PRIA ANEH

1979 Kata
“Kau yakin baik-baik saja?” tanya seorang wanita yang tengah duduk jongkok dihadapan anak laki-laki dengan tubuh penuh luka lebam. “Hm.” angguk batita itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Baiklah.” Wanita itu memilih untuk percaya agar si korban merasa lebih tenang. Lalu bangkit mendekati Inspektur Felix yang tampak sedang menerima telepon di jarak 5 meter di belakang. “Aku akan segera kesana,” ucap Inspektur Felix sebelum menutup telepon. “Ada apa?” Menyadari rekan polisi wanitanya berada tepat di belakang, Inspektur Felix segera berbalik setelah menoleh sejenak ke arah batita untuk sekedar memastikan. “Ada kasus bunuh diri disalah satu Universitas.” “Benarkah? Kalau begitu ayo cepat pergi.” Baru saja hendak melangkah, pribadi tampan kelewat datar itu segera menahannya. “Hanna. Tidak perlu.” “Apa maksud mu tidak perlu?” tanya bingung wanita tinggi dengan body semampai itu. Dengan posisinya sebagai seorang detektif, tentu ia merasa memiliki hak untuk melihat peristiwa secara langsung. “Kau harus mengurus dia dulu,” ucap Inspektur Felix sembari mengarahkan pandangannya menuju batita yang sudah tampak tak kuat untuk terjaga, kedua kaki mungil dan kedua tangan itu tampak bergetar. Kasus penculikan oleh ayah tiri yang begitu kejam, disiksa dan hampir kehilangan organ tubuh untuk dijual. Tentu itu menyisakan trauma yang cukup mendalam bagi anak seusianya. “Hah kau benar.” Hanna menghela nafas dalam, hampir lupa bahwa satu nyawa sangat membutuhkannya kini. Terlebih lagi bahwa dirinya seorang wanita, dalam hal ini harus menggantikan posisi sang ibu yang sudah tiada untuk mereda ketakutan sang batita. “Jangan khawatir. Aku akan mengurus kasus ini.” “Hm. Aku tau kau bisa menanganinya dengan baik. Aku akan menyusul jika sudah menyelesaikan ini.” “Ikut denganku,” ucap Inspektur Felix yang menoleh ke arah pak Thery. Lalu dengan cepat Inspektur Felix berlenggak pergi dari tempat. Sedangkan pak Thery hanya manut akan perintah atasan. “Felix.” Sebelum benar-benar pergi, Hanna kembali memanggil Inspektur Felix, membuat pribadi tampan itu berbalik seketika tanpa menimpali panggilan. “Hati-hati di jalan” ucapnya sembari melampirkan senyum terlewat manis dan hanya mendapat anggukan kecil dari pria dingin itu. Dua puluh menit berlalu untuk sampai di Bright of University. Setelah turun dari mobil, 3 anggota kepolisian yang turut bersama Inspektur Felix bergegas menuju keramaian. Hingga dimana sudut mata pribadi penuh karisma itu menangkap hal yang tidak biasa di belakang kerumunan. Segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah wanita yang berdiri dengan tubuh gemetar dan mencoba melangkah mundur dengan tatapan terkejut. Awalnya merasa bingung karena gelagap yang dilihatnya dari gadis tersebut, namun akhirnya sadar ketika mengikuti arah pandangnya. Sedangkan para anggota kepolisian turut menghentikan langkah usai tersadar bahwa Inspektur Felix hanya berdiam diri di tempat. “Inspektur ada apa?” tanya pak Thery. “Kalian duluan. Aku akan menyusul,” perintah sang Inspektur tanpa menoleh sedikit pun. “Tapi…” belum usai anggota tersebut menyelesaikan perkataannya, pak Thery segera merangkulnya dengan penuh semangat hingga membuat rekannya kehilangan keseimbangan. “Ayo pergi. Inspektur menyuruh kita pergi lebih dulu. Tentu kau tidak memiliki keberanian untuk melanggar perintahnya bukan? Ayo ayo cepat jalan!” Ajak pak Thery memimpin dan segera meninggalkan Inspektur Felix sendirian di tempat. Setelah memastikan semua anggota pergi, ia segera melangkah mendekat menuju gadis tersebut. Lalu tanpa aba menyentuh kedua pundak gadis itu untuk menghentikannya terus melangkah mundur, melepaskan sebuah topi hitam yang bertengger nyaman di lingkaran kepalanya dan segera memasangnya pada kepala gadis itu. “Jangan melihatnya jika tak kuat,” ucapnya dengan tatapan dan ekspresi yang begitu datar. “Kau? Bagaimana bisa…? “Tidak perlu tahu,” potongnya dan segera melepaskan genggaman pada pundak gadis cantik itu. Melempar pandang ke segala arah, hingga menemukan seorang mahasiswa yang sedang berjalan mendekat, tampak begitu asik mengayunkan kedua tangan di udara, menikmati alunan musik dari airpods seakan-akan sedang memainkan sebuah drum dengan mimik wajah mendalami peran. “Hey pria airpods!” panggil Inspektur Felix. Begitu mendengar seseorang menyebutkan airpods, langkah pria tersebut seketika berhenti. Menoleh ke segala arah mencari sumber suara, hingga dimana menemukan dua orang yang sedang menatap ke arahnya. “Kau memanggilku?” tanya pria tersebut dengan menunjuk dirinya. “Kemari!” ucap Inspektur Felix. “Hahh kurasa aku sedang tak membuat masalah. Kenapa hidupku penuh akan pria tegas sepertinya?” gumam pria itu sebelum mendekat. “Ada apa?” tanyanya kembali. “Bawa dia ke UKK.” “UKK?” “Unit Kesehatan Kampus.” “Aku tahu. Tapi maksud ku, untuk apa aku membawanya ke UKK? Aku tak mengenalnya. Bahkan sekarang wajahnya pun tertutupi tudung topi. Kurasa wajahnya seperti kodok atau semacamnya. Aku tidak mau. Cari saja yang lain. Aku sibuk,” tolak pria itu cepat. Mendengar ucapan dari pria tersebut, Inspektur bisa mengetahui bahwa dia adalah seseorang yang sangat menyukai gadis cantik. Lalu kedua tangannya bergerak menyentuh dagu milik Alies dan mengangkatnya perlahan, tentu dengan niat memamerkan wajah cantik Alies agar pria itu mau membawanya ke UKK. Setelah melihat wajah rupawan Alies, pria itu menarik sebelah sudut bibirnya, lalu beralih menoleh ke arah Inspektur Felix. “Okey. Aku akan membawanya. Don’t worry. Dia akan sampai dengan selamat sampai tujuan. Tapi tidak tahu setelah sampai.” “Terserah.” *** Hari sudah menunjukkan pukul 23.00. Pun kegelapan kini sudah sepenuhnya menutupi lapisan bumi, menguasai malam bersama angin dingin yang menyeruak ke seluruh tubuh gadis berseragam sekolah menengah pertama. Berjalan melewati lorong demi lorong tatkala tak ada seorang pun yang berlalu lintas disekitarnya. Tidak perduli, ia hanya terus melangkah dengan menggenggam erat tali ransel miliknya, bukan karena takut, karena memang udara dingin terlalu menusuk tubuh mungilnya, tak ada tambahan pakaian penghangat, hanya diselubungi kain tipis seragam sekolah. Ketika dirinya fokus pada langkahan kakinya, tiba-tiba rungu nya menangkap sebuah obrolan ringan dari sudut lorong yang hendak ia lewati. Awalnya ia ingin pergi begitu saja, karena memang itu bukan urusannya sama sekali, ditambah hari sudah terlalu malam untuk siswa menengah pertama sepertinya, namun percakapan yang melintas terdengar begitu serius. Apa mereka membicarakan warisan di sudut lorong gelap seperti ini? Perlahan kakinya melangkah mendekat, merembet pada sisi tembok, sedikit mencondongkan wajahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana. Kedua iris cantik itu pun menangkap dua wanita muda yang membelakangi arah pandangnya dan satu wanita paruh baya dengan air muka yang begitu murka. “Sampai bangkai tubuhku menjadi abu pun, aku tak akan membiarkan putra ku bersanding dengan gadis iblis sepertimu,” tentang wanita paruh baya dengan begitu percaya diri. “Ibu. Aku salah apa padamu? Mengapa kau begitu kekeh menolak ku berada di sisi putra mu?” “BERHENTI MEMANGGIL KU IBU,” teriak wanita paruh baya itu begitu emosi. “Aku bukan ibu mu sialan” “Aku kekasih putramu. Tentu aku harus memanggilmu ibu,” jelas wanita muda itu dengan lembut. “Ku mohon. Terimalah aku sebagai anggota baru dalam keluarga kecil ibu.” Kini ia berlutut dihadapan paruh baya itu, memohon dengan penuh rintih dengan menyatukan kedua tangan di depan wajahnya. Hingga tiba-tiba rentetan hujan turun begitu deras. Gadis kecil itu segera menarik tubuhnya dari lorong, segera melepaskan tali ransel dari punggung dan dengan cepat mengambil rain cover tas yang berada pada sisi kantung ransel. Memasangnya dengan seksama hingga sepenuhnya tertutupi dan memakainya kembali. “Hahh kenapa tiba-tiba turun hujan? ” gumamnya sembari mengenakan kembali ransel tersebut. Ketika hendak kembali mengintip, betapa terkejutnya ketika kedua matanya menangkap pemandangan yang berada di hadapannya kini. Wanita paruh baya itu terbaring dengan tubuh bersimbah darah. Mengalir mengikuti arus aliran air hujan di permukaan jalan lorong. Menganga dengan mata bergetar, wanita paruh baya yang beberapa detik lalu masih bercakap, kini sudah terbaring lemah dengan keadaan yang begitu mengenaskan, bahkan tubuhnya masih bergetar hebat dikala mencoba meraup kesadaran. Mata gadis itu terus mengikuti aliran hujan yang membawa cairan merah itu menuju telapak sepatu putih yang dikenakannya. Serta merta menciptakan getaran tak karuan dari tubuhnya, tak ada satu katapun dapat ia lahirkan, hanya sebuah tatapan gusar terlewat panik. “AKHHHH,” teriak Alies usai tersadar dari tidurnya. Spontan membelalak dengan nafas yang masih berlomba. Keringat dingin pun mulai membasahi pelipis dan leher cantiknya. Dan yang lebih membingungkan adalah ketika dirinya mendapati seorang pria asing berusaha membuka satu persatu tautan kancing di bajunya. Keduanya bertatap dalam bungkam, terdiam pada pemikiran masing-masing dengan posisi yang ambigu. Hingga beberapa detik berlalu, membuat Alies tersadar dan dengan cepat menepis tangan pria itu dari crop sweater miliknya. Lalu perlahan duduk dari ranjang pembaringan. “Apa yang kau lakukan?” tanya Alies dengan air muka penuh tanda tanya, membiarkan satu kancing baju yang sudah berhasil terbuka begitu saja. Namun, alih-alih menjawab, pria itu berbalik dan meraih satu gelas air putih di atas nakas sisi ranjang. “Minum dulu,” tawar pria itu dengan menyodorkan satu gelas air yang baru saja diambilnya. Begitu pun Alies, tanpa berpikir negatif sedikitpun, tangannya dengan cepat mengambil air tersebut dan meneguknya beberapa kali. “Kau bisa menjawab pertanyaan ku selagi aku minum bukan?” “Ku kira kau tak perlu jawaban lagi,” ucap pria itu sembari meraih gelas di tangan Alies dan kembali meletakkannya ditempat semula. “Kau terlalu banyak menggonggong.” “Hahaha,” gelak tawa terdengar begitu menggelikan dari pria itu. “Woahh aku tak menyangka menemukan gadis kasar sepertimu di tempat suci seperti ini. Hmm no problem. I like your style” ucap pria itu begitu santai, bersandar pada dinding sisi jendela seakan mulai menemukan kenyamanan lain ditumpukan buku jejeran makhluk kampus. Menelusupkan kedua tangan pada saku celana dengan senyum merekah bak bunga bangkai-seperti itulah pandangan Alies yang mendapati senyum pria itu, tak perduli sebagaimana pun tampannya. Tanpa menimpali omong kosong pribadi aneh di sampingnya, Alies terus menunjukkan air muka tak peduli. Persoalan lain bisa saja ia kesampingkan, namun terkait dengan kehormatan, tak ada yang bisa mengganggu gugat prinsip keep virgin untuk orang pilihan kelak. Menyadari ekstensi di depannya mulai kesal, akhirnya pria itu membuka suara tentang kesalahpahaman yang dilihat gadis di depannya. Menegakkan tubuh dari sandaran dan melipat kedua tangan di depan abdomen. “Aku melihatmu berkeringat cukup banyak. Jadi aku pikir kau sedang kepanasan, maka dari itu aku membukanya. Salah ku dimana?” “Setidaknya kau tidak membukanya di suasana seperti ini.” “Ahh.” Senyum pria itu kembali merekah. “Jadi apa kita harus pindah tempat untuk melakukannya?” Gila. Benar-benar gila. Tatapan pria itu membuat sekujur tubuh Alies merinding tak karuan. Dia terlihat seperti pemain handal yang gila. Apa otaknya tidak beres? Mengapa dia menjalari pupilnya menuju kancing baju yang masih terlepas? Dengan cepat Alies mengaitkan buah kancing yang sudah terlepas sedari tadi. “Kau gila? Dasar p*****l m***m” Alies menghela nafas kasar. Tak percaya dirinya bertemu dengan b******n sialan di kampus ini. Lalu dengan cepat ia bangkit dari ranjang, mengenakan sepatu kets putih miliknya. “Kita jadi pergi?” tanya pria itu dengan wajah tanpa dosa, membuat Alies spontan berbalik dengan wajah penuh amarah. “Di mimpimu,” tegas pribadi cantik itu lalu melangkah pergi menuju pintu keluar UKK. Sedangkan pria itu berdiri dengan langkah kecilnya sembari memandangi punggung Alies yang perlahan menjauh. “Nama ku Jio. Kamu?” tanya Jio dengan sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Alies. Namun, seperti yang bisa ditebak, gadis sepertinya tak akan menjawab dengan begitu mudah. “Hei. Kau percaya pada takdir? Aku memiliki sebuah ramalan bahwa kita akan dipertemukan dalam waktu dekat” Persetan dengan takdir, jika dipertemukan kembali, demi apapun Alies akan membawa sekantung bubuk cabai untuk ditaburi pada bola mata m***m pria itu. Kemudian tanpa adanya bersitan niat untuk sekedar berbalik, Alies malah meninggikan satu tangannya dan memamerkan jari tengah di atas kepala sebelum hilang dibalik pintu. Pria gila sepertinya pantas mendapatkan itu bukan? Sedangkan Jio, alih-alih menyerah karena tak mendapatkan sinyal positif dari gadis itu, entah bagaimana dirinya semakin dibuat tertantang. Menarik senyum simpul penuh pemikiran akan misi yang akan dilakukan untuk menaklukan target selanjutnya. Terkekeh sembari satu tangan menggosok pangkal hidung dengan jemari gagah dan sisi tangan lainnya berkacak pinggang penuh semangat. “Gadis yang menarik.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN