Dengan langkah lunglai pria itu menaiki tangga rumahnya setelah memarkirkan mobil bututnya di bawah pohon mangga di depan rumah. Sebuah koper besar berwarna hitam ia bawa di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menggenggam kunci mobil barunya, yang meski pada kenyataanya itu bukan mobil baru. Meski ia mendapatkan banyak dari sang ayah, tetapi bukan itu yang ia inginkan. Karena sesungguhnya, ia ingin merampungkan proyek yang ia rintis dari nol dan kini gara-gara mamanya semua impiannya tidak bisa ia lanjutkan. “Tuan!’ Arya tersentak dari lamunannya saat gadis kesayangannya memanggil. Pria itu menoleh, mendapati sosok polos itu tengah menjemur pakaian di samping rumah. Kerudung gadis itu tampak basah, pun dengan bagian depan tubuhnya basah oleh tetesan air dari kain jemuran. Arya mel

