Pergi ke Kota

1218 Kata
Angin semilir berhembus sejuk, menerbangkan anak rambut gadis manis itu. Membuat rambut Lovi menari-nari ke udara. Gadis itu semakin terlihat manis dan cantik dengan segala kepolosannya. Sesekali Adrian yang pura-pura sibuk dengan layang-layangnya mencuri pandang ke arah gadis itu. Menikmati keindahan ciptaan Tuhan yang begitu cantik dan menawan. Dan tanpa Lovi sadari, Adrian tersenyum-senyum sendiri. Matahari yang bersinar terik tak menghalangi niatnya untuk bermain layang-layang dengan sahabatnya, Adrian. Lelaki yang sebenarnya Lovi sukai. Bahkan mungkin ia cintai. Benar, gadis itu rela berpanas-panasan karena ingin berbicara pada Adrian. Ia meluangkan waktu karena ingin berpamitan sebelum pergi ke kota besar untuk bekerja. Karena ia tak pernah bisa merahasiakan apa pun dari pria itu. "Dri, aku mau ngomong sesuatu," ucap Lovi sembari menatap layang-layang Adrian yang mengangkasa. "Hah? Apa itu?" tanya Adrian tanpa menoleh. Lelaki tampan itu sibuk menarik ulur benang layangannya. "Ck! Bisakah Kamu mendengarkanku sebentar, Dri?" tanya Lovi kesal karena Adrian lebih sibuk dengan benda yang semakin terbang bebas itu. "Iya, Vi. Bicara saja, aku akan mendengarkanmu." "Dri, besok aku harus pergi." Perkataan Lovi akhirnya membuat Adrian menghentikan kegiatannya. Seolah layang-layang itu sudah tidak menarik lagi untuknya. Kini, pandangan pemuda itu beralih ke arah Lovi yang terlihat murung. "Suf! Ambil ini. Pegangkan layang-layang Kakak." Adrian melemparkan gulungan benang ke arah seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. "Siap, Bos!" ucap bocah itu dengan mata berbinar. Yusuf senang karena bisa memegang tali benang layang-layang Adrian. "Vi, jangan bercanda! Memangnya gadis jelek sepertimu mau ke mana?" Adrian mencubit hidung Lovi hingga gadis itu menjerit kesakitan. "Aw! Aku tidak bercanda Dri. Aku harus ke ibu kota untuk menjadi asisten rumah tangga. Untuk biaya operasi ibukku," jawab gadis itu dengan perasaan yang sangat sedih. "Bisakah kalau Kamu tetap tinggal dan tidak pergi?" tanya Adrian sembari memainkan bunga ilalang. Lovi pun menggeleng. "Em begini, Kamu bisa pinjam uang kepada ayahku, Vi," bujuk Adrian. Lovi menggelengkan kepala dan tersenyum kecut. "Ini bukan jumlah yang sedikit, Dri. Aku tidak mau menyusahkan orang lain," tolak gadis itu. "Aku bukan orang lain, Vi. Kamu bisa membayarnya sedikit demi sedikit. Atau bisa juga dengan bekerja di rumah kami." "Terima kasih, Dri. Tapi aku sudah terlanjur mengiyakan permintaan Bapak untuk bekerja di kota." Lovi menolak karena ia tahu bahwa ayah Adrian tidak akan menyukainya. Ia juga tidak ingin merepotkan sahabatnya itu. "Vi, apa Kamu tega membiarkan aku sendiri di sini?" tanya Adrian sedih. "Ada Nindi yang selalu di sampingmu, Dri," ucap Lovi dengan hati yang terasa sakit. Ia sadar bahwa ia mempunyai perasaan kepada sahabatnya itu. Lovi juga merasa cemburu setiap kali menyebut nama Nindi. "Ck! Aku maunya Kamu Vi. Apa Kamu tidak pernah menyadari perasaanku padamu? Aku mencintaimu, Vi. Ayo menikah denganku. Nanti aku yang akan menanggung semua biaya rumah sakit ibumu." Adrian mengungkapkan perasaannya secara tiba-tiba. "Maaf, Dri. Aku hanya menganggap Kamu sahabat, tidak lebih. Selamanya akan begitu. Lagipula kita masih di sangat muda. Masih sangat jauh angan tentang pernikahan." Ada rasa yang sangat sakit di hatinya ketika ia menolak Adrian, lelaki yang sebenarnya sangat ia cintai. Lovi mengingkari perasaannya untuk Adrian, karena selamanya mereka tidak akan mungkin bersatu. Terlalu banyak perbedaan antara dirinya dan Adrian. "Benarkah Kamu tidak mempunyai perasaan lebih padaku?" Lovi yang berbohong terpaksa mengangguk. Adrian kecewa karena ia salah sangka, ia mengira Lovi mempunyai perasaan yang sama untuknya. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Tapi aku tak akan menyerah. Aku akan menunggumu kembali hingga siap menikah denganku," ucap Adrian keras kepala. "Jangan tunggu aku, Dri. Aku tidak tahu seberapa lama bisa membayar hutang puluhan juta itu. Jadi aku tidak tahu kapan akan kembali ke kampung kita ini," ucap Lovi. "Jangan larang aku untuk menunggumu. Karena aku akan tetap menunggumu sampai kamu kembali." Pria itu tetap tidak mau menyerah dan masih juga keras kepala. "...." Lovi tak dapat berkata-kata lagi. "Suf gulung benangnya dan kemarikan layang-layangnya." "Baik Kak." Yusuf segera menggulung benang dan menyerahkan layang-layang pada Adrian. Adrian mengambil sebuah spidol. Menuliskan namanya dan nama Lovi. "Pegangkan Vi. Mari kita naikkan. Nama kita akan terbang bebas di atas sana. Begitu juga dengan cintaku untukmu. Aku akan menunggumu sampai kapan pun," ucap Adrian dengan nada sedih. Tanpa terasa setitik air mata menetes di pipi Lovi. Gadis itu memegangkan layang-layang dengan hati yang hancur. *** "Pak, apa boleh Lovi pamit dulu sama Ibuk?" tanya Lovi. Gadis itu sangat berat meninggalkan semua yang ada di kampung itu, terutama ibunya. "Tidak boleh. Kamu sudah gila? Mau kondisi ibukmu memburuk lagi?" tanya Hermanto kasar. Lovi menggeleng cepat. "Ya sudah, Lovi lihat ibu dari pintu saja Pak. Sebentar saja. Lovi mohon," ucap gadis itu memohon. "Hah, baiklah. Cepat!" Akhirnya Hermanto mengizinkan Lovi melihat ibunya. Selamat tinggal, Buk. Lovi akan pergi cari uang untuk Ibuk. Ibuk harus sehat. Cepat sembuh, Buk. Lovi sayang Ibuk. Ibuk harus sembuh bagaimanapun caranya, batin gadis itu sedih. Tanpa terasa air mata membasahi wajahnya lagi. "Sudah, ayo! Biarkan ibukmu istirahat. Kita harus segera pergi atau bus yang kita naiki akan terlewat," ucap Hermanto setengah berbisik karena takut didengar oleh Ira. Lovi mengangguk dan meninggalkan ibunya dengan berat hati. Sungguh gadis itu sebenarnya tak ingin pergi meninggalkan ibunya. Dengan menggunakan jasa ojek Lovi yang ditemani Hermanto, menuju ke terminal. Sepanjang perjalanan Lovi menangis. Belum juga ia meninggalkan kampung halamannya, ia sudah rindu pada ibunya. Bahkan kepergiaannya sama sekali tidak ia inginkan. Setelah dua puluh menit motor melaju, akhirnya mereka sampai di terminal. "Ayo cepat bawa tas Kamu. Itu bus kita." Lovi mengangguk dan mengikuti langkah Hermanto. "Vi! Lovi!" Adrian yang menyusul dengan motornya mengejar Lovi dengan tergesa. Lovi dan Hermanto menghentikan langkah mereka ketika melihat kedatangan Adrian. "Vi, bisakah Kamu tidak pergi?" tanya Adrian setelah mereka berhadapan. Lovi tersenyum dan menggeleng. "Vi, demi aku ...." "Tidak bisa, Dri," tolak gadis itu. "Vi, ayo! Itu bus kita," ucap Hermanto kesal. Ia menatap Adrian dengan tatapan tak suka. "Iya, Pak," jawab Lovi segera. "Dri, aku harus pergi," pamit Lovi. "Aku akan menunggumu, Vi," ucap Adrian dengan keras kepala. "Tidak! Jangan tunggu aku," teriak Lovi yang sudah berdiri di pintu masuk bus. "Aku akan tetap menunggumu, Vi. Ingat! Aku akan menunggumu." Adrian melambaikan tangan, melepas kepergian Lovi. Lovi mengabaikan Adrian, atau ia akan lemah karena rasa cintanya pada lelaki tampan itu. Ia harus mementingkan kepentingan ibunya di atas segalanya. Akhirnya bus yang Lovi tumpangi. meninggalkan kota kecil itu bersamaan dengan harapan gadis itu. *** Suara dentuman musik memekakkan telinga. Ruangan gelap itu dipenuhi dengan kepulan asap rokok di mana-mana. Membuat Lovi kesulitan untuk bernapas. Di sana-sini terlihat banyak orang yang menggerakkan tubuh mengikut irama musik DJ yang terputar. Kebanyakan mereka menari berpasangan. "Pak, kita mau ke mana ini?" tanya Lovi menguatkan suaranya karena terlalu bising. "Berisik tahu tidak. Coba menurut saja," ucap Hermanto sedikit berteriak. Karena dirinya juga kurang bisa mendengar dengan baik. "Tapi sepertinya ini bukan tempat yang cocok untuk anak desa seperti Lovi, Pak," protes gadis itu. Ia benar-benar tidak nyaman berada di tempat seperti itu. "Tenanglah, Vi. Bapak ada keperluan sedikit dengan teman Bapak yang ada di sana. Kamu tunggu sebentar di sini. Baru setelah itu kita pergi bersama-sama," bujuk Hermanto. "Pak, Lovi takut. Lovi tunggu di luar saja ya?" Entah mengapa perasaan Lovi begitu gelisah. Ia tak nyaman dengan suasana di tempat itu. "Ini bukan seperti di desa, Vi. Di luar bahaya, kalau Kamu sampai dirampok bagaimana? Apalagi ini sudah larut malam." Ucapan Hermanto membuat nyali Lovi menciut seketika. Akhirnya gadis itu hanya bisa terdiam dan menuruti ayah tirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN