Hari Untuk Pengantin Baru

1322 Kata
. . . . Alex masih diam, otak cerdasnya masih mencerna segala kata-kata Sila. Alex mulai mengingat perjanjian sebelum pernikahan mereka. Lebih tepatnya perjanjian yang Alex buat dan Sila hanya mengikuti tanpa menambahi. "Ayo kita hapus perjanjian itu." ucap Alex tiba tiba. Sila membuka matanya, badannya diputar menghadap kebelakang. Matanya menatap mata Alex dengan penuh pertanyaan. Kenapa?? Tiba-tiba saja?? Ada apa?? "Kenapa??? apa kau berubah fikiran?" tanya Sila. Alex mengangkat tubuh Sila dan mendudukkan dipangkuannya dengan wajah saling berhadapan. "Ku fikir pernikahan ini tidak seburuk yang ku khawatirkan kalau pasangannya adalah kamu. Menjalin hubungan dengan orang yang baru kita kenal apalagi untuk seumur hidup, banyak hal yang harus difikirkan dan dikhawatirkan. Jadi, aku membuat perjanjian sebelum pernikahan saat itu." Jelas Alex. "Sejak awal aku sudah heran saat kamu langsung setuju perjanjian itu tanpa koreksi atau menambahkan. Tapi, sekarang aku tahu, kamu bukan tipe cewek yang merepotkan." lanjut Alex dengan tangan yang sesekali mengelus rambut Sila dan punggung Sila. "Jadi, ayo kita mulai pernikahan ini sesuai alur yang tertulis takdir. Tapi, sekarang ini hatiku sedikit tidak terima dengan sesuatu hal." keluh Alex. Sila mengerutkan keningnya. "Apa itu??" tanya Sila. Alex menjatuhkan kepalanya dibahu Sila. "Saat ini aku seperti seorang selingkuhan." jawab Alex. Sila tersenyum dengan perlakuan dan pengakuan dari Alex. Dosennya ini jadi terlihat menggemaskan pikir Sila. Tangannya terulur mengusap pelan rambut Alex. "Lalu apa yang kamu inginkan pak dosen? Bukankah kamu sudah memiliki aku saat ini. Apa itu kurang?" tanya Sila. "Apa aku terlihat egois kalau ingin memiliki istriku sendirian?? hanya milikku hanya untukku." jawab Alex dengan mengecup leher Sila. "Aaahhhhhh....." Sila tidak dapat menahan desahannya saat bibir Alex menyentuh leher dan sekitarnya. Sila rasa pergulatan tadi malam akan berlanjut pagi ini. Apa sekarang masih bisa disebut pagi?? bahkan matahari sudah bergeser kearah barat. Tangan sila mengambil rambut belakang Alex, dengan pelan menjambaknya agar wajah Alex mendongak sehingga Sila bisa menatapnya. Jari jari lentiknya terulur menyusuri wajah dosennya. Mulai mata, hidung dan berhenti dibibirnya. Visualnya benar benar menyegarkan mata, pantas saja banyak mahasiswi yang menantikan mata kuliahnya. Bibir Alex terbuka, otomatis jari Sila masuk kedalam mulut Alex, Sila merasakan kehangatan mulai menjalar lewat jarinya. Lidah Alex mengulum jari Sila, matanya masih menatap mata Sila, ada yang berubah dari tatapan keduanya. Nafsu yang mulai membakar sekitar. "Apa dosenku ini termasuk dosen yang m***m?" tanya Sila yang mulai merasakan ketegangan dibagian bawah. Alex tersenyum tipis tanpa melepas jari Sila. Sila menggerakkan bokongnya berlahan tapi, cukup untuk menyiksa Alex. "Eeeggghhhhh.... " Alex memejamkan matanya mencoba menahan sesuatu yang mulai berontak. "Karena kemarin malam bapak sudah mengajari saya, maka hari ini biar saya yang memulainya, jadi tolong koreksinya bila ada yang kurang puas." ucap Sila dengan senyum menggoda. "Sh*t... dia benar benar membuatku gila." batin Alex. Tanpa aba aba Sila mengangkat bokongnya dan memasukkan barang Alex yang sudah menegang. Dengan mulut yang langsung melumat bibir Alex dengan kasar dan menuntut, menahan segala erangan yang akan keluar dari mulut mereka berdua. Sila menaik turunkan tubuhnya, sesekali menggoyangkan panggulnya, tangan yang dikalungkan dileher Alex dengan erat seolah menjadi pegangan agar penyatuan yang terjadi tidak terlepas. "Aaaahhhhh.... sh*t kamu mengagumkan istriku." umpat Alex. Mendenger umpatan Alex, semakin membuat Sila bersemangat. Rasa percaya dirinya semakin mendominasi. Tangan yang sedari tadi bertengger dileher Alex, dilepaskan begitu saja. Dengan nafsu yang menguasai diri Sila, Sila menggerakkan tangannya sendiri menuju dadanya. Dengan memberikan remasan dan menarik puncak d**a. Seolah sedang mencari kepuasan sendiri didepan Alex. Bukan hanya kepuasan untuk Sila, seolah apa yang dilakukannya sekarang, juga untuk merangsang Alex yang saat ini sedang menatapnya. "Eeehhhggggg.... aku hampir sampai pak." ucap Sila. Hingga diakhir pelepasannya Sila semakin gencar menggoda Alex, sehingga membuat Alex benar benar tidak bisa kalau hanya diam tanpa menggerakkan sesuatu. "Eeeeggghhhhhhh.... sh*t barang bapak bener bener membuat saya puas." Tangan Alex yang sedari tadi meremas kedua p****t Sila, membuat Sila semakin cepat mendapatkan klimaks. Sila menjatuhkan kepalanya dibahu Alex, dengan nafas yang terengah engah. Sila sadar barang Alex yang masih menancap diliangnya belum tertidur, tapi saat ini dia butuh beberapa menit untuk mengatur nafasnya. "Saya sudah sangat kecanduan dengan barang bapak. Jadi, pastikan barang bapak tidak keluar masuk ketempat lain. Mengerti??" ucap Sila dengan menatap Alex galak. Alex tersenyum miring mendengar ucapan atau peringatan yang diucapkan Sila. "Baiklah, aku mengerti baby. Jadi, kamu juga harus memastikan, kapanpun dan dimana kesayanganmu ini tegang, kamu harus siap memanjakannya." "Tentu saja dengan senang hati. Tidak akan aku biarkan wanita lain memanjakannya. Meskipun itu tangan anda sendiri bapak dosen." ucap Sila dengan mengecup leher Alex dan memberikan beberapa tanda kepemilikan. "Semuanya yang ada didiri anda sudah menjadi milikku, Sisilaina." Alex memejamkan matanya, menikmati apa yang saat ini Sila lakukan pada lehernya. Kata kata yang keluar dari mulut Sila penuh dengan peringatan dan keposesifan, dan Alex suka hal itu. . . . . Sila beranjak dari pangkuan Alex, menggeser tubuhnya untuk membelakangi Alex dengan posisi menungging. Alex menelan ludahnya kasar, pemandangan yang disuguhkan Sila mendadak membuat Alex menjadi kosong. Beberapa detik terlewati dengan posisi pandangan Alex tidak berubah. "Apa pak dosen tidak ingin mencobanya??" tanya Sila dengan suara menggoda dan menggoyangkan pantatnya, seolah sedang mengejek, menggoda dan memanggil Alex agar menikmatinya. Alex tersadar dari lamunannnya dengan cepat dia menahan pinggul Sila dan melumat intinya. "Aahhhggggg.... lebih dalam pak...." ucap Sila. "Sial*n, dia benar benar sangat ahli menggugah gairahku." batin Alex. Lidah yang bermain ditambah 1 jari Alex benar benar kombinasi yang sangat menggoda bagi Sila. Hingga tidak terlalu lama, Sila mendapatkan pelepasannya lagi. "Pak.... eggghhhhhh aku... keluar...." Alex mengeluarkan jarinya dan menjilatnya. Matanya masih setia menatap inti Sila yang mengeluarkan cairan. Lagi lagi senyum Alex terbit. Tidak membiarkan Sila bersantai lebih lama, Alex memposisikan senjatanya diinti Sila, dengan sekali dorongan semuanya inti Sila melahap semuanya. "Eeggggghhhhhh.... milik bapak membuatnya penuh." Ucap Sila. Alex tersenyum mendengar ucapan Sila. Matanya tidak bisa berpaling saat inti Sila melahap semua batang Alex. Alex benar benar menyukai pemandangan ini, ingin sekali merekamnya sayang dia tidak membawa hp. Dengan cepat Alex menggerakkan panggulnya. Sesekali tangannya meremas d**a Sila yang bergerak tak beraturan. Memilin dan mencubit puncaknya agar nafsu Sila semakin menggila dan bisa mengimbangi kegilaan Alex. "Enak baby???" tanya Alex disela hujamannya. "Eeghhhh... yesss.... enak banget... sial... ini bener bener nagih..." jawab Sila. "Kamu akan mendapatkan semuanya baby jadi, nikmatilah." "Sepertinya ini akan berlangsung sedikit lama... apa kamu kuat baby???" tanya Alex disela gerakannya. "Egghhhh.... mari kita coba." jawab Sila disela desahannya. "Sh*t..... saya suka jawabanmu." Setelah itu Sila mendapatkan orga*me nya. Sejenak berhenti untuk mengatur nafas. "Sejauh apa bapak bermain selama ini?" tanya Sila dengan menjilat jakun Alex yang sedari tadi terlihat menggoda. "Aaahhhhh.... lidahmu benar benar sialan." jawab Alex dengan tersenyum tipis. "Belum terlalu jauh, ini yang pertama." "Seriously?? untuk yang pertama kali, ini tidak terlalu buruk. Sekarang dimana lagi kita akan bermain?" tanya Sila dengan mengedipkan sebelah matanya. "Ah... aku sepertinya akan gila dengan tingkat keagresifan itu." ucap Alex dengan senyuman. Sila berdiri dari posisi terakhirnya yang menungging, tangannya mengarahkan tubuh Alex agar duduk dipinggir bathup yang cukup luas. Setelah cukup nyaman Sila mendudukkan tubuhnya dipangkuan Alex. "Eeegggghhhhh.... sial... ini terlalu nikmat kalau sekarang dipaksa berhenti." ucap Sila saat barang Alex dimasukkan keintinya. Alex semakin tersenyum mendengar ucapan Sila. Benar benar tipe wanita yang apa adanya dan blak-blakan. Setidaknya saat bersama Sila, Alex tidak perlu ilmu atau jurus pembaca pikiran. "Lalu, apa bapak terganggu dengan keagresifan sifat saya ini?" tanya Sila. "Tentu saja tidak. Saya menyukainya. Setidaknya nafsu saya tersalur diorang yang tepat, yaitu istri saya." Setelah menjawab pertanyaan Sila, Alex membungkam bibir Sila dengan kasar. Bahkan terkesan tidak sabar. Leher yang sudah penuh dengan tanda merah, sekarang semakin terkihat lebih jelas karena ditambah oleh Alex. Sila mulai menggerakkan bokongnya, menaik turukan tubuhnya dan sesekali memutar bokongnya. Alex benat benar puas dengan service Sila. "Ooohhhh... shit.... gerakkanmu benar benar memabukkan istriku. Katakan siapa yang mengajarimu???" tanya Alex dengan mata terpejam menikmati gerakan Sila. Tidak lupa tangannya meremas b****g Sila yang sintal. "Yang pasti ini adalah praktek yang pertama kali untukku." jawab Sila disela gerakannya. . . . . TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN