Berbincang

1008 Kata
. . . Setelah membuat seluruh pegawai kantor bertanya-tanya dalam hati tentang siapa gadis yang dibawa oleh bosnya, sekarang berakhirlah mereka berdua diruangan CEO Sinar Emas Corp (SEC), ruangan Alex Dwi Rangga. "Duduklah senyamanmu." ucap Alex. Karena dipersilahkan untuk memilih sendiri, Sila memilih sofa yang tidak jauh dari meja kerja Alex. Tidak ada alasan kenapa, karena Sila hanya asal saja memilih tempat duduk, mengingat Alex berkata mampir sebentar dikantornya. Disaat mata Sila masih fokus memperhatikan ruangan Alex, Alex tiba-tiba berdiri disampingnya dan memberikan sebuah kertas dan bolpoin. "Untuk apa?" tanya Sila masih belum mengerti. "Tulislah hal-hal yang kau inginkan dan yang tidak kau inginkan setelah kita menikah. Lagi pula, tentu kita akan tinggal serumah. Mari buat kesepakatan." jelas Alex. Sila menatap kertas dan bolpoin yang berada diatas meja. Dia masih belum ingin menuliskan sesuatu sedangkan Alex sudah duduk manis dimeja kerjanya. Jujur saja Sila tidak kepikiran untuk membuat kesepakatan atau perjanjian seperti ini dan Sila kira itu hanya terjadi dicerita novel. Meskipun Sila menyetujui pernikahan ini, tapi diri pribadi Sila tidak memiliki rencana bagaimana untuk akhirnya nanti. Entah berakhir sampai maut memisahkan atau berakhir dengan perceraian, Sila hanya ingin mengikuti arus takdir yang sudah tertulis. "Maaf, apa boleh mero**ok?" tanya Sila memecah keheningan. "Kau bisa menggunakan ruangan itu." jawab Alex dengan menunjuk ruangan yang pintunya tertulis smoking area. "Terima kasih." timpal Sila dan mulai berdiri dari tempat duduknya. "Tunggu, mau minum apa??" tawar Alex. "Kopi hitam tanpa gula." setelah itu Sila berjalan menuju ruang untuk mero**k. . . Sudah hampir satu jam Sila berada dismoking area. Kopinya tersisa setengah dan sudah menghabiskan satu batang rokok. Duduk dengan tenang dan jari tangan yang mengapit rokok kedua mata Sila masih setia menatap kertas putih yang masih bersih. Hingga perhatian Sila teralihkan oleh suara pintu yang terbuka. "Bagaimana, kau sudah menulis semua keinginanmu?" tanya Alex. "Aku tidak menulis apa-apa." jawab Sila dengan menunjuk kertas dan bolpoin yang terletas diatas meja. "Bagaimana dengan Bapak? apa saya bisa melihatnya?" lanjut Sila. Sejenak Alex penasaran dengan jawaban Sila yang tidak menulis apapun, tapi Alex tidak ingin terlalu cepat bertanya. "Silahkan kau baca. Kalau ada yang tidak berkenan dihatimu, kita akan mengoreksinya bersama." jawab Alex dengan menyodorkan kertasnya. Sila membaca dengan teliti. Tidak boleh mencampuri urusan pribadinya, merahasiakan pernikahan mereka untuk saat ini, tinggal diapartemen yang sudah disediakan Alex, tidak boleh membawa atau mengundang lawan jenis bertamu tanpa seizinnya. "Dimana saya harus tanda tangan?" tanya Sila. "Tidak ada yang perlu dikoreksi?" tanya Alex. "Tidak ada." jawab Sila singkat. "Disini." jawab Alex dengan menunjuk ruang kosong kertas paling bawah. Sila mematikan rok**knya dan langsung membubuhkan tanda tangannya. . . . . Beberapa saat yang lalu. Dari meja kerjanya Alex diam-diam mencuri pandang pada Sila yang berada diruang merokok yang hanya menggunakan kaca sebagai pembatasnya. "Apa ortu gue benar-benar sudah putus asa sampai ngobralin gue keteman-temannya ? atau apa gue yang bener-bener sudah bosan dengan pertanyaan "kapan nikah?" sampai gue setuju dengan perjodohan ini?? saat ini perasaan gue campur aduk. Bingung dan tidak yakin dengan keputusan adalah perasaan yang paling mendominasi. Apa keputusan ini sudah benar-benar tepat? karena setelah ini gue gak akan bisa mundur, nama baik keluarga gue dipertaruhkan dan gue gak mau membuat malu keluarga gue terutama kedua orang tua gue. Gue maklumi kalau kedua ortu gue berfikir yang macam-macam. Karena nyatanya diusia gue yang sudah kepala tiga masih belum menikah dan tidak memiliki pasangan. Ortu gue takut kalau gue belum bisa move on dari mantan gue, dan mereka takut kalau gue diam-diam masih menunggu mantan gue yang masih melalang buana mengejar karir modelnya. Mulai berhubungan sejak awal masuk SMA dan berakhir dengan kata putus setelah berjalan hampir 8 tahun tentu itu bukan hal yang mudah bila harus melupakan. Sejenak gue melihat Sila yang masih setia dengan rokoknya. Seorang perempuan yang dipilih oleh kedua orang tuanya. Tidak ada yang salah dengan dia. Dari sekali lihat saja sudah jelas dia cantik dengan rambut panjangnya, tubuhnya tinggi semampai dan selama gue jadi dosen dikampusnya, tidak ada gosip buruk tentang dia. Dan gue juga baru tahu kalau dia seorang model. Kenapa model lagi model lagi. Jujur saja gue masih trauma bila menyangkut pekerjaan itu. Karena mantan gue lebih memilih mengejar karir modelnya, hubungan gue jadi kandas. Sehari ini bersama dengannya, dia termasuk gadis yang ramah dan mudah bergaul. Bibit, bebet dan bobot sudah sangat jelas. Hanya saja gue belum terbiasa dengan kebiasaan merokoknya. Jujur saja gue cukup terkejut saat dia meminta izin untuk merokok, dia tidak terlihat seperti gadis penikmat nikotin, bahkan bibirnya terlihat sexy dan menggoda, apalagi saat dia tersenyum. Namun, diantara hal itu semua yang paling mengganggu adalah Sila sudah memiliki kekasih, satu kampus, satu jurusan tapi, berbeda kelas. Dan gue cukup sering melihat mereka. Bahkan kekasihnya salah satu mahasiswa yang gue ajar. Pikiran gue melalang kemana-mana, bagaimana nasib pernikahan gue kedepannya kalau pasangan gue sudah memiliki kekasih." monolog Alex. . . . . "Kerjaan Bapak sudah selesai?" tanya Sila dengan menikmati rokok yang terselip disela jarinya. Setelah mereka menandatangani kesepakatannya, sejenak mereka duduk menikmati senja diruangan kerja Alex. "Belum, tapi cukup untuk hari ini." jawab Alex, nyatanya sedari tadi Alex hanya sibuk memperhatikan Sila dari balik meja kerjanya. "Kalau Bapak tidak keberatan, nanti saya akan mengundang beberapa sahabat saya. Tenang saja, saya jamin mulut mereka tidak akan ember." ucap Sila. "Terserah kamu." jawab Alex singkat. "Setelah ini kita makan malam dulu baru saya antar kamu pulang." . . . . Didalam kamarnya Sila masih setia memantau hp nya. Keluar masuk aplikasi chat berharap orang yang saat ini menjadi kekasihnya memberi sebuah kabar. Melihat tanggal yang tertera, ternyata sudah selama itu Sila dan Roland tidak saling berkirim pesan. Sila memutuskan untuk mengirimkan pesan terlebih dahulu. "Sila : Sayang.... " 1 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit Setelah menunggu hampir 15 menit, hp Sila berbunyi menandakan ada pesan masuk diaplikasi chatnya. Tapi, saat Sila membukanya bukan Roland yang membalas pesannya, melainkan pesan dari salah satu sahabatnya digrup pribadi mereka berlima. "Tara : Coba tebak gue ketemu siapa? @Sila" pesan Tara dengan mengirim sebuah vidio. Setelah Sila membuka vidionya, mendadak tubuhnya menegang. . . . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN