardi sepertinya laki-laki yang bisa di percaya dalam memegang janjinya.” “Tapi kau belum mengenalnya, aku mohon jangan pergi bersamanya.” “Dan Mas siapa berani melarangku? Yang sebenarnya yang gak aku kenal adalah Mas Faiz bukan Mas Gardi. Terlalu banyak kebohongan dalam diri Mas yang baru aku tahu.” “Nada, sampai kapan kau akan marah dan membenciku?” “Sampai kapan? Entalah, mungkin Mas bisa menungguku lima tahun lagi agar kata maaf bisa aku berikan.” “Nada, aku mohon. Selama kau belum mendengar semuanya, aku tak kan tenang. Dengar aku …” “Berhenti bicara Mas, aku tak mau membuang waktuku lagi untuk Mas. Oh iya, aku izin pulang cepat, soalnya mau mempersiapkan acara makan malam.” “Nada …” “Buka pintunya sekarang juga!!!” Mas Faiz terus menatapku dengan wajah mengiba, tapi aku membalasnya dengan tatapan penuh emosi. Dengan berat hati akhirnya laki-laki itu membukan pintu dan membiarkan aku keluar. Aku kembali duduk dan menatap layar komputerku dengan pandangan marah, kenapa aku bisa seperti ini. Rasanya tak sanggup terus bersikap seperti ini. Sebaiknya aku pulang sekarang juga. “Kau mau kemana?” tanya Ayu tiba-tiba. “Aku mau pulang.” jawabku sambil membereskan barang-barangku.” “Hei kau belum bercerita padaku, lagian banyak yang ingin aku tanya.” “Nanti aja, pasti akan aku ceritakan. Tapi gak sekarang. Aku capek.” ucapku sembari pamit dan meninggalkan Ayu dengan wajah kecewa. Aku berjalan dengan cepat keluar dari kantor, ingin rasanya buru-buru tiba di Rumah dan berbaring. Rasa sesak dan emosi menjadi satu di d**a. Aku ingin menangis dan mengeluarkan rasa sesak di dadaku. Saat aku berjalan keluar dari pintu kantor tiba-tiba aku menabrak seorang wanita cantik yang membuatnya hampir terjatuh. Namun semua bawaanku jatuh berantakan. “Hei lihat-lihat kalo jalan Mbak? Apa aku terlalu kecil hingga kau tak melihatku?” “Iya maafkan aku, aku buru-buru.” ucapku sambil menjongkok membereskan barang-barangku. Aku hanya sedikit melihatnya sekilas. Wanita itu perlahan mendekat dan berjongkok disebelahku. “Aku sepertinya mengenalmu?” ucapnya dengan pandangan menyelidik. Mendengar ucapannya seketika aku mengangkat kepalaku dan menatapnya. Aku juga seperti mengenalnya tapi dimana? Aku lupa. Dia terus menatapku dengan pandangan yang aku tak mengerti maksudnya. “Kau. Aku mengenalmu. Kau wanita yang dulu bekerja di toko buku.” ucapnya dengan wajah terkejut. Akupun seketika itu mengingat dirinya. “Ya, aku juga mengingatmu sekarang.” Terbayang kejadian dulu ketika wanita ini kedapatan mencuri di toko buku kami, dia berusaha mengelak namun aku menemukan beberapa buku di tasnya. Aku tak tahu apa yang menyebabkan dia mencuri, padahal waktu itu penampilannya seperti anak orang kaya. “Dunia memang sempit ya? Kau ingat dulu kau mempermalukan aku? Kau menuduhkan mencuri di toko buku tempatmu bekerja.” “Aku bukan menuduhmu, tapi itu kenyataan, aku menemukan beberapa buku di dalam tasmu dan itu bukti.” jawabku. “Iya, tapi kau melakukan itu di depan para pembeli yang lain? Dan kau tahu, aku merasa malu dan terhina.” “Tapi kau benar mencurinya bukan?” Kulihat wanita itu nampak sedikit tersenyum sinis. “Ya, aku memang mencurinya. Tapi aku tak menyangka kau tega mempermalukan aku di depan banyak orang.” “Aku melakukannya atas perintah pemilik toko, agar jadi pelajaran bagi yang berniat mencuri.” “Aku tak peduli alasanmu. Yang pasti kau sudah mempermalukan aku. Oh iya, bagaimana rasanya di tinggal menikah? Pasti sangat memalukan bukan? Dan menyakitkan pastinya.” ucapnya dengan pandangan sinis. Mendengar semua ucapannya, aku tak bisa berkata-kata, bagaimana dia bisa tahu kalo aku ditinggal menikah? “Tapi ya setidaknya aku sangat bahagia waktu Mas Faiz berhasil membuatmu jatuh cinta. Dan lebih membahagiakan, Mas Faiz meninggalkanmu setelah membuat kau jatuh cinta padanya. Sangat menyakitkan bukan?” lanjutnya yang membuat aku semakin tak percaya mendengar semuanya. “Jadi kau wanita yang mengirim pesan waktu itu?” Wanita itu tersenyum sinis dan tertawa. “Ya, itu aku. Ternyata ingatanmu cukup baik ya. Oh ya, Apa yang kau lakukan disini?” Aku diam dan tak menjawabnya, pirkiranku begitu bingung dengan semua ini. “Owww, kau bekerja di perusahaan ini rupanya” ucapnya sambil memegang kartu pengenalku. Kakiku bergetar semuanya. Rasanya tak percaya dengan semua kejutan-kejutan ini. “Hei kenapa diam? Apa kau sudah bertemu Mas Faiz? Laki-laki yang meninggalkamu?” Dia terus menatapku dengan tatapan seperti bahagia dengan semua keadaan ini. “Hei kenapa kau diam? Kau pasti sangat membencinya bukan? Atau kau masih sangat mencintainya?” ucapnya sembari berputar-putar mengelilingi tubuhku. Aku hanya terus diam dan berpikir dengan semua ini. Sungguh aku tak mengerti dengan semua ini? “Kau tahu, aku akan memberitahukan kau suatu rahasia. Aku adalah tunangan Mas Faiz.” Bisiknya pelan di telingaku yang membuat Mataku membesar dan tubuhku bergetar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN