Lea merasa dirinya terintimidasi, ia tidak suka itu. Apalagi dengan aura Nick yang terasa mencekam di sekitarnya.
"Maaf, Sir. Bisakah kau sedikit menjauh?" Lea mencoba melepaskan tangannya yang sedari tadi diremas oleh Nick. Tapi pria itu tidak mendengarkan, Ia semakin memajukan tubuhnya. Tangannya semakin kuat memilin jari jemari gadisnya.
Apakah pria ini tidak bisa sedikit saja tahu bagaimana kondisi Lea saat ini. Lea bahkan bisa mendengar sendiri degub jantungnya. Ah, sekarang Lea tahu sikap asli rektornya dibalik wajah yang selalu memancarkan aura permusuhan kepada semua orang. Bukan hanya arogan yang disematkan untuk pria di hadapannya ini, tapi juga pemaksa dan otoriter.
Dengan sedikit kekuatan yang ia punya akhirnya Lea berdiri dari kursinya meskipun kedua kakinya masih terjepit oleh kedua lutut Nick. Melihat kelakuan gadisnya, Nick hanya bisa menatap ke arah depan tepatnya perut gadis itu dengan jarak yang cukup dekat.
Nick sebenarnya sedang mengontrol amarahnya. Ia tak percaya bahwa Lea berani bertindak sedemikian nekatnya untuk mencoba menjauh dari jangkauan Nick.
Tapi setelah melihat sesuatu di depan matanya amarahnya sedikit demi sedikit menguap. Ia melihat pinggang ramping namun padat itu. Oh jangan lupakan perut Lea yang tertutup blues abu-abu ketat. Perutnya yang kembang kempis mengikuti alur nafas Lea yang memburu.
Apakah perutnya rata atau sedikit berlemak? Berbagai macam pikiran masuk di otak Nick.
Ia tidak suka wanita yang terlalu kurus. Menurutnya itu bagaikan tulang berlapis kulit. Ia lebih suka wanita yang berisi karena jika dipeluk akan terasa nikmat. Dan bentuk tubuh Lea adalah satu-satunya bentuk tubuh yang sangat pas untuknya, bila didekap.
Ah memikirkan bentuk tubuh Lea saja membuat yang di bawah sana berdenyut.
Lea yang mengamati perubahan wajah Nick segera mengeratkan mantelnya menutupi seluruh tubuhnya. Ia tidak mau Nick melihatnya seolah-olah ia daging mentah untuk para binatang.
"Bisakah kau bersikap sopan, Nona?" Nick menatap tajam mata Lea. Amarahnya kembali melingkupi. Lea yang mendengar ucapan Nick hanya bisa mengernyit heran. Bukankah harusnya ia yang marah bukan malah sebaliknya. Ia merasa aneh dengan rektornya ini.
"Di sini aku rektormu. Kau tidak sepantasnya bersikap seperti tadi di hadapanku.”
"Aku bersikap bagaimana, Sir. Bukankah kau yang bersikap tak senonoh terhadapku?" Lea menantang Nick. Tidak menghiraukan tatapan mematikan itu. Ia merasa tak salah, jadi mengapa ia harus takut.
"Bisakah kau kecilkan suaramu, Lea?" Nick sudah kehilangan kesabarannya. Ia lebih tidak menyangka Lea nya berani menaikkan volume suara di hadapannya. Nick juga sekarang memanggilnya dengan sebutan Lea bukan lagi Nona.
Lea yang terkejut dengan geraman amarah Nick hanya bisa meringis. Ia juga tak tahu mengapa bisa seperti ini. Efek dari rektornya ini terlalu buruk untuk kesehatan tubuhnya.
“Ma—maaf aku tidak bermaksud. Tapi kau yang memulai.” Lea semakin mengetatkan mantel pada tubuhnya.
Nick yang mendengar permintaan maaf Lea hanya bisa mendengus kesal. Ia menormalkan iris matanya yang memerah tanpa diketahui Lea.
"Duduklah, Sayang!” ucapnya lembut tapi memerintah.
"Bisakah kau sedikit menjauh dariku?" pinta Lea melihat Nick yang semakin memajukan kursinya ke hadapannya.
"Aku bilang duduk tanpa ada bantahan ataupun tawaran dari bibir mungilmu itu.” Nick menarik kedua pergelangan tangan Lea agar gadis itu segera duduk di kursinya.
Mau tak mau Lea menuruti perintah Nick. Ia tidak mau Nick kembali mengeluarkan tanduknya karena sikap keras kepalanya.
Lea merasa posisi sekarang jauh lebih intim dari sebelumnya. Jarak mereka yang terlalu dekat belum lagi kedua tangan Nick terletak di pinggiran kursi seakan mengunci tubuh Lea.
Lea merasa seluruh tubuhnya panas, bukan panas pada normalnya. Panas yang seakan-akan keluar dari tubuhnya. Ia juga seperti merasakan kedua pahanya bersentuhan langsung dengan panas paha Nick walaupun keduanya menggunakan celana masing-masing. Nick semakin menjepit kedua paha Lea saat Lea memundurkan telapak kakinya.
"Kau berdenyut?" Pernyataan Nick seakan menohok relung jiwanya. Oh kalimat itu seperti bukan pertanyaan melainkan kenyataan. Iya, Lea merasakan denyutan itu walaupun pelan, merasakan di bawah sana akibat perbuatan Nick. Tapi bagaimana Nick tahu? Lea memerah di buatnya.
"Jantungmu. Jantungmu berdenyut." Bodoh. Lea merutuki perkataan Nick, jelas saja jantungnya berdenyut ia manusia. Lea pikir Nick mengetahui denyutan lain. Ah, pikiran Lea terkontaminasi karena Nick.
"Apakah kau berpikir kalau ada denyutan yang lain?" Nick menyeringai melihat muka Lea yang memerah. Ini hiburan untuknya.
"Y—ya aku manusia dan masih hidup maka dari itu jantungku berdenyut," bantah Lea tak terima mendengar perkataan Nick.
"Apakah kau menangis beberapa hari ini?" ucap Nick lirih mengelus kelopak mata Lea dengan lembut. Ia tahu perasaan Lea lewat matanya yang sayu dan tidak fokus pada objek, juga lingkaran hitam yang dicoba ditutupi oleh make-up.
Lea yang mendapat elusan lembut hanya bisa memejamkan matanya dan menikmati.
"Kau tahu, aku juga menderita sepertimu, bahkan lebih." Nick menangkup wajah Lea dengan kedua tangan besarnya. Meneliti setiap ekspresi yang ada di wajah gadisnya, mencoba membaca apa yang dirasakan saat ini.
Lea membuka kedua matanya saat Nick merangkum wajahnya, ia juga terkejut dengan perkataan Nick. Apa maksud pria ini? Apakah mereka berdua sama-sama menderita. Tapi ia tidak tahu karena apa. Yang jelas saat Nick memberikan bunga itu seperti ada lubang menganga yang besar di dalam hatinya, hampa. Tanpa perkataan, pria itu telah mencubit relung jiwanya.
Jika mengingat itu, rasanya Lea ingin menangis sekarang. Padahal ia gadis yang tegar tapi mengapa jika berhadapan dengan pria ini Lea bahkan tak bisa berkutik.
"Ssstt ... jangan kau ingat lagi," perintah Nick menatap tajam mata Lea. Ia tak suka melihat wanita menangis. Tapi berbeda dengan gadis di hadapannya ini. Ia rela menjadi pelampiasan kemarahan Lea tapi tidak untuk menangis, karena yang Nick tahu Lea menangis karena dirinya. Dan ia merasa marah pada dirinya sendiri. Lea mencoba sekuat tenaga menahan aliran yang akan jatuh di pipinya.
"Jika kau tidak bisa menahan air mata sialan itu, kupastikan kau akan mengulang pelajaran Mr. Mark semester depan!" ancam Nick disertai kekahan. Ia tahu watak pamannya saat mengajar di kelas, tidak ada toleransi dan semua harus mengikuti apa keinginannya. Meskipun begitu ia salah satu dosen yang sangat dikagumi semua mahasiswa karena kepribadian yang baik dan keteladanannya.
"Jahat sekali." Lea menunduk sambil menahan senyumannya.
"Maaf." Nick kembali memegang tangan Lea. Matanya menyorot kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun semenjak kejadian itu, kejadian beberapa tahun silam.
Nick tidak pernah bersikap lembut kepada wanita di luar sana termasuk kepada Noella, kekasihnya saat ini. Hanya ada ibunya oh mungkin akan bertambah satu yaitu Lea.
Lea tertegun atas perkataan Nick, ia tidak menyangka pria macam ini berani meminta maaf. Setahu dan pengamatan Lea pria karakter seperti Nick gengsi sekedar mengucapkan terima kasih terlebih maaf. Pria yang mampu menguasai dunia.
"Hanya untuk bunga itu."
Apa yang Lea pikirkan terjadi. Pria ini bisa-bisanya membuat pikiran dan perasaan Lea tak seimbang. Selalu memikirkan lebih dari dua kali atas perkataan Nick, takut-takut jika salah sangka. Lea sebenarnya pusing memikirkan Nick yang mengucapkan satu kata tapi di dalamnya mengandung banyak makna.
"Kurasa kau akan memaafkanku." Nick melepaskan tangan Lea dan segera bangkit dari kursinya.
"Ayo kita kembali kau masih ada kelas, bukan?" Nick menjulurkan tangannya membantu Lea bangkit. Tapi gadis itu tidak merespons. Ia masih terlalu bingung atas sikap Nick yang tiba-tiba.
Nick berdecap kesal saat uluran tangannya tidak dibalas. Dengan cepat ia menarik tangan Lea dengan paksa agar gadis itu tersadar dari lamunannya.
“Tap—tapi bukumu?"
"Tidak masalah. Aku akan mencarinya sendiri dan kembalilah ke kelasmu. Aku tidak tahan jika berada di dekatmu." Nick mengucapkan pelan di akhir kalimat, tapi masih bisa didengar samar oleh Lea.
"Ada apa, Sir?" Lea meyakinkan.
"Cepatlah kau kembali, Gadis Kecil!" Nick mempertajam perkataannya.
"Aku pergi, Sir." Lea mengeratkan mantelnya sambil mendengus kesal. Ia bukan gadis kecil lagi. Umurnya sudah sembilan belas tahun. Ingat itu. Ia pun pergi meninggalkan Nick yang masih memandangnya tajam.
Nick yang menatap tubuh Lea makin lama makin menjauh dan menghilang dibalik tikungan rak-rak besar hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Setidaknya aku sudah mencoba, Greyn," ucap Nick lirih, sendiri.