Zinia POV
Kok pintu rumah ke kunci? Apa mama papa lagi pergi? Terus bibi ke mana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otakku. Sampai bu Fitri tetangga sebelah datang menghampiriku.
"Nia, ini ada titipan dari mama kamu" kata bu Fitri. Dia memberiku koper dan surat dari mama.
"Makasih ya bu" bu Fitri mengangguk dan kembali ke rumahnya. Aku membuka surat itu dan membacanya dengan seksama.
Nia, maafin mama sama papa pergi ke luar negri ngga ngabarin kamu dulu. Mama sama papa dapat kabar dari kantor tadi pagi kalo ada sedikit masalah dengan perusahaan kita yang di Singapura. Makanya mama sama papa pergi ke sana ngga sempat ngabarin kamu. Bibi lagi cuti karena ibunya lagi sakit di kampung.
Kunci rumah ada sama mama. Jadi kamu tinggal di apartement dulu sampai mama sama papa pulang ke Indonesia. Alamat apartementnya ada di dalam amplop. Mama udah siapin semua keperluan kamu di dalam koper. Hati-hati di sana, yang sopan ya. Soalnya kamu bakal tinggal dengan seseorang.
-mama&papa
Aku melipat surat itu dan ku masukkan ke saku jeans ku. Aku mengambil potongan kertas yang berisi alamat apartement yang akan ku tinggali selama mama dan papa di luar negri. Loh, bukannya ini apartement di dekat cafe ya? Bukannya mama atau papa ngga pernah ngebeli apartement di kawasan ini? Apa aku bakal numpang di apartement orang?
Dengan terpaksa aku keluar dari rumah. Lebih tepatnya perkarangan rumahku. Aku mengunci pagar dan berjalan gontai sambil menyeret koper ke depan komplek. Aku celingak-celinguk buat nyari taksi, tapi tak ada satupun yang terlihat melintas di depan komplek. Ke mana semua taksi yang ada di Ibukota? Apa mereka sedang libur nasional?
Sebuah mobil Range Rover putih berhenti di depanku. Kacanya terbuka dan menampakkan seorang pria dengan kacamata hitam dan kemeja kotak-kotak yang ngga asing lagi untukku. Tapi siapa ya?
"Zinia? Kamu Zinia, kan?" teriak pria itu dan membuka kacamata hitamnya.
"Tigo!" teriakku senang.
Bagaimana tidak senang? Dia adalah sepupu kesayanganku. Karena aku anak tunggal dan dia pun sama, makanya kami sangat dekat. Sudah 6 tahun kami tak pernah bertemu maupun berkomunikasi semenjak dia pergi study ke luar negeri.
"Ayo masuk. Ngga panas apa diluar? Ntar hitam loh" dia terkekeh. Aku mendekat dan masuk ke mobil mewahnya ini.
"Tadi baru aja mau ke rumah kamu. Eh, tapi udah ketemu kamu di depan komplek sambil bawa koper. Ada apa sih sampai celingak-celinguk kayak orang bingung gitu? Cerita dong!" tanyanya sambil menyetir.
"Mama sama papa pergi ke Singapura. Terus kunci rumah kebawa sama mereka. Nah, mereka nyuruh aku buat tinggal di apartement. Jadi aku jalan keluar komplek buat nyari taksi tapi ngga ketemu" ceritaku.
"Emangnya apartemennya di mana? Biar aku anterin" tawarnya. Aku menyerahkan potongan kertas itu ke Tigo.
"Bukannya kamu ngga pernah beli apartement di situ ya?" aku mengangguk membenarkan pertanyaan Tigo.
"Aku tinggal dengan teman" jawabku. Teman apanya? Tau tinggal dengan siapa saja ngga.
"Kenapa ngga tinggal dengan aku aja?" tanya nya.
"Ngga usah. Lagi pula mama kok yang nyuruh tinggal di sana" dia hanya mengangguk pasrah.
Setelah percakapan singkat itu kamipun sampai di apartement. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran yang tersedia di depan gedung apartement ini. Aku turun dari mobilnya dan dia juga ikut turun. Dia mengeluarkan koperku dan membawanya.
"Biar aku antar"
"Eh, ngga usah. Kamu sebaiknya pulang aja. Makasih udah ngantarin aku" sanggahku dan mengambil koperku yang ada di tangannya. Namun dengan cepat dia mengangkat koper itu.
"Ayolah, Nia.. Biar aku antar" mohonnya.
"Baiklah, terserah kau saja" dia tersenyum sambil menyeret koperku.
Aku mengikutinya dari belakang. Kami memasuki lift dan memencet tombol yang tersedia di sana. Sekarang kami sudah sampai di lantai 7. Kami berjalan sambil melihat nomor-nomor yang tertempel disetiap pintu apartement. '913' baiklah sepertinya ini apartementnya.
Ting!ting! Cklek!
Pintu itu terbuka dan menampakkan seorang pria shirtless dengan rambut yang berantakan. Aku kaget! Apa mama ingin aku tinggal bersama dengan pria ini?! Apa kata tetanggaku kalau sampai tau kalau aku tinggal satu atap dengan pria yang bukan siapa-siapaku? Tiba-tiba aku merasakan mataku di tutup dari belakang.
"Hei! Pakai bajumu!" pekik Tigo kepada Abra. Aku menarik tangannya dan mengerjapkan mataku.
"Heh? Kau siapa?! Jauhkan tangan kotormu itu dari wajahnya!" balas Abra dengan suara yang tinggi dan menarik tanganku mendekat ke arahnya.
Tigo terlihat kaget dan kembali menarik tanganku yang lainnya, namun dengan cepat Abra juga menarik tanganku. Terjadilah acara tarik menarik antara mereka.
"Lepaskan tanganmu!" teriak Tigo.
"Apa hakmu? Heh! Dia itu akan tinggal bersamaku sampai orang tuanya pulang" jawab Abra santai tetap memegang tanganku.
"Tidak akan ku biarkan Nia tinggal bersama pria aneh dan m***m sepertimu!" bentak Tigo. Mereka yang terlihat geram malah mencengkram kedua tanganku dengan kuat. Bahkan sangat kuat.
"Lepaskan aku!" teriakku. Mereka yang sudah sadar dengan perbuatan mereka langsung melepaskan cengkramannya.
"Maaf" ucap mereka kompak.
"Sebaiknya kau tinggal bersamaku, ayo" ajak Tigo dan menggandeng tanganku.
Aku menatap Abra yang sedang menatapku tajam. Aku menarik tanganku dari genggamannya dan mengambil koper yang ada ditangannya. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan yang bingung.
"Pulanglah" suruhku.
"Tidak. Tidak akan ku biarkan kau tinggal dengan pria m***m sepertinya" jawab Tigo bersikukuh.
"Kau sudah di suruh pulang. Kenapa masih di sini?" celetuk Abra yang tiba-tiba ada dibelakangku.
"Aku tidak bicara denganmu! Memangnya kau siapa?"
"Aku Abra, calon suaminya. Kau siapa?!" Tigo tampak terkejut mendengar penuturan Abra.
"Dia sepupuku, namanya Tigo" jawabku menengahi. Abra juga tampak sangat terkejut saat aku memberitahunya kalau Tigo adalah sepupuku.
"Jadi kau.." ucap mereka serentak lalu saling tertawa. Mereka berjabat tangan dan saling berpelukan. Apa pria memang bisa berdamai dengan cepat?
"Ya sudah, kalau begitu aku titip Nia. Aku pulang dulu" pamit Tigo. Dia tersenyum lalu berjalan memasuki lift.
Aku merasakan pinggangku dipeluk dari belakang. Punggungku membentur d**a bidang Abra yang tak tertutupi oleh apapun.
"Apa kau tidak kedinginan, hm?" bisiknya.
'Gimana ngga dingin? Dia aja shirtless gitu' batinku
Dagu Abra yang berada dipundakku itu, pun membuatku merasakan dengan jelas hembusan nafasnya yang menerpa leher dan anak rambutku. Dia meraba-raba perutku dan kembali memelukku dengan erat. Dia meniup telingaku yang membuatku merasa geli.
"Abra!" pekikku. Dia terkekeh lalu mengecup leherku lumayan lama. Aku yang sedikit menggeliat membuatnya tertawa. Dia melepaskan pelukannya dan menarik tanganku masuk ke apartementnya.
Dia menutup pintu apartementnya dan mendudukkanku ke sofa. Dia duduk di sampingku dan memperhatikan wajahku sangat lama. Terkadang dia juga tersenyum sendiri. Dasar gila!
"Apa?!" tanyaku yang membuyarkan lamunan nya.
"Ngga ada apa-apa kok sayang" jawabnya.
"Jangan panggil sayang!" pekik ku tidak suka.
"Terus panggilnya apa?"
"Zinia aja"
"Sweety aja ya" bujuknya.
"Kamu kira aku pempers apa?! Zinia aja udah titik" jawabku bersikukuh.
"Honey aja, gimana?"
"Aku bukan madu!" jawabku lagi sambil memutar bola mataku.
"Baby"
"Aku bukan bayi. Zinia aja"
"Bunny"
"Ngga!"
"Queen?"
"Ngga!"
"Princess"
"Ngga, Abra! Panggil aku Zinia aja. Kok repot banget sih!"
"Baby aja ya, baby"
"Duh! Ngerti ngga sih?! Panggilnya Zi.."
Cup!
"Baby atau aku cium lagi?" ancamnya dengan smirknya yang ngebuat aku sedikit takut.
"Terserah!" jawabku ketus. Dia mencolek daguku dan menunjukkan senyum kemenangannya. Sedangkan aku hanya menunjukkan fake smile ku.
"Apa kau tidak risih melihatku seperti ini? Atau kau malah senang melihatku seperti ini, hm?" tanya nya.
"Aku udah biasa liat orang shirtless" jawabku datar. Sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku risih sih ngelihat dia kayak gitu. Tapi mau gimana lagi. Pemandangan indah udah ada di depan mata.
"Wah, ternyata kau suka melihat orang shirtless ya? Baiklah kalau begitu, selama kau tinggal di sini aku akan terus-terusan shirtless"
"Jangan! Nanti kau masuk angin" sanggahku. Sebenarnya itu cuman alasan doang biar dia ngga shirtless terus. Toh, kalau dia sakit aku juga ngga peduli.
"Ternyata kau khawatir dan perhatian padaku. Jadi tambah sayang" jawabnya lalu ingin memelukku. Dengan gerakkan cepat aku berdiri dan itu membuatnya membentur dudukan sofa. Reflek aku pun tertawa.
"Baby!"
To Be Continue.
AKWARD BANGET! SUMPAH! TYPONYA BANYAK LAGI! GAJE JUGA. TAPI AKU HARAP KALIAN NGGA BAKAL BERHENTI BUAT BACA INI CERITA.
THANKS YA BUAT YANG UDAH BACA, VOTE DAN COMMENTS.
SEKIAN DARI SAYA.
SEE YA!