Jejak Masa Lalu yang Kembali

715 Kata
Malam di New York terasa sunyi, hanya suara jam dinding yang berdetak pelan di sudut ruangan. Ariana masih terjaga, duduk di sofa dengan pikiran yang terus berputar. Percakapan sebelumnya dengan Leonardo masih terngiang di benaknya—tentang masa lalu yang kelam, tentang Celeste yang kembali, dan tentang ancaman yang semakin nyata. Dia melirik ke arah Leonardo yang berdiri di dekat jendela, menatap cahaya kota yang berpendar di kejauhan. Sorot matanya tajam, seperti seseorang yang sedang berperang dengan pikirannya sendiri. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ariana, suaranya pelan tapi cukup untuk memecah kesunyian. Leonardo menoleh, menatapnya dalam sebelum akhirnya berjalan mendekat. "Aku hanya mencoba memahami semua ini. Bagaimana Celeste bisa kembali dengan begitu tiba-tiba? Apa yang sebenarnya dia inginkan?" Ariana menggigit bibirnya, mencoba menyusun kata-kata. "Mungkin dia belum selesai dengan masa lalumu. Atau mungkin... dia ingin sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengganggu hubungan kita." Leonardo duduk di sampingnya, meraih tangannya dengan lembut. "Apa pun yang terjadi, aku ingin kau tahu satu hal. Aku takkan membiarkan siapa pun menyakitimu, Ariana. Kau adalah yang paling berarti bagiku sekarang." Ariana tersenyum tipis, meski dalam hatinya masih ada kekhawatiran yang tak bisa diabaikan. "Aku percaya padamu, tapi aku juga tahu bahwa ini bukan sesuatu yang bisa kita hindari begitu saja. Kita harus mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi." Leonardo mengangguk pelan. "Aku sudah meminta seseorang menyelidiki pergerakan Celeste. Jika dia benar-benar berniat menghancurkan apa yang telah kubangun, aku harus bertindak sebelum semuanya terlambat." Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Ariana menoleh dengan alis berkerut. Sudah larut malam, siapa yang datang pada jam seperti ini? Leonardo bangkit dengan cepat, berjalan menuju pintu dengan langkah waspada. Dia membuka pintu sedikit, cukup untuk melihat siapa yang berdiri di luar. "Aku tidak punya banyak waktu," kata pria yang berdiri di ambang pintu dengan suara rendah dan mendesak. "Kita harus bicara sekarang, sebelum semuanya semakin rumit." Ariana bangkit dan melangkah mendekat, mencoba melihat siapa pria itu. Sosoknya tampak familier—laki-laki berjas hitam dengan mata tajam dan sikap penuh kewaspadaan. "Mateo?" Ariana menyipitkan mata, mengenali pria itu sebagai salah satu mantan pengawal pribadi Leonardo yang sudah lama menghilang. Leonardo membuka pintu lebih lebar. "Masuklah." Mateo melangkah masuk, lalu menutup pintu dengan cepat di belakangnya. Ia mengusap wajahnya sejenak sebelum menatap langsung ke arah Leonardo. "Aku baru saja mendapat informasi. Celeste tidak hanya kembali untuk mengganggumu—dia punya rencana yang jauh lebih besar dari yang kita duga." Ariana merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. "Apa maksudmu?" Mateo menghela napas. "Dia sedang menghubungi beberapa investor besar yang dulu pernah bekerja sama dengan keluargamu. Dia berusaha menguasai kembali bisnis yang dulu seharusnya menjadi miliknya." Leonardo mengepalkan tangannya. "Celeste selalu punya ambisi. Tapi aku tak menyangka dia akan sejauh ini." Mateo melanjutkan, "Bukan hanya itu. Ada rumor bahwa dia juga berusaha mengorek informasi tentang peristiwa yang terjadi di Paris beberapa tahun lalu—tentang kecelakaan yang menewaskan orang tuamu." Ariana menahan napas. Ia melirik Leonardo, melihat ekspresi wajahnya berubah menjadi lebih keras. Luka lama itu kembali terbuka, dan ia bisa melihat betapa dalamnya luka itu. Leonardo akhirnya berbicara dengan suara pelan tapi penuh emosi. "Apa dia mencoba menyalahkanku atas kejadian itu?" Mateo menggeleng. "Aku belum tahu pasti. Tapi seseorang di dalam lingkarannya menyebutkan bahwa dia mencari bukti—bukti yang bisa mengubah segalanya." Ariana merasa kepalanya berputar. Semua ini semakin rumit. Jika Celeste berhasil menemukan sesuatu tentang masa lalu Leonardo, maka bukan hanya bisnisnya yang dalam bahaya, tetapi juga hidupnya. "Kita harus mencari tahu lebih cepat," kata Ariana akhirnya. "Jika Celeste benar-benar berniat menghancurkan Leonardo, maka kita harus selangkah lebih maju darinya." Leonardo menatapnya sejenak, lalu mengangguk. "Aku akan menghubungi beberapa orang yang bisa dipercaya. Kita tidak bisa membiarkan Celeste mengendalikan permainan ini." Mateo menambahkan, "Aku juga akan mencari tahu lebih banyak. Tapi kalian harus berhati-hati. Celeste bukan orang yang mudah dihadapi." Ariana merasa napasnya berat. Malam ini seharusnya menjadi malam yang tenang, tapi kini mereka terjebak dalam permainan yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan. Leonardo meraih tangannya sekali lagi, menggenggamnya erat. "Kita akan melalui ini bersama," bisiknya. Ariana mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan. Ia hanya bisa berharap bahwa apa pun yang menanti mereka di depan, mereka akan cukup kuat untuk menghadapinya. Dan di luar sana, di tengah kegelapan malam, badai sedang berkumpul—badai yang siap menghancurkan segala yang mereka perjuangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN