Traumatic Nose Bleed

1357 Kata
Kian kecil duduk di balik pintu dengan menekuk kakinya sampai d**a. Tangannya memeluk erat kedua lutut. Suara - suara itu lagi. Makian dan cacian. Juga suara pukulan. Tubuh Kian bergetar hebat. Ia ingin menolong Ibu. Tapi ia takut.        Selalu seperti ini setiap kali mereka bertengkar.       Kian tadinya asyik bermain di ruang keluarga. Saat Ayah dan Ibu datang, ia langsung berlari masuk kamar, menguncinya dari dalam. Dan seperti biasa, ia berakhir duduk sendirian di sini.        Dion tak ada di rumah. Anak itu mulai keranjingan bermain di luar. Karena menurut Dion, bermain di luar jauh lebih menyenangkan daripada di rumah. Rumah sangatlah menyeramkan bagi Dion. Pun demikian bagi Kian.        Tapi Kian tak punya pilihan lain. Kian belum bersekolah, dan jarang bersosialisasi dengan anak-anak tetangga. Tak seperti Dion yang supel, Kian terlalu pendiam. Mau keluar pun, ia bingung dengan tujuan. Kalau ikut Dion, pasti nanti ia ditinggal. Kaki - kaki Kian masih terlalu pendek untuk menyamai langkah sang kakak dan teman - temannya.       Kian kembali mendengar suara pukulan yang bertubi. Juga suara benda - benda yang dilempar. Kian ingin pergi. Tapi ia tak mau meninggalkan Ibu. Ia tak tega. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan di sana.       Air mata Kian mulai merembes menuruni pipi bulatnya.       "Ayah pasti masih berhubungan dengan wanita itu, kan?"  tanya Ibu di sela isak tangisnya.       "Kalau aku mengaku, apa kamu bakal lepasin aku?"  suara Ayah terdengar keras dan menyeramkan.       "Gimana nasib Dion dan Kian kalau Ayah pergi?"  isakkan Ibu semakin keras terdengar.        "Tentu aku akan bawa mereka berdua!"        Suara tamparan kembali terdengar. Kian benar - benar tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Apa yang membuat Ayah sangat marah? Sehingga Ayah sampai tega memukuli Ibu.       Kian merasakan sesuatu mengalir dari hidungnya. Darah. Sudah beberapa kali Kian mengalami mimisan seperti ini. Lebih tepatnya, setiap kali rasa takutnya telah mencapai batas.        Dengan cepat tangan - tangan kecil itu menghapus darahnya dengan kasar.        ~~~~~ TM : ROLL EGG - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~      Ayah dan Ibu seakan masih belum puas menghancurkan tatanan ruang tamu yang sebelumnya apik. Banyak barang pecah berserakan di mana - mana.         "Kenapa Ayah nggak pernah berubah? Apa Ibu sama sekali nggak punya tempat di hati Ayah?" Ibu terduduk di lantai, menahan rasa panas di pipi karena tamparan suaminya. Sekaligus rasa panas di hati yang seakan tak ada habisnya.        "Semua adalah salah kamu sendiri. Kenapa kamu setuju dengan perjodohan bodoh itu, hah?".       "Aku bisa apa? Kenapa Ayah membahas ini lagi? Sudah delapan tahun berlalu, Yah. Aku sudah terlalu lama diam. Aku cuman ingin dihargai barang sedikit!"        "Nggak bisa. Aku sudah terlanjur benci kamu, Hana! Sangat - sangat benci." Ayah mendengkus, kemudian melangkah cepat dari sana.        Ibu menelangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Ia hanya bisa pasrah, membiarkan suaminya pergi lagi. Terserah, asal mereka tidak berpisah.        ~~~~~ TM : ROLL EGG - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~.        Kian segera berdiri, memagut dirinya di depan cermin. Setelah memastikan tak ada darah yang tersisa, ia segera beranjak keluar untuk menemui Ibu. Kian memang tak pernah bilang pada siapa pun tentang mimisan itu. Ia takut akan semakin memperburuk suasana.         "Ibu!" suara kecilnya sedikit mengejutkan sang Ibu yang masih menangis di bawah pilar raksasa di ruang tamu.       Buru - buru Ibu menghapus air matanya, tak ingin terlihat lemah di depan anaknya.       "Kian!" Ibu segera mengulurkan kedua lengannya, sebuah bahasa tubuh, agar Kian memeluknya.        Kian tanpa ragu segera menubruk dan jatuh pada pelukan ibunya.       "Ayah kemana, Bu?"        "Ayah keluar, Sayang. Ayah capek, butuh udara segar.".        "Oh." Kian mengamati suasana sekitar. Di sini sungguh kacau. Dari mulai lampu hias, bantal sofa, sampai vas bunga, semuanya hancur berantakan.         "Ayah tadi nggak sengaja mecahin guci lagi, ya?" tanya Kian setelah melihat guci keramik di pojok ruangan juga pecah.       "Iya, Sayang. Ayah nggak sengaja." Ibu tersenyum seraya mengelus rambut hitam putranya. "Kian mau membantu Ibu beres - beres, kan?"       Kian tersenyum dan mengangguk cepat. Membuat sang Ibu merasa lega, sekaligus merasa bersalah dibuatnya. Ia yakin bahwa Kian pasti sangat tertekan.       Kian berbeda dengan Dion yang selalu mengatakan apapun yang ia rasakan. Kian tak pernah bilang apapun. Ia sangat tertutup. Ia hanya diam dan memperhatikan. Lalu terluka sendirian.        Sebenarnya Ibu juga tak ingin selalu bertengkar. Apalagi jika sampai dilihat oleh kedua buah hatinya. Tapi Ayah selalu datang mendadak dalam keadaan emosi. Pertengkaran tak pernah bisa dihindari.        Ibu tak sengaja melihat bercak kemerahan di kaos power ranger milik Kian. Sekilas ia menyangka itu hanya noda es krim coklat. Tapi sepertinya bukan. Tak hanya di kaos, noda itu juga ada di sepanjang lengan mungil Kian-nya, yang masih berusia lima tahun.        "Ini apa, Sayang?" tanya Ibu dengan sedikit tergesa. Ia berusaha mengontrol intonasinya, karena tak ingin menakuti Kian.        "Ini...." Wajah Kian terlihat gelisah. "Bukan apa - apa." Kian mengutuk kebodohannya sendiri. Tak seharusnya ia buru - buru keluar kamar. Sehingga sisa - sisa darah mimisannya masih tertinggal di sana - sini.        "Jangan bohong sama Ibu, Nak! Ini apa? Ini darah siapa?" tanya Ibu sekali lagi.          Tapi Kian tak menjawab. Ia hanya diam menunduk. Ia takut sekali. Apa ia harus jujur? Tapi Kian tak mau membuat Ibu khawatir.          ~~~~~ TM : ROLL EGG - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~        Dengan tergesa Ibu berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Kian terlihat gelisah dalam gendongannya.        Sambil menunggu nomor antrean di ruang tunggu, Kian mencengkeram lengan Ibu. Jujur, ia sedang membayangkan apa yang akan dilakukan dokter padanya nanti.       Anak - anak lain menangis keras setelah keluar dari ruangan itu. Apa Kian juga akan menangis nanti?       "Kenapa, Sayang?" Ibu bertanya seraya mengulum senyum terbaiknya. Bermaksud untuk menenangkan anak bungsunya.       "Bu, apa nanti Kian akan disuntik?"       Senyuman Ibu melebar melihat ekspresi Kian yang lucu. Anak ini sangatlah polos. Itu lah salah satu hal yang membuatnya bertahan sejauh ini. Karena kedua putranya, Kian dan Dion.       "Nggak kok. Kian nanti hanya diperiksa. Dan akan diberi obat kalau perlu."        "Tapi kenapa mereka nangis?" Kian menunjuk anak - anak lain yang masih menangis keras.       "Nggak apa - apa, Sayang. Mereka hanya terlalu takut. Kalau Kian takut, Kian juga boleh nangis."        Kia segera tersenyum dan menggeleng malu karena ucapan ibunya itu.       "Nomor antrean dua puluh tiga!" seru seorang perawat yang baru saja membuka pintu ruang Poli Anak.       Seorang Dokter Muda menyambut kedatangan Ibu dan Kian. "Silakan!" ucapnya ramah.               Ibu mengangguk lalu segera duduk di kursi yang disediakan. Perlahan Ibu menjelaskan semua yang terjadi, berdasarkan penjelasan putranya di rumah tadi. Dulu Ibu kuliah di jurusan Psikologi. Jadi, sedikit banyak ia bisa menyimpulkan tentang kondisi yang dialami Kian.        Dokter itu mendengar dengan tenang sambil sesekali mengangguk. Selesai, ia segera memeriksa Kian. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya, agar pasien kecilnya tidak takut.       "Ini permen buat Adek yang pinter!" Dokter itu menyerahkan sebuah permen lolipop berukuran jumbo pada Kian.        "Woah!" mata Kian berbinar senang. Dengan cepat ia meraih permen warna - warni itu.         Ibu terkikik pelan melihat reaksi Kian. "Bilang apa sama Bu Dokter?"          "Terimakasih, Bu Dokter!" ucapnya.       "Sama - sama, Adek Pinter!"         Kian menyodorkan permen itu pada sang Ibu. Sebuah permintaan tolong untuk membukakan plastik pembungkus permen itu. Sambil menjilat - jilat permennya, Kian mendengarkan pembicaraan Ibu dengan Bu Dokter yang baik.        "Jadi semacam sebuah trauma. Saat ia sudah mencapai klimaks ketakutannya, maka darah itu akan keluar.".        "Lalu bagaimana solusinya? Apa ada efek buruk jangka panjang?"       "Selama mimisannya tidak parah, maka tidak apa - apa. Tapi jika mimisan itu terjadi terus - menerus, tentu hal itu akan sangat berbahaya. Juga tentang efek psikologisnya. Kalau bisa, usahakan untuk sering melibatkan Kian dalam hal - hal yang menyenangkan, agar ia tidak terlalu terguncang.".                   ~~~~~ TM : ROLL EGG - Sheilanda Khoirunnisa ~~~~~          -- T B C --       
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN